
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Zhaffar turun, itupun karena di susul oleh Athiifah. Zhaffar menggunakan pakaian yang di belikan oleh kakaknya, Royyan sebagai hadiah karena telah selesai melaksanakan test yang Royyan berikan.
Yaitu, Zhaffar menggunakan sarung paling bermerk SBH yang seharga dua juga lima ratus ribu, yang bercorak indah dengan dasar warna putih, serta menggunakan batik yang juga bercoorak ada putih putihnya. Kemudia menggunakan jas formal berwarna hitam dan peci berwarna putih juga.
“Udah siap?” tanya Umma Hana.
Royyan menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan.”InsyaAllah Zhaffar siap umma!” jawab Zhaffar dengan yakin setelah menghembuskan napas panjangnya yang mungkin itu adalah salah satu upaya Zhaffar untuk menghilangkan rasa gugupnya.
“ya sudah kalau gitu, ayo kita berangkat! Kesiangan nanti!” kata kang Hatim.
__ADS_1
“Ayo kang!” jawab Umma Hana, merekapun bergegas keluar rumah. Dan langsung berangkat menggunakan mobil kang hatim yang di supiri oleh Yogi. Dengan posisi duduk Yogi dan Zhaffar di kursi paling depan, Kang Hatim, umma Hana dan Ulfah di kursi kedua, kemudian Royyan dan Nadhiirah serta Athiifah duduk di kursi paling belakang. Mereka juga akan di antara oleh mobil teh Alvi, yang termasuk kang Roni dan teh Alvi nya tentunya, Ustadzah Dawa, Ustadzah Zahra, serta kang Ahmad suami Ustadzah Zahra.
Kurang lebih tiga jam di perjalanan untuk sampai di pesantren Taisirul Kholaq. Kebetulan, perjalanan sangat lancar, tidak ada macet sedikitpun walaupun cukup ramai kendaraan lalu lalang. Ditambah, ada pengawalan khusus dari pihak kepolisian yang di hubungi oleh tim banser atau laskar yang tahu bahwa kang Hatim dan keluarganya akan pergi ke luar kota, sehingga semakin lancar lah perjalanan kang Hatim dan keluarga.
Sesampainya di Taisirul Kholaq, mereka di sambut dengan tim hadroh yang membacakan sholawat thola’al badru. Turun dari mobil di depan rumah kyai Munaya yang sudah di dekor dengan sederhana namun terlihat elegan dan sangat mewah.
Yaaa seperti biasa, mereka bersalaman antara satu sama lain. Khusus keluarga kyai Munaya. Namun yaa sesuai adat pesantren, pengantin perempuan belum diperlihatkan wajahnya dan entah di mana keberadaanya.
“Alhamdulillah! Saya pribadi, juga keluarga dalam keadaan sehat djohir wa bathin! Bagaimana dengan kyai sendiri?” jawab kang Hatim dan langsung bertanya balik.
__ADS_1
“Alhamdulillah juga Ustadz, Saya pribadi dan keluarga juga sama sepert keluarna panjenengan! Sehat djohir wa bathin!”
“Syukron katsiron! Syukron alaa kulli hal!” kata kang Hatim.
“Ya sudah, bagaimana kalau kita langsung saja kita mulai acaranya?” tanya kyai Munaya.
“Tafadhol kyai! Saya itba’!” jawab kang Hatim.
“baik kalau gitu, mari kita duduk dulu! Dan kita mulai saja acaranya! Semoga berjalan dengan lancar ya!” kata kyai Munaya.
__ADS_1
“Na’am kyai! Tafdhol!” kata kang Hatim yang setelahnya mereka pun duduk di tempat yang sudah disediakan dengan aman dan nyaman. Langsung juga sang pembawa acara membuka acara nya. Yang di awali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang pertama, kemudian membaca tawasul, dan setelahnya adalah acara inti, yaitu ijab qobul yang akan di laksanakan di mesjid, di rumah Allah, di tempat yang suci uantuk melaksanakan acara yang suci, yang sakral yang bahkan menjadi penyempurna iman.