Tantangan Anak Ustadz

Tantangan Anak Ustadz
Qobiltu


__ADS_3

Hampir semua anggota keluarga sudah berkumpul di mesjid jami Al-Kasturi ingin menyaksikan ritual yang sakral, acara yang suci. Nikah, ya itu adalah kata yang mudah di ucapkan namun sulit untuk di laksanakan. Memang nikah itu bukan hal yang gampang, banyak rintangan di dalamnya. Bagai berlayar di tengah samudera, pasti akan ada ombak, badai, yang pasti menggoncang perahu yang sedang di pakai berlayar, namun pasti sang nakoda, sang nelayan, akan berusaha agar bisa brusaha melewati tantangan itu. Brgitu juga dalam rumah tangga, pasti akan ada tantangan, cobaan, ekonomi, materi, salah faham dan sebagainya. Tapi suami yang berlaku sebagai nakoda dan istri sebagai penumpangnya. Harus bisa mengendalikan perahu rumah tangga itu supaya bisa berlayar dengan lancar, bisa melewati semua tantangan.


Sebelum dilaksanakan ijab qobul, kyai Munaya, selaku ayah dari ning Nadiva membacakan khutbah nikah menjalankan sunnah Rosulullah. Yang mana khutbah nikah itu sendiri mengandung pepatah khusus untuk kedua mempelai.


Setelah selesai membacakan khutbah nikah, kyai Munaya kembali duduk berhadapan dengan Zhaffar, dengan di samping kanannya ada petugas dari KUA, kemudian ada juga Ustadz Latif, salah satu pengurus di Taisirul kholaq yang akan menjadi saksi dari pihak ning Nadiva, dan ada kang Roni yang menjadi saksi dari pihak Zhaffar.


“Kita mulai saja ya kyai?” tanya petugas KUA itu.


“Iya, kita mulai saja! Sudah siap kan Zhaffar?” tanya kyai Munaya.

__ADS_1


“InsyaAllah siap kyai!” jawab Zhaffar dengan sedikit agak tegas walaupun dengan pandangan yang tertunduk hormat.


“Baiklah, mari kita mulai dengan membaca istighfar, sholawat kemudian syahadat bersama sama!” kata sang petugas KUA. Mereka semua pun melakukan sesuai apa yang di katakan oleh petugas KUA itu.


Setelah selesai membaca istighfar, sholawat dan Syahadat, Kyai Munaya menautkan tangannya dengan Zhaffar dan siap melakukan ijab dan qobul. Dan hal itu berhasil membuat Zhaffar semakin gugup. Jantungnya berdetak kencang.


“Ankahtuka wajawaztuka makhtubataka ibnati Siti Nadiva Karomah al-Munaya, bimahri khomsati wa ‘isriina ghirooman minadzahabi wa qiroatul kutub tafsir jalalain haalan!” kata kyai Munaya dengan santai namun ada sedikit tekanan pada lafadz ‘haalam’ dengan sedikit hentakan pada tangannya pada tangan Zhaffar.


“Gimana saksi?” tanya petugas KUA sambil melirik ke arah kedua saksi, yaitu Ustadz Latif dan kang Roni.

__ADS_1


“Syah!” jawab ustadz Latif.


“Syah!” jawab kang Roni saat dilirik oleh petugas KUA.


“Alhamdulillah! Siapa yang akan mimpin do’a?” tanya petugas KUA.


“kyai Hatim aja! Tafdhol besan!” kata kyai Munaya. Tanpa menolak ucapan kyai Munaya, kang Hatim langsung maju mengambil mic yang diberikan oleh petugas KUA dan langsung memimpin do’a.


“Allaumma sholli wasallaim wabaarik aamiin ya robbal ‘aalamiin, bismillahir rohomaanir rohiim, alhamdulillahi robbil ‘aalamiin, washolaatu wassalaamu ‘alaa sayyidil mursaliin, sayyidinaa wamaulaanaa muhammadiw wa’ala aalihi washohbihi ajma’iin. Allohumma bifadlika ‘ummanaa wabiluthfika huffanaa waj’al haajal ‘aqdu mubaarokam ma’shuumamaw wa alqi bainahumaa ulfatab waqorooron daaimaw walaataj’al bainahumaa furqotan wafiroorow wakhishoomaa wakfihimaa mu’natad dunyaa Wl akhiroh. Washolallahu ‘alaa sayyidinaa muhammadiw wa ‘ala aalihi wasohbihi wasallama walhamdulillahi robbil ‘aalamiin! Alfaatihah!” kang Hatim selesai membacakan memimpin membaca do’a untuk khusu Zhaffar putranya dan ning Nadiva yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya.

__ADS_1



*ini lafadz arab do'a yang di bacakang kang Hatim yaa, di salin dari kitab Assilaah fii bayaaninnikah


__ADS_2