
Tiba hari dimana hari ini Royyan akan berangkat ke Najmuddin tempat kelahiran Nadhiirah kampung halaman istri Royyan. Kang Hatim sudah memesankan taksi online untuk mengantarkan Royyan dan Nadhiiarah berangkat. Royyan juga sekarang sudah kang Hatim belikan handphone untuk mempermudah komunikasi antar mereka. Apalagi Royyan akan merantau ke kota, tentunya akan ketinggalan jika Royyan tidak memegang handphone sama sekali.
“Ama, Umma, Royyan sama Nadhiirah mau berangkat dulu ya! Do’akan selamat diperjalanan dari sini ke Najmuddin kemudian lusa, dari Najmuddin ke Baitul Qur’an! Semoga semua urusan Royyan sama Nadhiirah dipermudah Allah! Pokoknya doakan Royyan anak ama, umma, dan Nadhiirah menantu ama sama umma, yang terbaik!” kata Royyan sebelum berangkat.
“Nak, kamu tahu seberapa sayangnya kami, orang tua kamu, orang tua kalian! Tidak akan pernah putus mendo’akan kamu! Kamu jangan khawatir! Jangan risau! Walaupun kami jauh dari kalian, tapi doa kami selalu ada bersama kalian!” Umma Hana memeluk Royyan putra sulungnya sambil menangis.
“Terimakasih umma!” kata Royyan masih dalam pelukan umma Hana.
“Umma titipkan Nadhiirah padamu!” Umma Hana menatap mata Royyan dengan tangannya yang memegang pundak Royyan. “Dia istrimu! Jaga dia! Makannya, pakaiannya, ilmunya, semuanya! Tanggung jawab kamu! Ingat itu!” ucap umma Hana dengan serius.
“Na’am umma! Royyan terima tanggung jawabnya! Royyan janji, tidak akan mengecewakan umma dan Nadhiirah! Umma bisa pegang ucapakan Royyan itu!”
“Umma tidak mau mendengar janjimu! Tidak mau mendengar ucapanmu! Umma hanya ingin melihat kamu membuktikannya!”
“Na’am umma!”
“Nadhiirah, sini nak!” Umma Hana memanggil Nadhiirah yang dari tadi hanya menunduk. Mendengar Umma Hana menyebut namanya, Nadhiirah mengangkat kepala dan langsung mendekat ke arah umma Hana. Dan umma Hana langsung memeluknya sambil menangis juga.”Umma titipkan juga Royyan padamu ya nak! Luruskan jalannya kalau bengkok, benarkan tujuannya jika belok, betulkan fikirannya kalau melenceng!”
__ADS_1
“InsyaAllah umma!” jawab Nadhiirah.
“Pergilah kalian! Ingat apa yang sudah umma kalian amanatkan!” kata kang Hatim.
“Athiifah, kakak pergi dulu ya! Titip umma sama ama juga ya! Maafkan kakak jika selama kakak di sini kamu ada tersinggung sama kakak!”
“Tidak kak, hiks hiks, kenapa sih kakak harus pergi! Hiks baru juga akku ada teman! Hiks hiks!”
“udah udah, entar kesiangan Nadh! Athiifah, kakak mu bukan mau meninggal! Lain kali kamu main ke sana! Atau kan akang juga akan pulang kesini!”
“Ya sudah, kalau gitu, ama, umma, Royyan sama Nadhiirah berangkat ya! Gak enak sama sopir taksinya sudah nunggu kelamaan!” kata Royyan.
“Iya nak! Pergilah!”
“Pergilah Yan!” kata kang Hatim.
Kang Hatim, umma Hana, Athiifah mengantar Royyan sama Nadhiirah ke teras mengantar Royyan sama Nadhiirah naik ke dalam mobil. Pamit pada kakak kakak kang Hatim sudah dilakukan semalam sengaja supaya pagi pagi tinggal berangkat dan tidak terlalu siang.
__ADS_1
Setelah naik ke dalam mobil, dengan koper dan barang barang lain sudah naik mobil, tanpa basa basi lagi, hanya ucapan salam dan lambayan tangan yang tersampaikan, Royyan dan Nadhiirah langsung pergi.
“Kang!” kata Nadhiirah.
“Iya? Kenapa?” tanya Royyan.
“Kok aku merasa berat ya meninggalkan umma, ama, sama Athiifah! Rasanya aku baru betah di baitussalam, sekarang harus pergi lagi!”
“Gak papa Nadh, itu hanya karena kita baru berangkat saja! Nanti juga harus menyesuaikan diri kita di Baitul Qur’an! Yang mungkin insyaAllah disana akan menjadi tempat tinggal kita!”
“Semoga semuanya lancar ya kang! Semua urusan kita dilancarkan Allah!”
Royyan hanya menanggapi ucapan Nadhiirah dengan senyuman dan anggukan. Setelahnya mereka hanya menikmati perjalanan menuju nadmuddin kampung halaman Nadhiirah.
“Kang, gimana persiapan resepsi Royyan sama Nadhiirah?” tanya umma Hana saat anak dan menantunya sudah berangkat, kini mereka hanya bertiga di dalam kamar.
“Akang sudah hubungi Arjuna kemarin lusa! Mungkin sekarang tinggal beberapa persen lagi menuju seratus persen!” jawab kang Hatim.
__ADS_1