
Malam sudah tiba, malam pertama Royyan nginep di kampung halaman istrinya, di rumah mertuanya. Suasananya hampir sama seperti di Baitussalam, ramai dengan suara para santri di sana. Royyan baru pulang dari mesjid habis melaksanakan sholat berjama’ah maghrib.
“Lagi apa Nadh?” tanya Royyan yang langsung masuk ke kamar Nadhiirah.
“Ini baru selesai sholat!” jawab Nadhiirah sambil melipat sajadah bekas dia sholat.
“Ooh!”
“Emmm kang!”
“Ya? Kenapa?”
“Aku boleh ikut ngaji di madrasyah gak? Hheheh! Aku kangen ngaji kang!”
“Oohmmm, gimana ya?” Royyan pura pura bingung.
“Ya udah gak papa kang! Aku di rumah aja!”
“Hahah, nggak kok Nadh! Boleh kok! Masa akang larang kamu ngaji!”
“Beneran kang?” tanya Nadhiirah dengan antusias.
“Iya! Ayo kalau gitu!”
“Ayo? Ayo ke mana?”
“Akang juga mau ikut ngaji aja!”
“Iiih atuh tunggu aja di sini!”
__ADS_1
“Gak mau ah! Disini gak ada teman!”
“Hmm ya sudah atuh ayo kalau gitu!”
“Kamu kenapa? Ya sudah deh akang nunggu di sini aja, sendirian, kesepian, di tinggal istri!”
“Iiiiiih gak gitu! Ayo ikut aja! Gak papa kok! Ayo!”
“Beneran?”
“Iya ayo!”
“Okey gass!” Royyan langsung menggandeng tangan Nadhiirah dan pergi ke madrasyah di mana tempat para santri mengaji.
“Kamu gak bawa kitab?” tanya Royyan.
“Ini?!” Nadhiirah memperlihatkan kitabnya yang dia bawa pakai tangan kanan, sedangkan tangan kirinya di gandeng Royyan.
“ya masa mau ngaji gak bawa kitab?!”
“Nyindir?”
“Nyindir apaan?”
“Kan akang yang mau ngaji gak bawa kitab!”
“Hhahah, ya naha atuh!”
“Kan kitab akang teh di baitussalam! Gak bawa kitab ke sini!” Nadhiirah tertawa mendengar jawaban suaminya. “Yang ngajar nya siapa?” tanya Royyan agar Nadhiirah berhenti menertawakan dirinya.
__ADS_1
“Ustadz Mahdi!”
“Malu Nadh ah!”
“Yeeeh siapa yang mau coba?!”
Akhirnya Nadhiirah dan Royyan masuk ke dalam madrasyah dan terpisah di sana. Nadhiirah langsung pergi dan duduk di sebelah perempuan. Sedangkan Royyan duduk disebelah bagian laki laki. Tapi, Ustadz Mahdi yang melihat Royyan duduk di paling belajang, malah memanggil Royyan dan menyuruh Royyan maju ke depan.
“Eh ada Ustadz Royyan! Ke depan ustadz!” kata Ustadz Mahdi.
“eh?” Royyan malah malu sendiri karena kini semua santri melihat ke arahnya.
“kadieu pangersa! Kapayun!” kata ustadz Mahdi lagi.
“Aduh, cekap kang didieu wae!” jawab Royyan yang untungnya dia bisa bahasa sunda.
“sok enggal kadie den! Nepangkeun gera ngen!” lagi lagi Ustadz Mahdi menyuruh agar Royyan maju untuk memperkenalkan diri.
Dengan terpaksa dan malu, Royyan maju dengan tidak lepas dari penglihatan para santri.
“Pang nyandakeun korsi!” titah ustadz Mahdi pada salah satu santri.
“Ah teu kedah teu kedah!” kata Royyan saat sudah hampir tiba di depan.
“Enggal Fahri!” kata ustadz Mahdi. Tidak lama, dengan semu berlari santri bernama Fahri itu datang kembali sambil membawa kursi.
“Duduk Den!” kata ustadz Mahdi.
“Ah saya di sini aja kang!” jawab Royyan yang malah duduk di bawah.
__ADS_1
“eeeeh cepet!” Ustadz Mahdi memaksa lagi sehingga dengan tidak enak hati Royyan pindah duduk lagi ke atas kursi yang sudah di sediakan.
“Nah barudak, tinggali kadieu! Ieu teh Ustadz anom! Ustadz muda! Putrana Kyai Hatim! Ajengan sohor! Nah ajengan anom ieu teh caroge putri abah, almukarom guru urang sarerea! Caroge neng Nadhiirah! Ayeuna urang pasihan waktos supaya anjeuna nepangkeun dirina! Sok den! Saha wasta teh!” ustadz Mahdi memperkenalkan Royyan sebagai suami dari Nadhiirah. Ustadz Mahdi juga mempersilahkan Royyan agar memeperkenalkan dirinya.