
Halo semua, ini Ritsu yang bicara...
Senang bertemu dengan kalian untuk memberikan pendapatku pada cerita teman terbaik yang kumiliki, Tokasaki Yuzui.
Pekerjaanku telah selesai berakhir dengan membagikan naskah pada para pemain kemarin, jadi aku menggunakan posisi penonton di tengah-tengah rakyat klub.
Yuzui memainkan peran pangeran lebih baik dari drama sebelumnya dan Tsuchiya juga mendalami karakter Rapunzel dengan percaya diri tinggi, dia benar-benar memperkirakannya dilihat dari rambutnya yang sudah ditata dan dirawat dengan baik.
Pengaturan ulang pada cerita kuberikan sepenuhnya pada penulis naskah kami, Hotaro-senpai dan Amamiya Kuro. Mereka membuat cerita yang lumayan menarik menurutku, kolaborasi keduanya sangat keren. Karena itulah aku menunjuk mereka agar bertanggungjawab pada naskah.
Ceritanya cukup sederhana untuk bagaimana Rapunzel dikisahkan, dia diculik oleh penyihir yang menggunakannya sebagai alat magis terletak pada rambut panjangnya yang indah agar selalu terlihat awet muda dan tidak mengurangi umurnya.
Namun di cerita kali ini penyihir memiliki karakter laki-laki yang jatuh cinta pada Rapunzel sehingga dia menculiknya.
Tapi perasaan penyihir padanya tidak sekuat itu karena dia memiliki ketakutan tentang dirinya sebagai buronan kerajaan, jadi dia tidak berani menyentuh Rapunzel dan hanya mengurungnya di ruangan yang berisi sebuah ranjang dan kamar mandi. Dia hanya memberinya makan sesuai kebutuhan dan mengajaknya bicara ketika diperlukan.
Penyihir tersebut merasa malu dengan perbuatannya, dia tidak berani mengembalikan Rapunzel, selama dia mengurungnya penyihir tidak memperlihatkan wajahnya dan selalu membelakangi Rapunzel yang sama sekali tidak keberatan.
Sungguh tuan putri yang sangat baik.
Melihat Tsuchiya aku tidak bisa menganggapnya cocok dengan peran Rapunzel.
__ADS_1
Penyihir merawat Rapunzel dengan memberinya mantra-mantra yang dibutuhkan sesuai permintaan, tapi dia tidak pernah mengeluh akan mengapa ia dikurung malah selalu mendukung penyihir untuk menjalani hidupnya lebih baik.
Sampai pada plot twist di akhir, aku cukup terkesan jadi aku tidak akan mengatakannya disini.
Ketika aku membaca naskah sampai menangis, para penulis beranggapan bahwa ceritanya tidak cocok denganku yang sensitif dan memutuskan untuk menggantinya. Tapi langsung kutolak dan membiarkan naskah ini dipakai langsung.
Karena aku yakin Yuzui bisa memerankan apapun ketika dia bertanggungjawab pada kontrak. Perasaan berdebar dan semangatku berkobar saat membagikan naskah kemarin.
"Kau terlihat menikmatinya, Ritsu-senpai."
"Hiks...kau harus membayarku dengan makanan manis ketika acara ini sukses, Amamiya-kun."
"Sudah...sudah....Ritsu-kun. Selama dia bilang cerita tidak bisa diganti, aku yakin kesuksesan akan datang disini."
Amamiya-kun menggerutu dan mengirim tinju lembutnya pada senpai. Kohai-ku yang manis...
"Ngomong-ngomong mereka membuat chemistry yang tidak asing. Apakah mereka benar-benar sudah membaca naskah sampai akhir?"
Sebenarnya aku tidak begitu yakin dengan keraguan Hotaro-senpai setelah kami melihat latihan mereka bersama. Tidak ada bedanya dengan drama-drama sebelumnya, mereka berakting biasa seolah mengetahui apa yang akan terjadi di akhir.
Yah, bisa dibilang ini kedamaian sebelum keributan. Aku tidak akan mengatakan kalau Yuzui akan terganggu karenanya, dia bahkan tidak punya kekhawatiran terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bisakah kita selesai disini? Ini terlalu larut dan aku harus segera pulang."
"Yuzui?"
Kejanggalan dalam kepalaku sepertinya terjawab dengan Yuzui yang mengemas barangnya bersiap pergi. Sekarang sudah pukul sepuluh malam, tidak heran untuk pulang.
Tapi tidak untuk Yuzui...
"Dengan satu kontrak lalu bisa menghabiskan hidupmu di sekolah, sekarang kau ingin pulang dengan tiga kontrak yang kau setujui? Bisakah kau gunakan otakmu, Tokasaki!"
Urukawa Tooru, sutradara klub drama membentaknya sedikit, aku tahu dia lebih banyak dan paling berharap pada Yuzui dalam setiap penampilan.
Aku mengetahui banyak hal tentang Yuzui selama aku mengenalnya, tapi dia cukup aneh dalam beberapa hari sejak penjaganya menyeret dia pulang waktu itu.
"Maaf, Urukawa...aku tahu ini mungkin tidak bisa diterima untukmu tapi aku berterima kasih sebanyak mungkin selama ini. Di latihan selanjutnya aku akan memberitahukan waktuku agar bisa lebih lama berlatih, tapi sekarang aku harus kembali. Sampai jumpa."
"Oi, Tokasaki!!"
Setelah teriakan panjang dan bentakan Urukawa, Yuzui segera menghilang dari pandanganku dibalik pintu.
Keanehan Yuzui....
__ADS_1
Pada hari itu, sepertinya aku menyalahkan banyak hal pada Yuzui. Salah satunya adalah dia tidak memberitahukan apapun padaku yang selama ini bersamanya.
Hatiku terasa terombang-ambing dengan ketidakpercayaan yang mulai tumbuh sebagai perasaan buruk ke depannya