Tantangan Anak Ustadz

Tantangan Anak Ustadz
Tanggung jawab


__ADS_3

Setelah selesai acara ijab qobul berlangsung, sekarang adalah acara yang tak kalah ditunggu tunggunya. Yaitu pertemuan antara pengantin perempuan dan pengantin laki laki, yaitu Gus Muhammad Muzhaffar Alfarizqi Hatim Abdurahman, ya kini setelah orang orang pesantren Taisirul Kholaq tahu bahwa Zhaffar putra dari kang Hatim, maka Zhaffar langsung di panggil “Gus”. Ning Siti Nadiva Karomah Al-Munaya di bawa masuk ke dalam mesjid oleh istri Gus Syaufi. Semua orang langsung mengalihkan tatapan nya ke arah sang pengantin wanita, yang memakai baju syar’i putih panjang. Menampakkan wajah putih mulus cantik nya yang tidak tertutup cadar.


Ning Nadiva di persilahkan duduk di belakang Zhaffar.


“Gus Zhaffar! Dengarkan abah ya nak! Lewat ijab qobul yang barusan kita lakukan, abah bukan hanya memberikah diri Nadiva saja! Abah menyerahkan semuanya padamu! Sekarang Nadiva istrimu! Tanggung jawabmu! Makmum mu! Tanggung jawabmu! Semuanya! Dzohirnya, seperti makannya, pakaiannya, tempat tinggalnya semuanya! Juga bathinnya! Kamu bawa Nadiva ke jalan yang benar! Kamu harus bisa membawanya ke surga! Isi ilmunya, isi ibadahnya! Jaga dia dengan baik nak! Sekali lagi! Abah serahkan semua tanggung jawab abah selaku orang tua dari Nadiva!” Kyai Munaya agak menekan kalimat terakhirnya.


“Qobiltu kyai! Saya akan bertanggung jawab terhadap istri saya! Saya akan berusaha semampu saya! Terimakasih sudah mempercayakannya kepada saya!” jawab Zhaffar dengan yakin.


“Abah percaya sama kamu! Oleh karena itu, kamu jangan sampai sia siakan kepercayaan abah!”

__ADS_1


“Na’am kyai! Syukron, insyaAllah!” jawab Zhaffar.


“Ustadz Hatim!” kata kyai Munaya. Kang Hatim yang sedang menunduk mendengarkan, langsung mengangkat kepala dengan segera.


“Labaik kyai!” tanggap kang Hatim.


“Ustadz, ana benar benar berterimakasih sudah merestui putra panjenengan menikah dengan putri hamba! Ana sangat beruntung bisa berbesan dengan panjenengan! Tapi ustadz, ana selaku orang tua Nadiva, selain ingin menitipkan Nadiva pada suaminya, ana juga ingin menitipkan putri ana pada panjenengan ustadz, selaku mertuanya! Orang tua gus Zhaffar yang kini sudah resmi menjadi suami Nadiva yang berarti sampean juga orang tua Nadiva! Jaga Nadiva ustadz! Tolong isikan ilmu nya! Didikan dia Ustadz!” kata kyai Munaya.


“Syukron katsiron ustadz! Syukron!”

__ADS_1


“Aidhon kyai!”


“Nadiva sayang, putri abah! Dengarkan abah ya nak! Tadi kamu dengar sendiri abah sudah melepas tanggung jawab abah dan memberikan tanggung jawab itu pada gus Zhaffar yang beberapa menit yang lalu sudah syah menjadi suamimu! Ingat! Surganya seorag istri, ada pada suaminya! Jadikan suamimu imam! Jadikan suamimu pimpinan! Jadikan suamimu panutan! Jangan pernah menyakiti hatinya! Jangan pernah tidak sejalur dengannya! Jangan pernah menantangnya! Jika ada masalah diskusikan, obrolkan bersama dengan kepala dingin! Jangan gunakan nafsu menjadi pondasi rumah tangga kalian!” kata Kyai Munaya. Ning Nadiva hanya menganggung sambil mengelap selalu air matanya yang selalu menetes membasahi pipinya.


“Jalankan kewajibanmu sebagai seorang istri dengan baik! Jangan kecewakan suamimu!” kata kyai Munaya.


“Gus Zhaffar!”


“Iya kyai?”

__ADS_1


“Sampean sudah gak sabar kan ingin melihat istrimu?” tanya kyai Munaya.


__ADS_2