Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?

Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?
03 : Peringatan Baru dalam Hidup


__ADS_3

Bohong jika aku mengatakan pikiranku tidak baik-baik saja, sekarang aku sangat kacau.


Setelah bertemu orang-orang baru di kediaman Tokasaki, aku pergi ke balkon depan rumah ini setelah meminta waktu sebelum pulang. Mereka memaklumi perasaanku dan membiarkanku beradaptasi sebentar di sisa hari ini.


Nafasku masih tertahan, aku menghembuskannya dengan keras agar lega.


"Aomori."


"Oh, Yuzui?"


"Siapa yang mengajarkanmu memanggil nama orang yang baru kau temui dengan nama depannya langsung."


"Kau boleh memanggilku Hatsune. Aku tidak keberatan."


Muncul tiba-tiba dan memanggilku, Yuzui menunjukkan ketidaksukaannya secara halus dalam kalimatnya. Jadi aku menawarkan hal sebaliknya untuk menyelesaikan ini.


Dia bukan tampak tidak senang, malah mencoba bicara untuk pertama kalinya padaku. Di balik itu sepertinya dia tidak bersikap dibawah tekanan orang tuanya melainkan keinginannya sendiri, inisiatif.


Buktinya adalah orang tua Yuzui telah keluar setelah percakapan berat yang singkat terjadi tadi, mereka membiarkan kami berdua di ruangan dan berakhir aku meninggalkannya disana sendirian.


Itulah bentuk inisiatif dari Tokasaki Yuzui.


Aku yakin dia laki-laki yang baik, jadi aku mencoba bertanya padanya.


"Perjodohan ini, apa memang ada yang terjadi sebelumnya sehingga situasi ini terjadi?"


"Entahlah... Aku tidak berniat untuk serius tentang hal ini. Lebih baik kau tidak terlalu berharap banyak padaku, Hatsune."


Melayangkan pandangan ke hamparan kebun bunga yang luas, Yuzui memberiku peringatan dengan kalimat yang halus untuk sekian kalinya. Sudah kuduga ini bukan sesuatu yang harus dianggap sangat serius.


" Tapi... "


Angin sepoi-sepoi membuat suaranya terputus beberapa saat. Aku terpaku pada beberapa bunga secara acak terbang, lepas dari rumpunannya.


".....tidak menutup kemungkinan, semua ini menyangkut membayar sesuatu."


Aku mengerti apa yang Yuzui maksud. Bahkan jika orang tuaku melakukannya, tidak ada alasan untuk mundur.

__ADS_1


"Jika itu benar, aku juga tidak akan mundur mengingat aku sudah menyetujuinya. Yah... Meskipun tanpa sadar. Aku juga tidak memaksamu untuk melakukan hal yang sama."


Yuzui melihatku secara langsung melalui tatapan matanya yang menjurus ke mataku. Ada bayanganku di dalamnya yang balik menatapnya dengan raut wajah kacau.


"Yang aku lihat dengan apa yang kau katakan, kupikir semuanya menjadi jelas dari dalam matamu. Sebagai informasi, aku adalah aktor dalam drama sejak kecil, jadi aku harus melihat karakter lawan main agar membuat pertunjukan menarik yang luar biasa nantinya. "


"Begitu..."


"...kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk bertanggung jawab atas kebenaran yang terjadi. Bukan kesalahanmu untuk menanggung beban."


Dia kemudian berbalik tanpa peduli sambil melambaikan tangan perpisahan, seolah-olah apa yang dikatakannya tadi tidak pernah keluar dari mulutnya. Tapi tidak ada tanda dimana dia terlihat menolakku meskipun tidak menyukaiku.


"Biarkan Kato mengantarmu pulang, sebentar lagi sepertinya akan hujan."


"Hei, Yuzui..."


"Hm?"


"Terima kasih, karena kau tidak menolakku."


...----------------...


"Aku pulang."


"Oh, nee-chan selamat datang."


