
Ini hari Jumat dan aku masih harus pergi ke sekolah yang jaraknya lebih jauh karena kepindahanku secara tiba-tiba. Karena sudah mengangkut beberapa keperluan ke kediaman Tokasaki, aku disambut dengan kemewahan yang tidak biasa.
Pelayan mereka yang akan membereskan barangku dan segera meninggalkanku berdiri sendiri di balkon. Mereka bilang kalau tidak akan ada suasana bagus jika nyonya baru di rumah ini yang mengangkat barang.
Sebenarnya aku juga masih tidak enak karena perubahan kebiasaan ini. Tapi waktu sudah sangat terlambat untuk pergi ke sekolah.
"Maafkan aku, tapi aku akan sangat terlambat jika tidak naik kereta sekarang. Jadi aku akan pergi duluan,"
"Untuk hari ini, biarkan Kato mengantarmu dan Yuzui."
"Itu tidak perlu, sungguh."
Bisa gawat jika aku menaiki mobil mewah untuk berangkat sekolah. Yuzui sudah bersiap dengan seragamnya dengan santai melewatiku.
"Pagi, Hatsune."
"O-oh, ya, pagi Yuzui. Bisakah kau beritahukan kalau aku akan pergi sendiri sekarang, aku tidak ingin menarik perhatian sekolah yang tiba-tiba."
Karena panik aku jadi harus meminta bantuannya agar menahan orang tuanya tidak mengantarku dengan sopir pribadi mereka.
Namun tampaknya aku tidak digubris dan dia masuk sendiri untuk berangkat ke sekolah.
"Ayo, Kato. Hatsune akan berangkat sendiri hari ini."
"Tapi..."
"Dia bilang tidak mau, bukan?"
Terima kasih banyak, Yuzui!
Yuyuka-san di belakangku memasang wajah cemberut yang ganas karena melihat Yuzui memerintah Kato-san tanpa membawaku. Aku menenangkannya dengan alasan adaptasi yang terlalu cepat, aku butuh waktu menyesuaikannya.
"Tolong jangan marah, Yuyuka-san."
"Jika kau memanggilku 'Ibu' aku akan mengizinkanmu."
"Ah...i-i-ibu,"
"Heiii, formulir itu masih kosong. Jangan kau bicara yang aneh-aneh menjadikannya menantumu, bu."
Kegagapanku membuat Yuzui kesal sampai wajahnya memerah dan ibunya menertawakan hal itu.
Aku harus pergi sekarang!
...----------------...
"Hatsune......bagaimana kemarin? Apa ada sesuatu yang menarik dalam pengobatanmu? Cerita padakuuu...."
Misa dengan gesit duduk di kursi depanku lalu menhujamku dengan pertanyaan. Karena hampir terlambat, aku habis berlari dan mengatur nafasku agar tenang.
"Tidak ada yang spesial."
"Lagi bohong ya?"
"Tidak ada untungnya juga aku berbohong padamu, Misa. Sungguh tidak ada yang spesial, hanya saja....."
"Hanya saja?"
Aku ragu mengatakan bahwa aku menikah hanya dalam waktu satu hari. Misa selalu percaya dengan apa yang kukatakan dan akan meragukanku ketika aku tidak mau menceritakan apapun dengan jawaban singkat.
Lagipula pernikahan ini juga tidak akan masuk akal mengingat usia kami berdua masih dibawah umur.
"...aku cukup beruntung menemukan seseorang yang bisa mengisi kekosonganku. Kupikir aku akan belajar kembali dari sana untuk memperbaiki kesalahanku. Bagaimana menurutmu?"
Tarikan kedua pipinya membuat senyum mengembang sangat lebar di wajah Misa. Dia puas dengan jawabanku dan lega karena hal positif yang didengarnya.
"Syukurlah.....aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu Hatsune. Kau tidak perlu menanggung masa lalumu, biarkan saja apa yang sudah berlalu."
"Ya, aku mengerti."
__ADS_1
Kalimat Misa selalu ada untuk menyembuhkan gelisah dalam hatiku, meskipun dia lebih tidak memikirkan dirinya sendiri. Aku akan mengasuhnya dengan baik sebagai balasan dari kesetiaannya padaku.
...----------------...
