Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?

Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?
07 : Tanda Tangan Formulir Pernikahan


__ADS_3

Makan malam yang elegan dan lezat sudah disajikan di meja panjang yang mewah membuat perasaan Hatsune gelisah, kecuali ekspresinya. Dia melihat jajaran sendok, garpu dan sumpit yang disediakan tidak hanya satu melainkan lima pasang masing-masing.


Apa ini rasanya menjadi seorang Ojou-sama... Aku tahu kalau ini berat.


Duduk di seberangnya yang berjarak dua meter, Yuzui memahami kalau gadis itu kebingungan melihat peralatan makan malam ini.


Ini sebenarnya bukanlah acara formal dimana pelayan menyiapkan peralatan makan yang beragam. Hanya saja Hanao, ayah Yuzui memintanya membuat makan malam seperti pesta besar untuk merayakan hari bahagianya.


Bahkan sekarang mereka mengenakan piyama mewah untuk melengkapi pesta makan malam.


Ayah benar-benar keterlaluan menyiapkan ini,


Instruksi tangan Yuzui menunjukkan pada satu set dari masing-masing peralatan makan.


Hatsune yang melihatnya mengedipkan mata sekali sebagai ucapan terima kasih. Dia mulai mengambil sendok yang paling kecil dengan garpu ukuran sama.


Sementara di seberang, Yuzui menepuk dahi melihat kelakuannya.


Bukan itu, jika makan malam menggunakan sesuatu yang kecil kau tidak akan kenyang, bodoh.


Karena Yuzui menepuk kepalanya, Hatsune semakin memiringkan kepalanya dengan isyarat 'apa aku salah?'.


Di dua sisi lain dari mereka yang bicara melalui isyarat dalam diam ada yang memperhatikan kekonyolan keduanya, mereka menahan tawa.


Yuyuka menyesap anggur di gelasnya dengan elegan sambil melirik dua bocah itu. Karena tidak tahan menahan tawa, dia menyesapnya agak banyak untuk tidak mengeluarkan suara.


Dan Hanao, menutup mulutnya dengan pura-pura menggunakan serbet makan agar tidak ketahuan sedang tertawa.


Tawa sembunyi-sembunyi terus berlanjut hingga makan malam berakhir beberapa menit kemudian. Agenda yang ditunggu akhirnya harus dimulai sekarang agar tidak mengulur waktu, tapi pihak Hatsune maupun Yuzui tidak menunjukkan reaksi senang ataupun gugup sama sekali.


Apa ini artinya mereka berdua menerimanya tanpa perlawanan? Pikir Hanao tenang. Dia yakin istrinya memiliki banyak kosakata rumit di kepalanya yang akan meledak jika ini tidak segera dilakukan.

__ADS_1


Salah seorang pelayan membawakan map besar diberikan kepada kepala keluarga lengkap beserta alat tulisnya sepasang. Hanao kemudian menyodorkan kertas ke hadapan mereka berdua yang saling bertatapan ke satu titik, kertasnya.


"Sekarang, Yuzui, Hatsune-chan, kalian rupanya lebih tenang daripada dugaanku."


Formulir pendaftaran pernikahan yang tidak diharapkan oleh keduanya.


Tapi mereka sudah menyetujuinya karena tidak ada pilihan lain. Singkatnya, tidak ada perasaan apapun terhubung di dalam hubungan mereka.


Yuzui meraih pena tanpa menanggapi apapun dan segera mengisi formulir dengan tenang. Hatsune menatapnya datar sebelum melanjutkan pekerjaannya setelah Sang Suami, Yuzui menghentikan tangannya.


Yuyuka bersemu merah dan nampak paling bersyukur begitu Hatsune meletakkan pena di sebelah kertas yang sudah terisi penuh oleh tulisan dan tanda tangan.


Memang tidak ada peristiwa yang dramatis dalam penandatanganan formulir ini. Keterpaksaan yang harus dijalankan keduanya telah membuat mereka lebih memilih untuk tidak menunjukkan terlalu banyak emosi agar tidak membuat keresahan yang tidak perlu.


Dengan lembut, Hanao melihat ke arah mereka berdua sambil tersenyum.


"Semoga bahagia, pasangan - tidak, pengantin baru."


"Hatsune-chan, Hatsune-chan, panggil aku ibu... Astaga, aku akhirnya punya seorang putri, senangnya..."


"Oh... Ya, terima kasih banyak, a-a-ayah... I-ibu.. Umm.."


"Kyaaaa~!"


Dengan cepat dan gesit Yuyuka langsung memeluk erat Hatsune di detik berikutnya sambil menjerit kegirangan.


Biasanya Yuzui akan berceloteh tentang sikap ibunya yang kekanakan, tapi nampaknya dia tidak ingin merusak kebahagiaan dan hanya tersenyum tipis.


Hanao mengetahui kalau perasaan dipaksa akan membuat Yuzui menjadi pribadi lebih tertutup, tapi sebenarnya dia juga memiliki tujuan mengapa dia harus melakukan ini bukan hanya karena perjanjian di masa lalu melainkan juga untuk kebaikan putra semata wayangnya itu.


Kau akan mengerti ketika waktu yang kalian habiskan bersama seiring waktu, Yuzui. Hingga saatnya tiba, aku juga akan memberitahukan niatku padamu.

__ADS_1


...****************...


"Lelahnya..."


"Ya, benar..."


"Apa kau baik-baik saja?"


"Kurasa..."


Berbaring di masing-masing kasurnya, Yuzui dan Hatsune bertukar kata santai ketika sampai di kamar mereka.


Ayah dan ibu Yuzui memang tidak memaksa sebuah kamar dengan satu ranjang di dalamnya karena mereka berdua bahkan belum cukup umur untuk melakukan lebih dari itu tanpa pengalaman. Mereka hanya menyatukan kamar dengan ranjang yang berbeda sebagai bentuk hubungan diantara mereka.


"Bisakah aku hanya menganggap itu sebuah kertas, Yuzui? Aku tidak perlu melakukan hal-hal yang seorang istri lakukan saat ini bukan..."


"T-tentu saja tidak, aku juga akan menganggapnya begitu. Jangan bicara yang aneh-aneh, Hatsune."


Baru sekarang Yuzui menyadari kegugupannya yang disampaikan melalui kata-kata. Hatsune hanya terkikik kecil dan melambai ringan.


"Ya, terima kasih kerja kerasmu hari ini. Selamat Malam....umm...s-"


"S?"


Hatsune menarik diri dan menutup tirai di depan Yuzui yang memiringkan kepalanya.


"Tidak, sampai bertemu besok."


"Oh, y-ya...selamat malam."


Dibalik tirai besar yang membatasi mereka berdua, keduanya saling menenggelamkan tubuh mereka dalam selimut dan membiarkan mimpi indah merasuki malam pertama mereka.

__ADS_1


__ADS_2