
Royyan dan Nadhiirah turun dari taksi yang mengantarkan mereka di depan gerbang Pondok Pesantren Najmuddin. Maklum, Royyan sudah di kenal di pesantren itu, jadi warga pesantren juga sudah tidak aneh saat Nadhiirah datang bersama Royyan.
Setelah gerbang di buka, tanpa basa basi, Nadhiirah langsung masuk bersama Royyan dan langsung menuju rumahnya, rumah kyai Hamzah.
Para santri yang kebetulan dilewati Royyan dan Nadhiirah dengan spontan berhenti dari aktivitasnya langsung berdiri mematung sambil menundukkan pandangan tanda hormat.
“Naaaaaaadh!” tiba tiba ada yang berteriak sambil berlari ke arah Nadhiirah dengan tangannya yang direntangkan ingin memeluk Nadhiirah.
“Siapa itu Nadh?” tanya Royyan yang heran karena santri yang lain sopan sopan menunduk saat melihat dia dan Nadhiirah, beda dengan santri perempuan yang satu ini.
“Ah dia temen aku kang! Maafkan ya! Hheh!” jawab Nadhiirah dengan cengengesan.
Tiba tiba Nadhiirah sudah dipeluk oleh temannya yang berlari sambil memanggil namanya.
“Nadh, kamu apa kabar?” tanya Aisyah, sahabat dekat Nadhiirah.
“Alhamdulillah baik! Kamu gimana?” tanya balik Nadhiirah setelah lepas dari pelukan Aisyah.
“Aku juga baik Nadh! Ih kamu ke mana aja sih! Aku kangen tahu! Kamu pergi gak pamit dulu! Nikah juga aku gak jadi saksinya! Tega sih kamu! Sama sahabat sendiri juga!”
“Hheheh!” Nadhiirah hanya cengengesan dengan matanya memberi kode menunjuk ke arah Royyan.
“kamu kenapa Nadh? Kelilipan? Sini aku tiup!” tanya Aisyah yang langsung menangkup pipi Nadhiirah siap meniup mata Nadhiirah.
__ADS_1
“Iih bukan!” kata Nadhiirah menyingkirkan tangan Aisyah dari pipinya.
“Ekhem!” Royyan pura pura batuk sambil pura pura melihat ke arah lain juga.
“Eh, maaf!” Aisyah langsung menunduk dengan malu karena dia baru sadar dari tadi ada Royyan yang berdiri di samping Nadhiirah.”Nadh kamu ih! Kenapa gak ngasih tau kalau ada suamimu!” Aisyah bicara dengan sangat pelan.
“Lagian kamu, masa orang segede ini gak terlihat!” jawab Nadhiirah.
“Afwan ustadz!” kata Aisyah.
“Tidak apa apa! Dan saya bukan ustadz!” jawab Royyan.
“Ya sudah, Aisyah, aku ke rumah dulu ya! Mau menemui abi dulu!” kata Nadhiirah yang sebenarnya dia juga kangen pada sahabatnya itu. Tapi gimana dia juga gak enak sama Royyan.
“Hmm iya Nadh! Nanti kalau ada waktu, kamu main ke kobong ya!” kata Aisyah.
“Iya Nadh!”
“Ayo kang!” kata Nadhiirah.
“Ayo!” jawab Royyan dan melanjutkan jalannya menuju rumah kyai Hamzah.
“Sahabat terbaik aku satu satunya sudah nikah, pasti gak akan bisa sebebas saat belum nikah! Aku kapan nikah ya?! Semoga kamu selalu bahagia Nadh! Aku ikut bahagia melihatmu bahagia mendapatkan suami seperti Ustadz itu, pasti sangat sholeh! Ahli ilmu! Ditambah kerendahan hatinya yang menabah wibawa dia! Semoga aku juga mendapatkan jodoh suami yang sholeh dan ahli ilmu seperti Nadhiirah!” Aisyah bermonolog sambil merenung melihat kebahagiaan sahabatnya.
__ADS_1
“Dia beneran sahabatkamu Nadh?” tanya Royyan.
“Iya kang! Kenapa emangnya?”
“Kaya gak terlalu akrab gitu!”
“Ih kan ada akang! Masa aku harus akrab akraban sama Aisyah, akang kau diamin!”
“Oooh hhahah, makasih Nadh!”
“Makasih buat apa?”
“Ya ternyata kamu perhatian sama suamimu!”
“Astaghfirullah, emangnya dari waktu nikah sampai sekarang baru ngerasain perhatian aku?”
“Ya ngga juga sih! Tapi sebenarnya bukan hanya perhatian soal itu yang aku inginkan!”
“Lah apa lagi coba?”
“Kamu gak peka!”
“Gak peka apanya?”
__ADS_1
“Kamu itu punya suami laki laki normal! Gak gay, gak inpoten juga!”
“A-apa? Maksudnya?”