
Aku Tokasaki Yuzui, sekarang usiaku 17 tahun mengingat aku adalah siswa SMA tahun kedua. Sebagai remaja dengan masa kenakalan, aku mengacak-acak kamarku setelah pertemuan yang tidak kuinginkan tadi siang.
Besok akan ada perubahan besar dalam hidupnya sebagai remaja.
Karena aku tidak yakin jika aku memberitahu Hatsune bahwa ini bukan sekadar perjodohan melainkan pernikahan. Kenapa aku tidak mengatakannya tadi?
"Sial, besok adalah hari drama yang sibuk dan sekarang aku melupakan seluruh isi naskah!"
Drrrr..... Drrr... Ponselku bergetar menandakan ada yang menelponku.
Tanganku meraihnya dengan malas karena wajahku tenggelam diapit dua bantal. Tulisan di layar ponsel menunjukkan 'Ritsu' dengan profil foto dirinya, tombol hijau ditariknya dan dibiarkan begitu saja.
"Halo, Yuzui, kau masih hidup, kan? Kau mengabaikanku dan tiba-tiba diseret oleh penjagamu. Setidaknya hubungi aku jika kau ada masalah, bung...."
"......"
"Hei, kau menjawab panggilanku dan membiarkanku tidur? Heii......"
"......"
"YUZUI!!!! BRENGSEK KAU!"
Kemarahan tak terbendung dari Ritsu tidak membuatku ingin membicarakan apa yang terjadi.
Aku membiarkannya bicara berisik karena sekarang aku butuh suara lain agar kewarasanku terjaga. Ritsu benar-benar penyelamatku.
"Berisik, Ritsu. Tidakkah kau bisa membantuku mencari peran pengganti drama besok? Ada sesuatu yang tidak bisa kutinggalkan."
"Hah??? Apa kau gila? Menghafal naskah peran utama hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, apa yang kau pikirkan?! Lagipula apa-"
Dia memarahiku seperti biasanya. Aku dengan malas tetap mendengarkan musik natural dari suara Ritsu yang berisik dari seberang ponsel.
Sekitar setengah jam dia mengoceh tanpa aku harus menjawab apapun. Akhirnya dia berhenti karena lelah dengan sebuah saran sebagai pesan terakhir.
"Jika sesuatu tidak bisa kau tinggalkan di waktu yang berbeda, setidaknya berikan pertunjukan terbaikmu besok sebelum kau menyesalinya karena kehilangan keduanya. Sampai bertemu besok, aku akan mengatur persiapanmu."
Panggilan ditutup. Hening terasa mengusik telingaku, tapi ini bagus untuk berpikir dari apa yang dikatakan Ritsu.
Memberontak tidak ada gunanya. Kabur? Aku tidak bisa melakukannya karena rencanaku akan berantakan. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti ini dan melancarkannya.
__ADS_1
"Yuzui, Boleh aku masuk?"
Ketukan pintu nyaris tidak terdengar ketika ayah membuka pintu tanpa persetujuanku. Aku bangkit dan menyesuaikan posisi dudukku, aku tahu mereka akan bicara padaku mengenai besok.
Sejak aku masuk SMA, aku berencana untuk tinggal sendiri di tengah kota dengan penghasilanku sendiri sebagai siswa biasa. Tapi, tidak bisa kulakukan karena ibu memohon padaku agar aku tidak pergi selama menjadi seorang pelajar.
Permohonan yang tidak bisa kutolak karena aku terlahir sebagai anak di keluarga Tokasaki.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Yuzui?"
Ibu duduk di sebelahku dan ayah duduk di kursi belajarku. Mereka mencoba menenangkan pikiran yang berkecamuk di kepalaku dengan bicara dari hati ke hati.
"Tidak seburuk itu."
Kebohongan seorang aktor harusnya dapat dipercaya bukan?
"Bohong...", ucap ibu kesal.
Dan aku baru menyadari jika kebohongan aktor tidak akan berpengaruh ketika aku berstatus sebagai anak laki-laki di rumah ini, terutama di depan orang tuaku.
Ayah pernah mengatakan alasan dari kejadian hari ini adalah karena sebuah bukti pembayaran tertulis (perusahaan bisnisnya yang membuat nama aneh seperti itu), memuat perjanjian konyol yang melibatkanku dan gadis yang tidak kukenal.
