
Keesokan harinya, masih pagi buta orang tua Yuzui sudah bersiap meninggalkan rumah untuk pekerjaan mereka. Keduanya berangkat dengan transportasi yang berbeda juga.
Aku sudah biasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan, tapi disini aku seperti makhluk tidak berguna yang menunggu pelayan untuk melakukan sesuatu. Sekarang setelah aku bangun yang bisa kulakukan hanya mempersiapkan diriku pergi ke sekolah.
Yuzui juga sudah bangun dan mengantar kepergian orang tuanya. Aku yakin dia merasa kesepian karena raut wajahnya berkata demikian.
Karena aku keluar menemui mereka menggunakan seragam sekolah, ibu (Yuyuka) menggodaku.
"Hohoho....bukankah Hatsune-chan terlihat cantik dengan seragamnya, ya, kan... Yuzui?"
Aku terkekeh ringan sebagai tanggapan sementara Yuzui tidak menunjukkan reaksi apapun untuk menjawabnya.
Kesepian....ya?
"Kurasa dia masih agak mengantuk. Yah...karena tidak bisa terlalu lama, aku harus pergi sekarang."
"Ayahmu benar...mooouuu..padahal aku masih ingin di rumah menghabiskan waktu dengan anak-anakku, pekerjaan memang merepotkan."
Sepertinya ibu tidak membelitkan kalimatnya seperti sebelumnya lagi. Dia agak luluh dalam pengucapan yang biasa dan memeluk Yuzui lembut sambil membisikkan sesuatu. Aku tidak bisa mendengarnya dari jarak ini, jadi aku hanya menyalami ayah (Hanao) sambil bertukar sampai bertemu lagi.
"Kemarilah, Hatsune-chan..."
"Ada apa, ayah?"
"Sekarang sudah ada kau di rumah ini, aku harus menitipkan segalanya padamu termasuk Yuzui. Tolong kau lakukan untuk kami, ya?"
Pikiranku tidak sampai dimana ayah dan ibu menitipkan segalanya padaku, tapi untuk bagian Yuzui...memang sudah tugasku untuk menjaganya. Dan setelah melihat raut wajah kesepiannya sekaligus diam seribu bahasanya, aku jadi semakin ingin menjaganya seperti keluargaku sendiri.
Dia memang keluargaku sekarang...
"Yah... Hatsune-chan, aku harus pergi dulu. Ibu akan segera kembali dalam waktu dekat jadi tidak perlu khawatir akan apapun. Kalian berdua boleh melakukan apapun sesuka kalian, fufu..."
"Hentikan, Yuyuka. Mereka bisa salah paham dengan maksudmu itu."
"Hanya bercanda, lakukan sesuai apa yang kalian sepakati. Jangan sampai menyesali apapun, kalian berdua. Kami pergi, ya."
Mereka juga bertukar selamat tinggal 'ala pasangan' yang wajar dilakukan. Aku dan Yuzui melambaikan tangan sampai mereka hilang dari pandangan kami.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan apapun, Yuzui putar balik sambil menggaruk rambutnya yang berantakan. Dia sepertinya belum mengira bahwa aku sudah membaca perasaan kesepiannya dari awal dan sekarang bertingkah seperti masa bodo dengan apa yang terjadi.
"Sebaiknya kau juga bersiap berangkat untuk sekolah, Yuzui. Apa kau-"
"Ya, kurasa aku tidak berangkat hari ini."
"Eh, hah?"
Dia menghentikan langkahnya dan menoleh padaku.
"Kau sudah mengetahui alasan mengapa aku bisa mengatakan itu bahkan tanpa aku memberitahumu, Hatsune. Jadi aku tidak ada keinginan untuk berangkat hari ini, silahkan gunakan Kato untuk mengurusmu."
Melanjutkan langkah kakinya lagi, aku menyusulnya dan memegang tangannya. Dia tidak berniat berhenti dan aku tidak berniat melepaskan tanganku.
"Apa?"
