
Jam menunjukkan pukul dua puluh nol nol, yang artinya pukul delapan malam. Kang Hatim dan keluarga baru sampai di pelataran pesantren Baitussalam Tsani. Perjalanan agak macet sehingga memperlambat perjalanan kang Hatim. Berangkat pulang dari pesantren Taisirul Kholaq tadi adalah setelah ashar, dan baru sampai sekarang. Hampir lima jam menempuh perjalanan mengakibatkan munculnya rasa lelah pada semua orang.
Kang Hatim, Umma Hana, Royyan, Nadhiirah, Athiifah kecuali Ulfah, sesampainya di rumah, mereka kumpul di ruang keluarga. Sedangkan Ulfah sudah ditidurkan di kamar oleh umma Hana karena di perjalanan tadi pun dia sudahj tidur.
“Alhamdulillah ya, gak kerasa adik kamu Yan, sudah nikah!” kata kang Hatim membuka obrolan.
“Alhamdulillah ama, memang rencana Allah itu sangat indah! Memang benar kita tidak tahu satu detikpun yang akan datang akan bagaimana! Aku sangat sangat tidak menyangka Zhaffar akan menikah secepat ini!” Royyan menanggapi kalimat ama nya.
“Siapapun tidak akan ada yang menyangka Yan!” tambah umma Hana.
“Emm, Ama, Umma! Ada yang mau Royyan bicarakan juga!” kata Royyan.
“Apa Yan? Apa kamu juga ada masalah?” tanya kang Hatim namun dengan santai.
“Alhamdulillah Royyan tidak punya masalah apa apa ama!” jawab Royyan yang disusul dengan cengengesannya.
__ADS_1
“Mau bicarakan apa nak? Kalau ada apa apa, omongin ya! Jangan di pendem! Curhat!” kata umma Hana.
“Euh ini umma! Sesuai rencana awal kita, ya sebenarnya rencana ama sama umma sih, hheh!” jawab Royyan.
“Apa Yan?” tanya kang Hatim.
“Begini ama, Royyan mau ke Najmuddin! Setelah dari Najmuddin, mau menjalankan amanat ama sama umma, menjaga pesantren Tahfidz Baitul Qur’an di kota! Ini sudah Royyan bicarakan sama Nadhiirah!” ujar Royyan.
“Ooooh iya iya! Mau kapan berangkatnya?” tanya kang Hatim.
“Yaaaaaah kalau kang Royyan sama kak Nadhiirah pergi, Athiifah sendiri lagi dong! Nanti aja atuh kang perginya! Kak Nadhiirah, gak papa kan kalau kalian lebih lama disini?” Athiifah langsung cemberut mendengar pernyataan Royyan dan langsung mengajukan usulan. Nadhiirah hanya tersenyum menanggapi pertanyaan yang di ajukan Athiifah adik iparnya.
“Kakak ikut sama kang Royyan!” jawab Nadhiirah.
“kang! Izinin kak Nadhiirah disini atuh ya! Plissssssss!” kata Nadhiirah.
__ADS_1
“Gak bisa! Lagian kan kamu sudah biasa di tinggal sendiri! Ada Ulfah juga!” jawab Royyan.
“kalau kalian gak mau lebih lama, aku aja yang ikut kalian pergi!” ujar Athiifah.
“Yeh, gak mau lah! Lagian kan kamu disini kuliah! Kamu juga harus ngaji!” kata Royyan.
“gampang! Tinggal pindah universitas saja! Ngaji, kan bisa sama kang Royyan juga! Iya kan?” Athiifah kekeh.
“Gak bisa Athiifah, kamu lebih baik disini, temenin umma sama ama! Emangnya kamu gak kesian ningglin umma sama ama?” tanya Royyan yang membuat Nadhiirah diam dengan menunduk sedih.
“Umma, gimana?” tanya kang Hatim.
“Yaaa sebenarnya umma juga gak mau ditinggalkan kalian secepat ini! Tapi bagaimana lagi, ummma yang beri kamu kewajiban untuk mengurus pesantren tahfidz itu, yang otomatis itu mejadi kewajiban kalian! Umma mengizinkan kalian untun pergi lusa! Tapi, seminggu sekali kalian harus pulang! Seminggu ke sini, seminggu ke najmuddin! Jadi kalian pulang ke sini dua minggu sekali!” ucap umma Hana.
“Baik umma! insyaAllah!” jawab Royyan.
__ADS_1
“Ya, ama juga mengijinkan kalian untuk pergi lusa! Di Najmudiidn mau berapa hari?” tanya kang Hatim.