Omong kosong belaka yang tidak bisa segera kuterima.
Kedatangan mereka bertujuan untuk membujukku menentukan keputusan agar menerimanya.
"Maaf, Yuzui."
"Sayang sekali...aku belum bisa membuatnya dapat diterima mulai besok."
"Tapi kau bahkan tidak menolaknya."
"Bukan berarti aku menerimanya juga."
Jika aku menolaknya, entah bagaimana aku akan menanti sesuatu yang kuinginkan sejak dulu.
Karena sejak tadi aku bersikap datar begitu juga dengan nada bicaraku, ayah akhirnya lebih melembutkan suaranya dan menggenggam kedua bahuku erat.
Aura wibawa yang tegas biasanya akan keluar ketika kami berkumpul dan membicarakan sesuatu yang tidak bisa kuabaikan. Ini artinya dia sedang serius.
__ADS_1
"Dengar Yuzui, aku tahu aku memang sudah menginjak harga dirimu begitu juga harga diri keluarga Tokasaki setelah sekian lama,"
"...."
"...karena kebodohan orang-orang di zamanku dan ibumu, aku merasa berdosa melakukannya. Maafkan aku karena membuatmu harus menanggungnya, tapi..."
Memberi jeda pada kata-katanya, ayah menatapku lebih serius dengan tajam namun lembut. Salah satu kelemahanku agar aku tidak bisa menolaknya.
".....kau tidak bisa membuatnya menanggung ini sendirian, bukan?"
Kedua mataku melebar dan menyiratkan bayangan Hatsune di kepalaku melintas. Apa ini?
Perkataannya untuk menanggung pernikahan bodoh ini, tanggung jawabnya karena telah menyetujuinya. Bukankah dia yang salah karena tidak menolaknya?
Tidak.
Kurasa ini juga akan menjadi kesalahanku jika aku menyalahkannya.
Aku juga tidak berniat menolaknya maupun menerimanya begitu saja ketika mereka mengatakan ini untuk pertama kalinya. Disini aku yang merasa bodoh akan pikiranku yang plin-plan dan egois.
Sungguh, aku belum bisa menerimanya.
Ada alasan lain kenapa aku berada di posisi plin-plan seperti ini dimana aku harus melakukannya untuk mengulur waktu.
Kedua orang tuaku adalah orang penting dalam masing-masing pekerjaannya, mereka akan pergi untuk waktu yang lama dan kembali ke Jepang sebentar untuk menemuiku. Dengan kata lain, aku yang merindukan mereka agar tinggal lebih lama mengurus masalah ini.
Jika aku menerimanya dengan praktis, mereka akan cepat pergi ketika mendapat persetujuanku.
"Bukankah ayah dan ibu terlalu terburu-buru? Hatsune bahkan tidak tahu tentang apapun mengenai ini dengan mengungkapkan pikiran bingungnya."
Aku menoleh pada ibu yang secara langsung dia melihatku balik.
"Mau itu terburu-buru atau tidak, Hatsune-chan sudah menetapkan keputusannya untuk tinggal disini mulai besok. Sekarang, buat keputusan apapun agar kau bisa menerima ini, Yuzui."
Begitu ibu melepaskan kalimat tegas itu, ayah juga melepaskan genggaman tangan dari bahuku. Aku tahu aku masih bocah egois yang tidak memikirkan orang lain, tapi aku bukanlah bocah yang akan mengabaikan keputusan seorang perempuan manapun dimana aku adalah tipe yang sangat menghormati ibuku.
"Baiklah, aku menyetujuinya karena aku menghormati keputusan Hatsune, bukan karena aku menerima perjanjian bodoh di masa lalu."
Perasaan lega terlihat jelas di wajah keduanya. Begitu juga dengan ekspresi berseri-seri mendengar keputusanku disini.
__ADS_1
Tapi segera berhenti dengan jari telunjukku yang memotong kebahagiaan mereka.
"...dengan syarat, jangan paksa aku mencintainya meskipun sudah tertulis sebagai suami-istri di formulir. Biarkan semua berjalan seiring waktu."