"Kalau kau tahu bahwa aku sudah tahu, kenapa kau malah memaksakan dirimu dan mengurung diri di rumah sekarang?!"
"Tidak ada gunanya aku pergi dengan suasana hati seburuk ini."
"Itu bukan alasan logis untukmu tidak masuk hari ini, kau harus berangkat dan dengarkan aku.... Yuzui!"
Kupikir aku memang salah karena aku tidak seharusnya memaksa ketika dia tidak ingin diganggu. Lagipula hanya sehari, itu bukanlah masalah besar. Jadi...kenapa aku harus memaksanya untuk pergi?
"M-maafkan aku, Yuzui. Aku terbawa suasana tadi, yah...kau tahu aku tidak begitu suka dengan orang yang egois dan mengorbankan sekolahnya. Tapi, yah... Maaf."
"Bukan..."
".....?"
"Ini salahku, jika aku tidak mengatakannya tadi kau juga tidak akan memaksaku. Maaf..."
Begitu... Yuzui benar-benar orang yang baik dan sangat rapuh. Aku menilainya dalam hati selama ini, tapi dia tidak menunjukkan kekesalan apapun yang membekas.
"Hatsune.."
"Hwe.....!"
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhku ditarik ke dalam tubuhnya. Rambutku jadi acak-acakan karena tarikan tangan Yuzui, sekarang juga aku mendengar detak jantung yang berdegup hebat di telingaku. Dia menutup wajahnya dengan poni yang belum disisir tepat di belakang telingaku.
Pelukan macam apa ini?!
Gawat...apa yang dia lakukan barusan? Yuzui, bukankah kau masih sadar?
"Maaf, sebentar lagi..."
"Ini bukan sesuatu yang harus dimintai permohonan maaf. Tapi, yah..."
Meskipun ragu, jemariku berusaha untuk menenangkannya dengan membalas apa yang dilakukannya padaku.
Hal ini wajar dilakukan karena akmi adalah pasangan pengantin baru, meskipun aku masih meragukan status itu.
Aku menganggapnya sebagai orang paling dekat denganku yang harus kujaga, perlahan aku mengusap pelan rambutnya seperti yang kulakukan pada Utsumi.
"Kau tahu, yang pertama bukan selalu prioritas."
Yuzui mengucapkan itu tiba-tiba saat aku mengelus kepalanya. Aku berpura-pura tidak terkejut dan melanjutkan.
"Mungkin kau benar, tapi hingga kini kau mungkin bisa menjadi prioritas orang lain yang benar-benar membutuhkanmu sebagai seseorang yang berharga lainnya. Bukan berarti mereka membencimu atau semacamnya, tapi prioritas utama mereka adalah membahagiakan anak pertama dan satu-satunya bagi mereka, begitulah yang kupikirkan."
Setelah kalimatku berakhir, genggaman pelukan Yuzui semakin erat karena dia meremas bahuku lebih kencang. Menenggelamkan wajahnya lebih dalam agar tidak terlihat olehku.
"Ayola, kau membuatku cemas jika terus seperti ini. Sudah waktunya berangkat, tidak mungkin aku pergi dengan tubuhku masih menempel padamu, orang-orang akan menganggapmu penguntit mesum."
Aku membuat candaan agar mesra-mesraan ini cepat berakhir karena waktu tidak bisa kuhabiskan lebih banyak di rumah sekarang.
"Biarkan apa yang mereka katakan, aku masih ingin terlihat mesum disini."
"D-diam, berisik...ucapanmu seperti orang yang sedang sangat kesepian kau tahu.."
Dia memutar balik candaanku dengan serius menanggapinya. Sekarang aku malu sendiri karena seranganku dibalikkan begitu cepat.
"Ya, aku kesepian. Jadi, buat aku jatuh cinta padamu, Hatsune."
"Dasar bodoh!"
__ADS_1
Ini pertama kalinya aku kehilangan akal sehatku dan ketenanganku jadi buyar karena Yuzui melantur.