Tantangan Anak Ustadz

Tantangan Anak Ustadz
Rizki


__ADS_3

“Ya, ama juga mengijinkan kalian untuk pergi lusa! Di Najmudiidn mau berapa hari?” tanya kang Hatim.


“Mau berapa hari Nadh?” mendapat pertanyaan dari kang Hatim, Royyan malah bertanya lagi pada Nadhiirah.


“Terserah kang Royyan aja!” jawab Nadhiirah.


“Seminggu cukup gak?”


“Gak kelamaan kalau seminggu? Dua hari juga cukup kok! Kita langsung saja ke baitul Qu’an!” jawab Nadhiirah.


“Beneran?” tanya Royyan.


“Iya kang!”


“ya sudah, kalau dua hari gimana ama?”


“Ama terserah kalian! Kalian yang meu menjani!”

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, lusa, kami akan berangkat ke Najmuddin! Dua hari di najmuddin, langsung berangkat ke baitul qur’an!” kata Royyan.


“Hm! Bagus kalian sudah bisa mengambil keputusan! Menandakan kalian sudah dewasa! Semoga tambah dewasa!” kata kang Hatim.


“aamiin ama! Doakan kami selalu ya ama!”


“pasti!”


“Nadh, kamu ke kamar duluan ya! Istirahat! Akang ada yang dibicarakan dulu sama ama!” kata Royyan.


“Aku juga mau tidur ah!” kata Athiifah dengan gak semangat bahkan dengan lemah mungkin karena sedih, dia langsung pergi menuju kamarnya.


“istirahat lah nak! Jangan sampai karena kamu menikah dengan Royyan, kamu jadi kurang tidur yang mengakibatkan kamu sakit ya! Jaga kesehatan kamu!’’ kata Umma Hana.


“baik umma! Nadhiirah permisi dulu!” ucap Nadhiirah yang kemudian berdiri dan pergi setelah mendapat persetujuan.


“Ada apa Yan? Lain kali kamu gak boleh seperti ini!” tanya kang Hatim.

__ADS_1


“Gimana ama?”


“kamu dan Nadhiirah itu suami istri! Kamu tadi menyuruh istrimu untuk ke kamar duluan karena kamu ingin bicara sama ama, menunjukkan kamu akan membicarakan rahasia yang tidak boleh istrimu tahu! Memang kalian masih punya privasi masing masing, tapi kalau seperti tadi, kamu seolah tidak sopan! Kamu seolah olah tidak ingin istrimu tahu ada apa di antara kita!” jelas kang Hatim.


“ooh iya ama! Sebenarnya Royyan juga merasa tidak enak, tapi Royyan malu kalau harus bicara ini di depan Nadhiirah!”


“Emangnya apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya kang Hatim.


“Ini ama, ama kan tau sendiri Royyan itu belum kerja apa apa! Belum punya penghasilan! Sedangkan lusa Royyan mau ke najmudiin, kemudian lusa nya lagi mau berangkat ke baitul qur’an! Royyan gak punya uang! Ada sih, uang dari kang Izul, waktu Royyan isi acara dengannya! Sampai sini ama ngerti kan? Hheh!” Royyan menjelaskan apa yang ingin dia bicarakan dengan di akhiri dengan cengengesan karena ada malu tersendiri.


“Oalah ternyata masalah itu?!” umma Hana tertawa mendengar pernyataan Royyan.


“Yan! Nadhiirah itu manusi! Yang mana, setiap manusia, setiap makhluq yang Allah ciptakan, sudah lengkap dengan rizqi, jodoh, umur dan yang lainnya sudah Allah ciptakan! Kamu sendiri sudah Allah beri rizki, kamu punya rizki walaupun mungkin belum ketemu, nadhiirah juga sama! Rizki mu dan rizki nadhiirah di satukan dalam ikatan rumah tangga, otomatis rizki kamu akan semakin banyak dengan adanya pernikahan! Kamu gak perlu khawatir apapun dengan masalah itu! Nanti akan menyusulmu! Sekarang, pegang ini!” Kang Hatim mengeluarkan kartu ATM dari dalam tas kecil yang selalu dia bawa bawa dan memberikannya pada Royyan.”Isinya, ada sekitar lima puluh juta! PIN nya tanggal lahir kamu! Gunakan itu semanfaat mungkin!!” Royyan langsung menerima kartu itu dengan senang hati.


“Apa tidak apa apa ama, bagaimana dengan adik adikku?” tanya Royyan.


“tenang aja! Semua anak anak ama, sudah di siapkan! Akan diberikan saat sudah waktunya nanti!”

__ADS_1


__ADS_2