Tantangan Anak Ustadz

Tantangan Anak Ustadz
Athiifah


__ADS_3

Mendengar pertanyaan dari mertuanya, Zhaffar hanya menunduk sambil tersenyum malu yang mengakibatkan pipinya agak memerah.


“sudahlah gus! Tidak perlu malu malu begitu lagi1 sekarang kamu sudah jadi suami ning nadiva, menantu abah! Kalian berduaan pun gak akan Ustadz latif hukum!” kata Kyai Munaya membuat semua orang tertawa.


“balik kanan Gus!” kata kyai Munaya. Mendengar perintah itu, Zhaffar mengangkat kepalanya kemudian melihat ke arah kyai Munaya. Dan kyai Munaya langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan Zhaffar yang di ajukan dengan tatapan mata.


Dengan perlahan Zhaffar memutar badannya merubah posisi duduk yang otomatis langsung berhadapan dengan Nadiva yang sedang menunduk itu.


“Pegang puncak kepalanya!” kata kang Hatim, tentunya Royyan menurut dengan perintah ama nya itu.


“Baca doa yang sudah akang ajarkan dan kamu hafalkan!” kata Royyan pada Zhaffar yang lekas mengangguk mendengar kalimat kakaknya.


“Bismilahir rohmaanir rohiim, Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li ahli fiyya warzuqhum minni warzuqnii minhum!” Zhaffar memegang ubun ubun Nadiva dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menengadah berdoa kepada Allah. Dan tanpa diperinta, Zhaffar mencium kening Nadiva dengan cukup lama.


“Wah wah wah, kyai! Ternyata dia tidak sopan kyai!” kata kang Hatim yang membuat Zhaffar melepas bibirnya yang menempel di kening Nadiva dan langsung menunduk malu dan itu juga berhasil membuat semua orang yang melihatnya tertawa.


“Ma-ma-maafkan aku ama!” kata Zhaffar dengan gelagapan.


“Tidak!”


“Ama aku mohon!” kata Zhaffar yang takut kang Hatim marah.

__ADS_1


“Tidak perlu minta maaf! Itu sudah haq mu! Dia syah untukmu! Iya kan kyai?”


“Iya, itu benar ustadz Hatim!” jawab kyai Munaya, lagi lagi membuat semua orang tertawa.


“Maaf kyai! Sudah masuk waktu dzuhur!” kata Ustadz Latif.


“Oh ya sudah, adzan dulu! Kita sholat dulu!” kata kyai Munaya.


“Adzan Gus!” kata kang Roni.


“A-apa uwa?” tanya Zhaffar dengan agak kaget mendengar perintah Kang Roni.


“Gus Royyan! Bukan Gus Zhaffar!” kata kang Roni.


“Boleh saya adzan kyai?” tanya Royyan.


“Na’am na’am! Tafdhol gus!” jawab kyai Munaya dengan antusias menjawab pertanyaan Royyan.


Royyan pun berdiri, mengambik mic dan langsung mengumandangkan adzan. Dengan suaranya yang sangat merdu, hampir mirip dengan suara Zulfi.


Setelah selesai Royyan mengumandangkan adzan, langsung mereka semua langsung melaksanakan sholat sunnah qobla dzuhur dan setelahnya melaksanakan sholat fardhu dzuhur dengan kang Hatim sebagai imam, itu permintaan kyai Munaya.

__ADS_1


Setelah selesai melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Keluarga besar kang Hatim dipersilahkan untuk makan, menyantap hidangan yang sudah di sediakan dengan di iringi grup hadroh yang melantunkan sholawat nabi.


“Ama!” kata Athiifah yang tiba tiba menghampiri kang Hatim.


“Iya? Kenapa? Bentar lagi pulang kok!”


“Eh bukan ama!”


“Apa atuh?”


“Kok gak ada acara sungkeman ya?”


“Emangnya kenapa kalau gak ada?”


“Kan sungkeman itu termasuk acara penting ama! Dimana saat sungkeman itu Pengantin akan meminta doa khusus dari kedua orang tua juga kepada orang lain!”


“Kamu tahu kan nak, mertua kakakmu ini keluarga pesantren! Keluarga yang faham tentang agama! Bahkan lebih dari kita! Mungkin mereka berfikir seperti ini, doa orang tua untuk anaknya itu tidak perlu dipinta! Juga kepada orang lain, pasti setiap orang yang menyayangi kita, akan men doakan kita!”


“Tapi ama, bagaimana kalau orang lain yang malah mendoakan gak baik untuk kita?”


“Kamu percaya sama Allah kan?”

__ADS_1


“Hmm iya!”


“Allah itu akan mengabulkan doa yang berdoa! Misalkan gini, kamu berdoa agar kang Royyan selalu sehat, dan Allah akan mengabulkan doamu! Yang akan sehat itu kamu, baru kang Royyan! Sebaliknya, jika misal kamu mendoakan orang lain kena sial, yang akan duluan sial itu kamu, karena kamu yang berdoa ingin sial!”


__ADS_2