
Jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam dan orang tuaku belum kunjung menunjukkan kehadiran di rumah.
Aku memasakkan sup miso dan steak daging sapi untuk makan malam bersama Utsumi. Dia menunjukkan wajah riang ketika bicara denganku saat makan, aku juga bersikap biasa saja untuk meresponnya.
Setelah menghabiskan makan malam dan mencuci piring, Utsumi memandang jam dinding lagi dengan ekspresi cemas. Begitu juga yang kurasakan, aku akan mengemas barangku ketika mereka tiba nanti.
Besok juga hari yang panjang dan padat untukku jika sesuai jadwal yang telah kubuat.
Ting, tong!
"Hatsune, Utsumi, kami pulang."
Suara cerah terdengar dari pintu depan yang terbuka. Aku menghampiri mereka dengan Utsumi yang mengekor padaku.
"Lama sekali, untung tidak lupa jalan pulang."
"Rupanya malammu sangat panas, Utsumi. Redakan amarahmu, ini sandwich buah untuk makanan penutup. Aku mandi dulu, nanti kita berbincang."
Aku meraih paper bag berwarna cerah dari ayah dan melihat ke arah keduanya.
Mereka sepertinya sadar akan tatapanku, tersenyum memahami. Seolah berkata 'tunggu sebentar, penjelasan untukmu'.
...----------------...
" Ya, enak sekali...!"
Kami berempat duduk di meja makan berkumpul mendengarkan alasan mereka terlambat pulang. Ternyata kenalan rekan kerja ayah dari luar kota datang dan memintanya untuk memandu berkeliling Tokyo hari ini juga.
Karena antusias mereka, aku jadi tidak ada waktu untuk menanyakan tentang diriku untuk besok. Aku akan menunggu mereka selesai bercerita sebelum ke topikku.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian akhirnya cerita mereka berakhir pada pukul sembilan malam. Hening untuk beberapa menit, aku sambil mencuci piring kotor.
"Hatsune....bisa bicara sebentar sebelum kau berkemas?"
Tanpa kuberitahu harusnya mereka sudah tahu apa yang akan kutanyakan.
Segera aku duduk berhadapan dengan mereka didampingi Utsumi yang membuat jarak dalam duduk di sofa, dia mendengarkan pembicaraan kami.
"Kau pastinya tahu siapa teman yang kami pandu, kan?"
"Ya, kurasa aku tahu kalau mereka adalah rekan bisnis ayah dan Tokasaki Hanao-san. Tidak mungkin dia dengan sengaja meluangkan waktunya untuk bertemu denganku yang bahkan lengkap dengan istrinya yang diplomat. Jadi?"
"Keterpurukanmu...bisakah kau mengisi formulir pernikahanmu dengan Yuzui-kun?"
Sifatku sesungguhnya sangat menawan yang aku sendiri juga sangat membanggakannya. Ketenangan yang luar biasa kepada siapapun cukup menjadi ketertarikan besar bagi orang di sekitar.
Hanya saja kemarin aku sungguh kehilangan kebanggaanku karena sesuatu hilang dariku.
"Aku tahu kau tidak terkejut karena tanggung jawab itu."
Melihatku yang hanya terdiam, ayah membuka mulutnya dengan nada bicara yang lebih lembut.
"Ibu tahu ini juga berat untukku, Hatsune. Kami punya tujuan kotor dibalik ini karena-"
"Tidak perlu dikatakan biar aku saja. Agar tidak bertele-tele, aku dan Yuzui sudah tahu kalau sebenarnya kalian menjualku ke sebuah pernikahan yang tidak diinginkan. Kami berdua mendapat kesimpulan yang sama."
Sebaliknya mereka yang terkejut dari ungkapan pemikiranku. Aku segera menyelesaikan ini dengan cepat agar mereka segera memberitahukan dasar dari perlakuan mereka padaku.
Utsumi yang mendengarku menggertakkan giginya sambil menatap tajam kepada ayah dan ibu. Tanganku menahannya agar emosi bocahnya tidak keluar dan membuat tenaganya sia-sia.
__ADS_1
"Kontrak di masa lalu. Karena bersangkutan dengan usaha penyelamatan perusahaan, aku dan Hanao membuat perjanjian diatas materai."
Isinya 'Jika kami memiliki anak yang berlawanan jenis kelamin, saat usia mereka menginjak 17 tahun mereka akan dinikahkan. Karena pernikahan bisnis mereka akan membuahkan hasil dimana perusahaan akan dijalankan oleh anak laki-laki dan anak perempuan akan melakukan tugas sebagai pengurus kewirausahaan perusahaan.'
Perjanjian tertulis itu sebagai bukti pembayaran mereka berdua mendapatkan uang bantuan agar dapat melanjutkan bisnis.
Aku agak lega mendengar kejujuran ayah dan ibu, melepaskan nafas pelan yang berat.
"Keputusan bodoh apa yang kau buat di masa lalu akhirnya menghancurkan nee-chan, kau tahu harusnya!!!"
"Utsumi, hentikan."
"Maaf....entah kenapa aku melakukannya saat itu. Sekarang tidak ada yang bisa kami berdua lakukan selain kau menyetujuinya, Hatsune."
Dipenuhi penyesalan, mereka menunduk sedalam-dalamnya padaku sebagai permintaan maaf atas tindakan bodoh mereka.
"Tenanglah, aku tidak mempermasalahkan itu. Tolong angkat kepala kalian, ayah, Ibu."
Dengan begitu, aku kembali ke kamarku untuk berkemas.
...----------------...
Aku tahu sejak aku membawa seseorang sebelumnya ke rumah ini dan memperkenalkan pada keluargaku, mereka sangat baik dan antusias. Bahkan sampai memberi restu *yang konyol.
Akhirnya aku tahu kalau itu mungkin sebuah rencana mereka untukku merasakan kejatuhan mental yang luar biasa, yang terjadi kemarin. Sungguh.... Bagaimana aku mengatakannya?
Rencana pembunuhan perasaanku sudah ditetapkan sejak dulu, bahkan sebelum aku lahir itu sudah menjadi keputusan yang bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
Tapi, bagaimana dengan Yuzui*?
__ADS_1
Berbagai macam informasi menyedihkan dari pengamatanku membuatku pusing. Tanganku terus bergerak untuk menyiapkan segala barangku yang harus diangkut dari sini.
Besok, aku akan menikah dengan bukti tertulis lainnya yang akan mengubah hidupku.