
Sesampainya di rumah kyai Hamzah, Nadhiirah sangat disambut ramah oleh Nafiisah sang kakak tersayang. Nadhiirah langsung berhambur ke pelukan kakaknya melepas rindu. Sedangkan Royyan langsung bersalaman dengan Nabhan, suami Nafiisah, kakak Ipar Nadhiirah. Royyan dan Nabhan berebut ingin saling mencium tangan. Namun dua duanya tidak mau, Royyan tidak mau tangannya di cium Nabhan, sebaliknya, Nabhan juga tidak ingin tangannya di cium oleh Royyan.
“Kenapa kamu baru kesini sih Nadh!?” tanya Nafiisah.
“Hheh maaf kak! Bukan gak mau, tapi kemarin kemarin kang Royyan ada urusan dulu!” jawab Nadhiirah.
“Iya kak, kemarin kemarin saya ada masalah keluarga! Adik saya bikin masalah di pesantrennya!” sambung Royyan ikut menjelaskan.
“Ooh ya sudah gak papa! Yang penting sekarang kalian sudah kesini! Kakak kangen sama kamu Nadh!” kata Nafiisah yang lagi lagi memeluk adik kesayangannya.
“Aku juga kangen sama kakak!” jawab Nadhiirah.
“Abah ke mana mas?” tanya Royyan.
“Ada di kamar!” jawab Nabhan.
“Apa abah sakit?” tanya Nadhiirah yang mendengar jawaban kakak iparnya.
“Ibu yang sakit Nadh! Abah alhamdulillah sehat!” jawab Nafiisah.
“Innalillah, aku mau lihat ibu dulu kak!” kata Nadhiirah.
“ayo kakak antar!” kata Nafiisah.
__ADS_1
“Gak usah kak! Aku sama kang Royyan aja! Mau kan kang?” tanya Nadhiirah.
“Iya mau Nadh! Ayo!” jawab Royyan.
“Ya sudah, aku menemui ibu sama abah dulu!”
“Ya sudah! Kakak tunggu disini ya!”
Nadhiirah pun mengajak Royyan untuk pergi ke kamar abah nya. Yaitu kyai Hamzah sekalian menemui orang tua nya.
“Assalaamu’alaikum!” kata Nadhiirah sambil mengetuk pintu kamar abahnya.
“Wa’alaikumussalaam! Masuk!” sahut kyai Hamzah dari dalam kamar. Nadhiirah pun dengan perlahan membuka pintu kamar abahnya.
“Apa kabar Yan?” tanya kyai Hamzah sambil tangannya mengelus elus kepala Nadhiirah yang masih menangis.
“Alhamdulillah baik abah! Abah gimana?” jawab dan Royyan bertanya balik.
“Alhamdulillah abah juga baik! Ustadz hatim, dan keluarga gimana? Sehat juga?”
“Alhamdulillah, ama, umma, dan seluruh keluarga baitussalam sehat abah!” jawab Royyan.
“Alhamdulillah kalau gitu! Afwan abah belum bisa silaturrahmi ke sana! Sebab ibu mu sering sakit sakitan!” ucap kyai Hamzah.
__ADS_1
“Na’am abah, tidak papa!” balas Royyan.
“Nadh, kamu sehat nak?” tanya kyai Hamzah sambil membangunkan Nadhiirah dari sujudnya.
“Aku sehat abah! Maafkan Nadhiirah baru ke sini sekarang!” jawab Nadhiirah.
“Alhamdulillah kalau kamu sehat nak! Gak papa kok! Abah ngerti! Sekarang kamu sudah punya suami! Sudah sepantasnya dan seharusnya kamu harus ikut turut tumut pada suamimu! Gimana, perutmu sudah ada isinya belum? Abah ingin punya cucu!”
“Ah abah!”
“Abah nanya serius Nadh!”
“Belum abah!” jawab Nadhiirah.
“Belum? Apa jangan jangan kamu tidak menjalankan kewajibanmu terhadap suamimu sebagai seorang istri?!” tanya kyai Hamzah. Nadhiirah tidak menjawab, dia bingung harus menjawab apa karena memang apa yang dikatakan abah nya itu adalah benar.”Ah ya sudahlah, itu urusan kalian berdua! Abah doakan saja semoga kamu cepat punya anak yanng sholeh ataupun sholehah Nadh!”
“Aamiin abah! Terimakasih!” jawab Nadhiirah.
“Sudah makan?” tanya kyai Hamzah.
“Belum!” jawab Nadhiirah.
“Ya sudah, kalian makan lah dulu! Setelah itu istirahat! Pasti kalian capek!” perintah kyai Hamzah “nanti setelah kalian makan, istirahat, ke sini lagi temui ibu kalian! Sekarang baru tidur! Kasian kalau di bagunkan!” tambah kyai Hamzah yang melihat Nadhiirah seperti enggan meninggalkan kamarnya itu.
__ADS_1