Kulihat Utsumi sedang berbaring di soda rumah sendirian dan menyapaku dengan datar. Menengok kemanapun tidak ada siapapun disana selain adikku, aku tidak berniat bertanya padanya mengenai kemana perginya penduduk rumah.


Tadi Kato-san mengantarku pulang sampai depan rumah sesuai perintah para Tokasaki-san, yah... semuanya minta agar aku diturunkan langsung di rumah.


"Kau akan pergi besok, ya, nee-chan?"


Karena aku tak kunjung membuka mulut, suara lesu Utsumi terdengar jelas dalam rumah yang sepi. Dia mematikan ponsel dan segera menundukkan kepalanya.


"Kau pastinya tahu sesuatu, Utsumi."


Entah dia mengangguk atau sengaja tidak menggeleng, yang aku lihat adalah gerakan kepalanya yang samar.

__ADS_1


Tekanan ini bukan hanya untukku saja, tapi ayah, Ibu dan Utsumi juga. Mereka merasakan kehilangan yang akan terjadi karena aku pergi.


Meskipun Utsumi terlihat begitu dalam bahasanya, dia sangat menyayangi kami keluarganya. Dia punya sifat tsundere, aku selalu menertawakan ketidakjujurannya dalam mengungkapkan isi hatinya. Dia masih anak laki-laki polos usia 14 tahun yang mengemaskan, benar-benar adikku.


Aku merasa dia mirip dengan Yuzui di beberapa tempat.


"Jika kau tahu sesuatu tentang kepergianku, katakan padaku sebelum aku pergi, Utsumi."


"Jujur saja aku tidak mau kau pergi. Sayangnya aku berubah pikiran ketika melihat nee-chan kemarin sangat terpuruk. Maaf, aku mengataimu kemarin."


Pernyataan tadi adalah penyesalan yang ditahan sejak kemarin dia mengataiku buruk di saat yang buruk juga. Aku duduk di sebelahnya setelah selama pembicaraan berlangsung ini aku berdiri di ambang pintu.


Adikku yang polos, masih duduk di bangku SMP, dan dia bertanggung jawab atas kesalahannya. Aku sangat menyayanginya sebagai adik yang kubanggakan.


Kalau saja aku tahu apa yang sebenarnya, aku harusnya bisa mencegah ini. Maaf, Utsumi.


"Yahh...nee-chan akan memaafkanmu jika kau memberiku petunjuk tentang kepergianku besok. Pasti ada yang disembunyikan dariku."


"Penalaran Nee-chan memang hebat begitu juga pendirianmu. Inilah kenapa aku harus menjagamu sebaik mungkin, tapi..."


"Nah, aku tidak akan menelantarkan apa yang sudah kutetapkan. Lagipula ini keputusanku, jadilah anak baik dan dewasa ketika aku pergi, Utsumi."


Telapak tanganku mengelus rambut indah dan halus miliknya untuk menenangkan bocah ini. Aku harap ini bukan terakhir kalinya aku bisa bersama Utsumi.


"Pernikahan."


"Ya?"


"Nee-chan...aku hanya ingin mengatakan padamu, jaga dirimu disana. Meskipun aku harus melepaskanmu, aku punya keyakinan bahwa kau akan baik-baik saja dengan laki-laki itu, banyak yang bilang keluarganya adalah orang baik tanpa syarat."


Orang baik tanpa syarat?


"Untuk lebih jelasnya, lebih baik kau tanyakan pada ayah dan ibu. Aku tidak tahu selebihnya mengenai latar belakang pernikahan mendadak ini."


Kata kunci yang sudah kupegang tidak membuatku terkesiap atau apapun, aku dan Yuzui sudah menyadari sesuatu dari awal pembicaraan kami. Setidaknya Utsumi mengatakan informasi yang penting, aku tersenyum padanya sebelum melakukan aktivitasku selanjutnya.


"Terima kasih, adik laki-lakiku yang imut."

__ADS_1


__ADS_2