Kantung plastik besar di tanganku membuat seseorang di sekitar melihatku dengan iba. Aku harus melalui empat stasiun berbeda untuk transit menuju kediaman Tokasaki, dan karena terlalu asyik belanja bahan makanan aku sampai melupakannya.
Karena tanganku keduanya penuh, aku harus menyewa sepeda angin agar tidak terlalu berat.
Perjalanan dari stasiun akhir ke rumah Yuzui menggunakan sepeda angin hanya butuh waktu sepuluh menit. Matahari sudah hampir tenggelam ketika aku sampai.
"Astaga, Hatsune-chan! Apa yang kau lakukan dengan barang-barang itu?!"
Yuyuka-san sangat panik memanggil pelayan untuk membantuku dengan bawaanku dari sekolah hari ini. Sambil mengangkat kantung plastik aku mengatakan bahwa ini sudah hal biasa dan aku baik-baik saja.
Seorang pelayan muda memintaku untuk memberikan kantung kepadanya untuk dibawa ke belakang. Karena melihat ada sawi yang muncul di bibir plastik, dia bilang akan memasaknya dan berterima kasih padaku karena repot-repot membelinya.
"Bisakah aku membantumu memasak?"
"Kupikir itu ide buruk melihat kau baru pulang. Masuk dan periksa barang-barang tadi pagi di kamarmu lebih penting, biarkan pelayan yang memasak disini."
Benar, aku belum memeriksa barangku dan kamarku. Nanti malah aku tersesat jika tidak memeriksanya.
Dengan penyesalan begitu dalam aku meminta maaf pada pelayan yang berbalik tersenyum ramah sambil menggeleng kemudian berlalu.
Menarik lenganku dengan cepat, Yuyuka-san terlihat sangat bersemangat mengantarkanku ke kamar yang akan kutinggali. Dia mulai bicara mengenai betapa senangnya jika aku tinggal disini dengan hari-hari baik yang menyenangkan.
Kami sampai begitu cepat di sebuah pintu yang lumayan besar, terbuat dari kayu jati yang pinggirnya dilapisi emas dengan cat kayu berwarna senada.
"Ini kamarmu, aku harap kau menyukainya dan oh...perhatikan barang-barangmu di dalam ya, jangan sampai tertukar. Aku tinggal dulu... Nikmati waktumu sampai makan malam, Hatsune-chan."
Secepat kilat Yuyuka-san segera menghilang dari pandanganku setelah aku berterimakasih padanya. Tapi apa maksudnya 'jangan sampai tertukar?'
Tanpa memikirkan perkataannya aku membuka pintu dan segera ada kejutan lain disana. Sayangnya aku tidak menunjukkan keterkejutanku sesungguhnya.
"Oh, Yuzui, kenapa kau ada disini?"
...----------------...
Jawabannya adalah gadis ini, Aomori Hatsune.
Yah...aku tidak akan menyalahkan siapapun selain diriku sendiri. Karena terlalu sibuk di sekolah dan drama hari ini cukup membuatku lelah dalam aktivitas gilaku tadi, aku hanya mengiyakan apapun yang ibu katakan sambil menyeretku ketika pulang tadi.
Tanpa melihat sekeliling lagi, aku segera merebahkan diriku di kasur seadanya dan terlelap untuk waktu yang tidak kuketahui.
Ketika bangun sekarang malah Hatsune sudah berada di depanku dengan wajah datar yang polos dibalut seragamnya.
"Oh, Yuzui, kenapa kau ada disini?"
"Ha? Bukankah aku yang harusnya bertanya padamu mengenai itu?"
"Kurasa bukti kalau ini kamarku ada di meja rias yang tertata rapi. Karena itulah aku bertanya padamu."
Kulihat ke arah satu set meja rias yang ada di samping kasur yang barusan ku gunakan tidur. Ada banyak barang wanita disana begitu juga beberapa tas besar yang dibawa Hatsune pagi ini sudah ditata rapi di atas lemari pakaian.
Eh, tidak mungkin kan?
Melihat Hatsune yang mulai bergerak meletakkan tas sekolahnya, aku segera bangkit dari tempat tidur dan duduk di kursi rias yang ada. Aku harus sadar secepatnya.
"Sepertinya kamarmu adalah tempat yang ditutup oleh tirai ini, Yuzui. Lihatlah..."
Spontan aku baru menyadari kalau ada tirai besar berwarna coklat muda yang menutup satu sisi kamar ini.
