
Setelah membersihkan diri, aku dan Yuzui makan malam yang eksklusif, sebenarnya bukan sesuatu yang mewah, hanya saja pelayan mengantar makanan ke kamar karena kami baru datang terlalu larut.
"Ada sesuatu yang membuatmu pulang selarut ini?"
Dia membuka pembicaraan dalam suapan ketiganya. Sementara aku masih tenang dan menyuap pelan makananku, tidak ada sesuatu yang bisa dikejutkan lagi selain aku pulang terlalu larut.
"Kegiatan sekolah cukup padat untuk tahun kedua dan aku sudah beberapa hari melewatkannya, jadi...aku harus menyusul ketertinggalanku."
"Begitu...pasti berat, ya?"
"Ya."
Hari ini termasuk hari yang sangat sibuk untukku karena tugas sekolah menjadi lebih banyak. Dengan keadaan terpurukku, ternyata meninggalkan begitu banyak pekerjaan dibelakang.
Aku mendengus pelan, dalam hatiku ada rasa sesak yang harus dikeluarkan.
"Sebenarnya aku juga jadi lebih sibuk mulai sekarang, permintaan drama semakin banyak dengan diterimanya proposal. Aku tidak bisa begitu lama di rumah,"
Kepalaku terayun pelan mengiyakan yang dikatakan Yuzui. Kami masih SMA sudah sibuk luar biasa, ditambah masalah pribadi sangat membuat tertekan, jika bukan karena tanggung jawab aku juga tidak akan menerimanya. Aku tidak ingin membebani orang yang lebih tua hanya demi keegoisanku.
Sekolah Yuzui memang sekolah elit biasa tapi mereka menggunakan kekuasaan untuk menghasilkan aktor berkualitas dengan berbisnis di dalamnya. Aku membuka internet dan banyak artikel yang membahasnya, jadi aku tahu.
Yuzui menatapku datar, sepertinya dia lelah dan aku juga tidak bertenaga untuk menjawab apapun lagi. Makanan kami juga hampir habis, saatnya kembali ke kasur.
"Maaf, Hatsune...tapi bisakah aku membahas beberapa hal denganmu sebelum tidur?"
"Tidak masalah, aku mendengarkan dari seberang."
Sambil memeluk bantal dan duduk di tepi kasur, tirai besar yang belum ditutup menampilkan Yuzui di kasurnya dengan posisi yang sama berhadapan denganku.
Nada bicaranya berubah serius antara kelelahan dan keharusan.
"Kesibukan masing-masing memang tidak bisa dihindari saat ini. Apa kau mau mengusulkan sesuatu untuk solusi?"
"Bukankah kau yang mau mendiskusikan sesuatu?"
"Aku memberimu ruang untuk solusi sebelum aku membahasnya."
Aku memejamkan mataku sebentar untuk berpikir.
__ADS_1
Ini sulit dengan kondisi tubuh yang tidak seratus persen waras. Tapi aku sepertinya punya ide untuk saran.
"Hmm...kurasa aku harus lebih menyibukkan diri ketika tugasku berakhir. Aku tahu ini mungkin bukan saran untukmu, tapi berguna untukku."
"Dan?"
"Kau mencemaskan sesuatu seperti aku akan kesepian atau tidak, bukan?"
"I-itu..."
Kesadaran Yuzui sepenuhnya kembali dibuktikan dengan wajahnya yang memanas karena tebakanku benar.
Logikanya dia tidak akan membuat keputusan apapun jika tidak ada faktor pendorong untuk dia mendiskusikan sesuatu denganku. Dan yang terlintas dalam pikiranku hanyalah 'kesepian karena sibuk'.
"Ternyata aku benar, kau terlalu baik untuk dibaca, Yuzui."
"Berisik...katakan saja."
"Mmmm.....aku ingin kerja paruh waktu."
"Apa?"
Yuzui diam untuk beberapa saat sementara matanya mengerling dan berputar. Sejujurnya aku tidak yakin dengan keputusanku, ini hanya pendapat pribadiku saja.
Setelah dipikir ulang aku sudah cukup gila untuk menghabiskan energiku agar lebih terlambat sampai di rumah. Yuzui juga akan berpikir begitu.
"Pekerjaan macam apa?"
"Eh? Aku belum memikirkannya."
"Kalau begitu itu bukan saran yang bisa diputuskan sekarang."
"....kau ada benarnya."
Pendapat gilaku akhirnya ditolak, tapi tidak sepenuhnya karena dia melanjutkan.
"...jika kau menemukan yang cocok dan bilang padaku, aku tidak keberatan selama itu baik-baik saja dengan tenagamu."
Aku cukup terkejut mendengarnya karena dalam kalimatnya ada peringatan sebagai seorang pasangan dimana kekhawatiran masih ada.
__ADS_1
Bibirku terasa geram, aku merapatkannya.
Memang....dia jauh dari jangkauan Yuzui. Dasar....
"Ya, terima kasih."
Tanpa perasaan apapun hubungan ini dimulai secara nyata dan dijalani tanpa ikatan apapun antara kami. Kurasa ini tidak buruk juga.
"Lalu bagaimana denganmu, Yuzui?"
"Aku berencana untuk berhenti ketika kenaikan kelas, entah kenapa aku memutuskannya langsung."
Pernyataan Yuzui tidak begitu banyak memberikan pengaruh padaku, terkadang ketajaman instingku yang langsung menghasilkan kesimpulan membuat kehidupanku membosankan. Aku tahu kalau dia punya rencana lain dengan mengatakan itu.
"Bukankah malah kau akan kehilangan jati diri sebagai aktor jika kau memutuskan selesai?"
"Haha...menjadi aktor bukan apa yang aku inginkan sejak awal. Lagipula aku punya tujuan lain sekarang, jadi kurasa berhenti adalah pilihan terbaik, bagaimana?"
"Kalau kau bertanya padaku, aku akan membalikkan tujuanmu itu agar kau tidak pensiun dari menjadi aktor."
"Astaga..."
Aku tidak bisa membayangkan kalau Yuzui berhenti dari dunia SMA nya itu. Dasar dari perkataanku adalah untuk dia mengurungkan niatnya untuk berhenti dan tidak perlu mencemaskan aku.
Tujuan awal diskusi ini adalah kesepian dalam kesibukan.
"Meskipun kau berusaha untuk membalikkannya, aku tetap akan berhenti, kurasa..."
"Agaknya kau keras kepala, Yuzui."
"Kalau kau ingin melihat drama yang kutampilkan di panggung, aku tidak keberatan membawamu ke sekolah."
"Tidak, tidak, tidak, aku yang akan keberatan jika harus menontonmu dalam waktu dekat ini. Mungkin lain kali."
"Hehh...padahal aku menunggumu mengatakan ya."
Dasar anak ini...
Keputusan sementara kami sebagai pasangan muda akhirnya terbentuk dengan negosiasi singkat yang bisa diterima.
__ADS_1