Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?

Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?
00 : Prolog


__ADS_3

Gelap dan buram adalah yang terlihat di mataku sekarang. Tidak ada yang bisa aku katakan dari mulutku, begitu juga tubuhku yang tidak ingin melakukan apapun.


Jujur, hatiku merasakan sakit sangat mendalam.


Air mataku sama sekali tidak keluar meskipun aku memaksakannya, mereka malah membuat bendungan lain di dalam kepalaku yang tidak aku mengerti mengapa begitu.


Ini menyakitkan.


Kamarku yang gelap hanya terpantul cahaya bulan di malam hari. Aku bahkan tidak mengingat sekarang pukul berapa, sebenarnya aku tidak ingin mengingatnya karena membalikkan waktu akan membuatku semakin buruk.


Tak lama kemudian pintu kamar diketuk perlahan, itu suara kedua orang tuaku. Mereka mencemaskanku sejak siang karena aku mengurung diri dan tidak membuka pintu sampai sekarang.


Aku hanya menjawab 'masuk, pintunya tidak dikunci' dimana aku juga tidak menyadari apa yang aku katakan.


Brakk!!


"Astaga... Lihatlah dirimu, menjijikkan, nee-chan!"


"Utsumi! Kau tiba-tiba menyerobot masuk di depan kami, jaga perasaan kakakmu-"

__ADS_1


Obrolan mereka terdengar berisik, aku masih menundukkan kepalaku di pinggir kasur seperti yang kulakukan dari tadi siang. Adik laki-lakiku bahkan mengataiku menjijikkan dan dia benar, aku tidak berniat melihatnya.


Ibu mendekatiku dan memeluk tubuhku pelan, tapi aku tidak merasakan apapun.


Mati rasa.


Mereka terus mencoba bicara padaku sesekali bertengkar biasa tapi aku tidak mempedulikannya dan tetap diam dalam pelukan ibu. Aku yakin mataku sudah seperti orang mati.


"Inilah kenapa aku tidak ingin kau menjalani masa remaja yang terlalu dalam, lihatlah sekarang, nee-chan!"


Utsumi memakiku terus, aku tahu dia menyayangiku tapi tidak menunjukkannya secara jujur.


Ibu melepaskan pelukannya dan ayah mendekati kami. Utsumi memasang wajah kecewa dan ingin mengusirku begitu saja, dia berdiri di ujung pintu kamarku.


"Ibu tahu ini sangat berat untukmu, Hatsune."


Masalah yang aku hadapi benar-benar terjadi mendadak, singkat, dan cepat seperti angin yang berlalu meninggalkan sakit dalam diriku sendiri.


Kegelapan malam di kamar ini dibiarkan saja oleh keluargaku yang mengunjungiku layaknya pasien rumah sakit jiwa yang bahkan suster tidak ingin mengunjungiku.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa aku katakan, aku terdiam membisu meskipun aku merasa sedih melihat mereka mengkhawatirkanku lebih banyak daripada aku sendiri.


Jujur saja aku merasa bersalah dalam buram dan gelapnya penglihatanku.


Sebagai gadis yang masih duduk di bangku kelas dua SMA, beban seorang remaja yang harusnya bisa dibagikan kepada orang-orang terdekat sekarang hancur lenyap tanpa sisa selain penyesalan terbesar.


Aku terjatuh secara mental dan entah kenapa aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Bukan orang yang menyakitiku.


Hening selama satu jam berlalu dengan kedua orang tuaku berlutut di pangkuanku.


Aku bodoh, aku membuat mereka merasa bersalah atas kesalahan yang aku buat. Aku benar-benar anak yang tidak tahu terima kasih.


"Hatsune, ada yang harus kami bicarakan padamu. Bahkan Utsumi telah memikirkan ini untuk kebaikanmu,"


Dengan rambut panjang yang berantakan tetap menutupi kepalaku yang menunduk, aku mendengarkan mereka. Utsumi sudah pergi karena ayah menyuruhnya pergi daripada membuat keributan.


"Agar perasaan menyakitkanmu hilang, apa kau mau jika kami menjodohkanmu dengan pria yang lebih baik. Tentu saja dengan janji pernikahan, dia akan menjagamu lebih baik u-"


"Aku mengerti, akan aku lakukan."

__ADS_1


Tanpa pikir panjang ditambah dengan perasaan yang campur aduk di dalamku, aku tidak mendengarkan secara jelas maksud orang tuaku, dan menyetujuinya saja.


Kehidupan yang tidak aku ketahui selanjutnya baru saja dimulai.


__ADS_2