Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?

Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?
01 : Perubahan Atmosfer Batin Bagian I


__ADS_3

Bisa dibilang ini dimulai dari awal, bilangan 0 sebagai permulaan dan penderitaan (?)


Aku tidak mau memikirkan sesuatu yang akan kucemaskan ke depan, jadi aku bersikap biasa saja mulai hari ini.


Mengenakan seragam dengan ekspresiku yang biasanya, berangkat ke sekolah seperti biasa, dan bicara pada siapapun seperti biasa. Seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.


Ibu memberitahuku bahwa nanti ketika pulang aku akan diantar ke tempat dimana aku akan dikenalkan oleh seseorang yang tidak aku ketahui.


Anehnya, aku sama sekali tidak cemas dan mengiyakannya tanpa alasan. Malah ibu yang terlihat khawatir, aku mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Bagaimana dengan parfait di kafe baru di samping stasiun sepulang nanti?"


Yukishiro Misa yang tidak lain adalah temanku yang sangat riang di depanku bertanya tentang rencana sepulang sekolah.


"Maaf, maaf, Misa. Tidak untuk hari ini, mungkin lain waktu."


"Eeeeeehhhhh...... Kenapa? Apa mungkin -"


"Ya, salah satu alasannya memang terkait dengan itu, bisa anggap kalau apa yang akan kulakukan nanti adalah pengobatan diri atau semacam istirahat batin?"


"Mau bagaimana lagi, aku lebih mementingkan kesehatanmu. Aku juga tidak ingin melihat hal buruk yang sama dua kali."


Meskipun Misa terlihat kecewa dia cukup mengerti dari penjelasanku untuk menolak ajakannya. Aku sangat berterima kasih padanya.


"Ngomong-ngomong.... Kau betah dengan rambut panjang itu setelah apa yang telah terjadi kemarin."


"Fufufu.... Aku tidak ingin terlihat buruk dalam hidup seseorang yang baru, aku yakin kau mengerti."


......---......

__ADS_1


Sebuah mobil mewah telah berhenti di arah selatan sekolah, jemputan itu untuknya. Seorang pria yang sudah berumur dengan setelan rapi membungkuk di depanku sambil meletakkan tangan kanan di dada kirinya.


"Maaf, apa benar anda Nona Aomori Hatsune? Putri Tuan Aomori?"


Aku membungkuk sedikit kemudian melambaikan telapak tanganku ringan dan membenarkan apa yang dikatakannya.


"Saya Kato, sopir pribadi yang ditugaskan menjemput anda. Silahkan masuk, nona."


Kenapa dia sangat formal dan apa-apaan dengan mobil mewah ini?


Sejak tadi dia menahan diri untuk tidak bertanya pada situasi membingungkan dan mengejutkan ini dengan bersikap tenang.


Perjalanan terasa lama karena tidak ada perbincangan apapun sampai di tujuan.


Rumah yang luar biasa megah bak istana dikelilingi oleh taman bunga yang indah dan tinggi seperti dalam labirin tuan putri. Aku terkesima oleh pemandangan itu dan tanpa sadar mengeluarkan suara yang membuat Kato-san terkikik kecil.


Ketika aku turun dari mobil, dua orang pelayan, begitu aku melihat mereka dalam seragamnya, menyambutku untuk mempersilahkan masuk.


Seorang pria paruh baya kira-kira seumuran dengan ayahnya sendiri berjalan mendekatinya dengan wajah berseri. Aku mengenalnya hanya dari nama, karena baru bertemu dengannya aku membungkuk sedikit untuk menyapa sebelum bertanya.


"Umm.. Apa anda Tuan Tokasaki? Senang bertemu dengan anda?"


"Tidak perlu formal begitu, hahahah kau membuatnya terdengar seperti kau meragukanku. Iya, aku teman ayahmu, Tokasaki Hanao, ayo masuk."


Tidak hanya dari luar saja terlihat megah, dalamnya tak kalah premium dari luarnya. Interior bergaya Barat dipadukan dengan tatanan mewah lainnya sebagai dekorasi cukup membuatku berdiam diri di sudut pintu.


Aku diantar ke ruangan untuk menyambut tamu dimana disana ada seorang perempuan yang tidak jauh berbeda dengan Tuan Tokasaki, dia tersenyum sambil meletakkan dokumen tebal di meja tamu.


"Oh, sudah datang? Apa ada kesulitan yang kau hadapi di jalan, Hatsune-chan?"

__ADS_1


"Etto..."


"Yuyuka, dia kelihatan bingung dengan kalimatmu yang rumit. Maafkan istriku, dia seorang diplomat jadi perkataannya berbelit-belit."


Seperti suaminya, aku juga memberi salam padanya dengan hormat kepada orang yang baru kutemui.


"Sopan sekali, kau benar-benar putri Rintaro-kun, dia sangat beruntung punya dirimu. Halo, aku Tokasaki Yuyuka, panggil saja aku ibu seperti yang kau lakukan pada Wa-chan."


Dia sungguhan seorang diploma?


Sementara kami bertukar salam dan candaan, Yuyuka-san memintaku duduk. Rintaro adalah ayahku dan Wa-chan adalah nama ibuku yang disingkat dari Wakaba, jadi aku yakin mereka berdua sangat dekat dengan orang tuaku.


Hanao-san menanyakan sesuatu kepada salah satu pelayan yang membuatnya tergesa-gesa pergi.


"Hei, Hatsune-chan.. Apa benar kau berubah pikiran sehingga memutuskan untuk tinggal disini? Aku sangat senang, kau tahu!"


HA, apa? Tinggal? Siapa yang berubah pikiran?


"Ahh....aku-"


"Kenapa kau menyeretku pulang, hah??! Aku sudah bilang aku tidak menyetujuinya, kan!"


Suara berisik yang keras terdengar dibalik pintu besar yang terbuka sebagian menyambungkan ruang tamu dengan koridor.


Yuyuka-san di depanku tersenyum lebar saat mendengarnya. Disinilah aku baru menyadari Hanao-san tidak ada bersama kami.


Tidak lama kemudian seorang laki-laki menggunakan seragam dari sekolah yang tidak aku ketahui berdiri di depan pintu bersama Hanao-san. Dua orang yang wajahnya saling bertolak belakang ekspresinya.


Dia tampan dan tinggi, wajahnya sangat mirip ketika mereka berdua berdiri sejajar.

__ADS_1


"Yuzui, selamat datang kembali."


__ADS_2