
Cangkir kopi di hadapanku sudah tidak menggugah semangat yang sudah kusimpan.
Uapnya bahkan sudah hilang.
"Tsubasa-sama, apa kopi buatanku tidak terasa seperti sebelumnya? Haruskah aku menggantinya? Aku minta maaf..."
Yumi cemas dan merasa sangat bersalah karena melihatku tidak menyentuh cangkir selama beberapa menit. Dia pelayan pribadiku yang sangat peka dan perhatian, hanya saja aku tidak menunjukkan reaksi jelas padanya.
"Biar kubuat-"
"Ini bukan salahmu, Yumi. Bukan karena kopinya...buang saja, aku berangkat dulu."
"Oh... Tsubasa-sama! Hati-hati di jalan.."
Meninggalkannya begitu saja aku mulai melangkah ke mobil yang dibukakan Otori, sopir pribadi keluarga Tsuchiya.
"Maaf jika aku menyinggung perasaanmu, Tsubasa-sama. Hari ini kau kelihatannya lebih buruk daripada kemarin, apa kau benar-benar akan berangkat?"
"Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu, aku akan pergi apapun yang terjadi. Jalankan mobilnya, Otori!"
"Siap."
Apa emosiku terlihat dengan jelas dari perilakuku yang terganggu? Akan merepotkan jika aku tidak kembali seperti semula.
Semua orang pagi ini melihatku dengan saksama dan mencemaskan tindakan yang kulakukan.
Yumi bahkan Otori juga, mereka berdua memberikan banyak perhatian padaku selama ini. Entah kenapa aku tidak begitu menyukainya, jadi aku tidak bisa bersikap lebih baik kepada mereka.
Tapi....
"Kau akhirnya datang, selamat pagi, Tsuchiya."
Seseorang yang membuatku tertarik selalu bisa mengembalikan ketidakstabilanku. Bahkan setelah apa yang dilakukannya kemarin, aku tidak bisa tidak tersenyum padanya.
"Selamat pagi, Tokasaki-kun."
Dia tidak berubah dari segi apapun sekarang setelah sutradara, Urukawa-kun memarahinya kemarin karena tidak kompeten.
Aku sebenarnya juga ingin tahu ada apa dengan perubahannya.
Pagi ini ada latihan pagi sebelum masuk kelas seperti yang biasa dilakukan klub olahraga. Kami berkumpul sebentar, untuk pemain dan sutradara saja.
__ADS_1
"Cek mimik wajah dan pembacaan bab terakhir naskah."
"Ya."
Aku belum membaca naskah ini secara keseluruhan, kesibukanku lumayan banyak.
"Hmmm...?"
Jari-jariku membuka celah dua lembar terakhir dan bab terakhir membuatku agak terkejut sampai tersandung ketika akan melangkah.
"Oi, kau baik-baik saja? Hawa pagi masih membuatmu mengantuk, huh?"
"Terima kasih, Urukawa-kun."
Membantuku berdiri dia menaikkan sebelah alisnya dan tertawa. Aku tidak mengerti maksud kenapa dia tertawa.
"Sudah kuduga kau tidak membaca naskah sampai akhir. Pantas kau masih terkejut dengan ending yang dibuat."
Sialnya dia benar.
Tokasaki-kun mendekati kami karena tawa Urukawa-kun, aku membenahi diriku ke posisi terbaik. Dia tidak boleh melihat kepayahanku lagi.
"Jika kau tidak memiliki waktu untuk dirimu sendiri itu akan menyusahkanmu di lain waktu, tapi ini bukan akhir yang buruk."
Tidak mungkin aku mengatakan hal kasar di depannya, jadi aku hanya berdehem sebentar.
"Membaca ending sekilas belum memastikan kalau adegannya diperankan baik. Chemistry awal kita juga mempengaruhi akhir begitu."
"Aku mengerti, tapi kau benar."
Melihatnya yang dengan santai dan datar menjawabku, aku tidak bisa membencinya bahkan dalam situasi terburuk.
Latihan pagi berjalan lancar tanpa kendala khusus.
Kami berjalan di koridor bersama yang lain menuju kelas masing-masing. Tiba-tiba Tokasaki-kun mengatakan sesuatu pada Urukawa-kun.
"Peran penyihir belum terlihat sampai sekarang, kau yakin tidak segera mencari pengganti?"
"Latihan baru berjalan beberapa hari dan aku belum menemukan orang yang tepat untuk menggantikannya. Tidak ada yang bisa dilakukan selain berharap dia berhasil pada penampilannya."
"Satu orang juga akan kesulitan jika mengambil peran ganda."
__ADS_1
"Aku tidak memintamu melakukannya. Kau sudah gila kalau aku memohon padamu seperti itu."
"Tidak,"
Mereka berdua tetap berdebat mengenai peran penyihir yang akan dimainkan oleh seseorang yang....bisa dibilang dia agak unik. Laki-laki itu cukup membuat orang di sekitar kerepotan, tapi aku terkesan dia masih bertahan di klub.
Aku bahkan tidak berpikir jauh dia ingin menjadi seorang yang terkenal lulusan SMA Fukuzaki ini.
"Berhenti membuatku sangat tidak berguna di pentas, Tooru... Hoamm..."
Itu dia datang, orang yang paling tidak ingin kulihat sekarang. Aku segera memalingkan wajahku ke arah lain dan mempercepat langkahku agar cepat pergi dari sini.
Namun sayangnya semua usahaku sia-sia.
Segera muncul di sebelah pipiku, orang itu membisikkan kalimatnya.
"Selamat pagi, tuan putri Tsubasa. Kau membuatku jadi bersemangat hari ini, tolong kerjasamamu, ya?"
Plak!
Tas sekolahku mendarat di kepalanya yang membuat orang sekitar menjadikan kami bintang pagi ini.
"Pergi kau, dasar Takuya mesum! Jangan dekati aku."
Dia benar-benar membuatku jijik dan muak sampai aku harus repot-repot memukulnya agar sadar dari ketidaksadarannya.
Sebelumnya aku memang mengatakan dia unik, tapi dengan arti lain. Uniknya adalah dia tidak akan melakukan apapun di setiap kesempatan kecuali menggangguku, tapi dia bisa mengontrol orang-orang sekitar agar percaya padanya dan dia bisa membuktikan itu.
"Kiino, mau sampai kapan kau membolos dari latihan, huh?"
"Oyaaaa.... Tokasaki? Dengar-dengar kau jadi peran pangeran lagi untuk yang keberkian kalinya. Aku senang kau terlihat sehat karena bisa repot kalau peran utama sakit."
Wajahnya terlihat mengejek seketika dia meletakkan kedua tangan di belakang kepalanya. Melirik padaku yang sekarang terasa panas di dalam.
"Tsubasa, aku tidak mengecewakan siapapun lagi dalam semua tindakanku. Jangan benci aku...."
Kami saling memanggil nama asli bahkan di depan orang banyak. Keunikannya membuatku tak bisa lepas darinya.
"Jika kau menghancurkannya, aku akan membunuhmu sebagai akhir yang bahagia."
"Rapunzel-sama sangat kejam. Tapi, aku suka."
__ADS_1
"Sudah kubilang diam!"