Hatsune membuka tirai dan ketika aku ikut melihatnya, benar saja ini adalah kamarku juga. Dengan berbagai perabotan kamarku ada disini, tidak mungkin aku tidak menyebutnya kamarku.
JADI SELAMA INI ADA RUANGAN LAIN DI SISI KAMARKU?!!!
"Ini buruk..."
"Aku setuju, mengingat kita masih dibawah umur dan properti kamar ini adalah satu ruangan."
__ADS_1
Dengan agak kesal aku menuju kamar sebelah dan duduk di kasurnya. Ayah dan ibu benar-benar serius mengenai ini.
Yah...mungkin aku masih bisa bersyukur karena tidak dalam 'satu kamar' sempit untuk berdua di rumah ini. Akan makin berbahaya jika ketahuan dengan orang lain.
"Kau datang jam berapa?"
Hatsune memecah suasana setelah duduk di pinggir kasurnya juga dan berhadapan denganku.
"Kenapa kau bertanya begitu?"
"Kau belum berganti pakaian dan langsung tidur, bukankah melelahkan?"
"Jam empat kurasa,"
Setelah aku menjawabnya, aku secara langsung melihat seragam Hatsune dari sekolah lain itu terlihat kusut. Dia memang naik kereta untuk pulang bukan?
Hatsune berbicara seperti dia mengkhawatirkanku...
"Lalu adakah yang terjadi sampai seragammu kusut?"
"Perjuangan yang melelahkan juga terjadi padaku. Kerja bagus untuk kita, bukan?"
Sekolah Hatsune memang agak jauh dari rumah ini, tapi dia tadi tidak ingin diantar oleh Kato dan bilang akan pergi sendiri agar tidak terlihat mencolok.
Di pikiranku terlintas bahwa dia tidak bisa terus melakukannya untuk pulang-pergi jauh setiap hari. Apalagi ketika ada hari dimana dia pulang malam, tidak ada hal baik ketika dia pulang sendiri.
Rambutnya terlihat seperti terkena angin, terlihat lebih kusut daripada seragamnya.
"Apa kau ingin pindah ke sekolahku yang lebih dekat dari sini?"
"Eh?"
"Tidak mungkin kau akan melakukan kebiasaan ini setiap hari. Aktivitas sehari-hari yang kau lakukan akan habis di perjalanan."
"Kau ada benarnya, tapi aku tidak ingin pindah dari sana karena memang sudah pilihan yang kutetapkan. Tidak, tidak usah khawatir tentang itu."
Hatsune masih bicara santai dengan tubuhnya yang terlihat lelah. Aku tidak pernah membayangkan bila dia mengalami masa sulit ketika dia menolak tawaranku.
Aku bergumam sebentar memikirkan cara lain.
"Lalu...bagaimana jika aku yang pindah ke sekolahmu. Cara itu lebih baik untuk dua pihak, jadi tidak akan ada yang dirugikan."
Ide yang barusan kuucapkan bisa dibilang langsung terucap setelah terlintas di benakku. Aku mengutarakan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan.
Sejak kapan aku mengkhawatirkan orang lain daripada diriku sendiri?
Meskipun kebingungan ini berputar dalam kepalaku, aku tidak menarik kalimatku dan Hatsune memutar bola matanya sebentar sebelum melanjutkan.
"Tidak perlu, kita jalani saja seperti yang seharusnya."
Pernyataannya membuatku terganggu karena itu adalah penolakan secara tidak langsung.
"Dari sini menuju sekolah memang jauh, tapi aku tidak keberatan. Lagipula ingat, ketika aku bilang tentang tanggung jawabku, bukan? Kau tidak perlu mencemaskan sesuatu yang tidak perlu."
Hei, hei, hei, apa maksudnya sesuatu yang tidak perlu!
"....lagipula seragam itu jauh lebih cocok untukmu daripada kau mengenakan seragam anak laki-laki di sekolahku."
Kedua mata ungu itu membulat, menatapku dengan sangat polos tanpa niat apapun dibaliknya.
Wajahku merasakan sesuatu yang hangat menerpa, kata-kata dalam mulutku tidak bisa keluar.
"H-h!!!!!?"
"Yuzui?"
Srettttt.......!!
Dengan cepat aku menutup tirai besar ini untuk menutup pandanganku dari Hatsune.
__ADS_1