
Naskah tebal yang sudah susah payah dicetak oleh produser telah sampai di tanganku. Aku agak heran karena Ritsu yang membagikannya mengingat kesibukan anak itu yang harus mondar-mandir.
Drama yang akan dimainkan adalah kisah ulang yang dimodifikasi dari cerita Rapunzel dari Jerman yang dipadukan banyak komedi di dalamnya. Aku tidak bisa berhenti menggaruk kepalaku saat membacanya.
Ngomong-ngomong ini sudah dekat dengan Festival Sekolah (Bunkasai), pekerjaan akan semakin menumpuk nantinya.
Peranku di drama Rapunzel adalah sebagai berikut tokoh utama yang tidak lain seorang pangeran baik hati dengan misi menyelamatkan tuan putri dari menara yang mengurungnya.
Dan untuk peran putrinya.....
"Oh, kau datang cepat... Tsuchiya!"
"Kerja bagus, Tsuchiya-san!"
Seorang siswa perempuan sebagai puncak aktris sekolah karena kesempurnaannya dalam berbagai bidang dari yang terlihat sampai tidak terlihat. Tsuchiya Tsubasa, dia berada di angkatan yang sama denganku tapi dengan kelas yang berbeda.
Aku baru berbicara dengan Tsuchiya beberapa kali bahkan tidak sampai jari-jariku naik seluruhnya. Tentu saja itu untuk membahas naskah dan sisanya hanya basa basi belaka.
"Urusanmu cepat selesai rupanya, Tsuchiya."
"Terima kasih kerja kerasmu, Tokasaki-kun. Kali ini mari buat chemistry kita dalam drama remake Rapunzelnya."
"Pantas saja rambutmu menjadi lebih panjang, ternyata kau sudah menduga drama ini akan dilakukan, huh?"
"Ah...itu..tidak..."
Telunjuknya memutar beberapa helai rambut sementara matanya melihat ke arah lain. Karena mungkin dia malu mengakuinya jadi aku melambaikan tanganku agar dia melupakannya.
Agenda hari ini adalah pembagian peran dan reaing naskah untuk membuat gambaran sebelum latihan dimulai.
"Seperti biasa, tokoh utamanya tetap Yuzui dan Tsuchiya. Tapi ini sudah kali ke berapa kalian berpasangan?"
"Jaga bicaramu, Kouhei. Orang-orang di sekitar akan salah paham dengan pengertianmu."
Anak laki-laki dengan rambut ikal dengan kacamata palsunya, yang dia pakai untuk menutup kepopulerannya, entah bagaimana dia sudah bersamaku selama satu tahun dalam berbagai drama, Hibiki Kouhei.
Tsuchiya terkikik kecil sebagai tanggapannya kemudian segera membuka naskah yang sudah diberikan Ritsu. Tatapan matanya berubah ke mode panggung dimana kau harus serius dalam berakting.
Sangat menakjubkan seperti biasanya.
"Bagaimana dengan sedikit pemanasan, Tokasaki-kun?"
__ADS_1
"Ya, tidak masalah."
...****************...
"Fiuh....akhirnya pekerjaanku selesai hari ini. Kurasa aku harus mulai mencari kerja paruh waktu sekarang, ara... Yuzui belum pulang?"
Aku baru saja meletakkan tas sekolah di kursi belajar sambil menyadari ranjang sebelah kosong, tirai lebar memang dibuka agar kami bisa mengobrol tanpa halangan.
Diingat lagi kemarin dia memang bilang kalau pulangnya tidak tentu bahkan semakin malam karena sekolah elit itu memberinya banyak kontrak. Menjadi populer memang sulit....
Dipikir-pikir lagi ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan kepribadian Yuzui sejak aku bertemu pertama kali dengannya.
Pertama dia menolak pernikahan mendadak ini, tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk menerimanya dan bahkan mengatakan banyak hal memalukan untuk bisa 'jatuh cinta' padaku. Di awal dia menyuruhku untuk tidak terlalu berharap banyak pada pernikahan ini, tapi sebaliknya.
Kedua, dia tidak menunjukkan emosinya secara tersirat malah lebih blak-blakan untuk memperlihatkannya padaku. Sekarang dia mengatakan berbagai hal yang harusnya tidak perlu dikhawatirkan padaku.
Seberapa banyak dia berusaha tidak peduli padaku ternyata tindakan yang mustahil dia lakukan.
Karena Yuzui memang orang baik.
Meskipun aku memiliki sebuah pemikiran kritis, aku hanya bisa menggambarkan orang seperti Yuzui sebagai orang baik saja tidak lebih. Apa mungkin kesimpulanku terlalu sederhana atau bagaimana aku mengatakannya?
Hari sebelumnya aku mampir untuk pulang setelah sekolah, itulah alasan mengapa aku telat sampai di rumah Yuzui kemarin.
"Jadi bagaimana dengan hidupmu disana, Nee-chan?"
Kurasa dia sudah tidak tahan karena aku tidak membicarakan apapun selama suapan pertama dimulai.
"Nyummm....baik-baik saja, dia menjagaku dengan baik. Kau khawatir?"
"Haha... Ya.. (?) sedikit, kurasa. K-k-kan kau onee-chan ku tentu saja aku khawatir ketika kau berada di tempat baru sendirian."
Adik kecilku sangat imut, lihatlah pipinya memerah.
Ekspresiku sangat datar begitulah yang diartikan dari wajah Utsumi. Bagaimana aku tidak khawatir kalau nee-chan membuat wajah dan mengatakan sesuatu yang bertolak belakang, begitulah artinya.
Sekarang tidak ada ayah dan ibu di rumah, mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja. Pengakuan Utsumi agak membuatku sedikit sedih karena tidak bisa melihat mereka.
"Yuzui itu..."
"Ya, nama suamiku Yuzui."
__ADS_1
"Kenapa kau mengucapkannya begitu?!"
"Eh? Tanda tangan di formulir sudah-"
"Bukan itu maksudku...!"
Utsumi memperbaiki posisi duduknya dan menatapku geram. Aku merasa refleks saja karena sudah lama tidak mengerjainya dan tetap dengan ketenanganku.
"Kudengar dia seorang aktor drama di sekolah elit Fukuzaki,"
"Ya, dia benar-benar membuatku terkejut di awal."
"Nee-chan....kau harus berhati-hati mengenai itu. Menjaganya dalam rumah kurasa lebih baik."
"Aku tidak mengerti maksudmu, katakan dengan jelas, Utsumi."
Menghela napas kasar yang dengan sengaja dikeluarkan, Utsumi melipat kedua tangannya di dada dan bersandar layaknya bos.
Wajahnya....berubah menerkam.
"Jika orang- tidak, Yuzui itu menyakiti nee-chan ku karena pekerjaan atau apapun, bersiaplah dengan jemputan maut dariku."
"Ughh... Kau menakutkan, Utsumi."
"Tidak boleh ada yang menyakiti keluargaku untuk kedua kalinya."
Mendengar kata 'kedua kalinya' aku merasa tercabik-cabik, tanpa sadar aku meremas dada kiriku sampai seragamku kusut.
Dengan cepat Utsumi mendekatiku dan berjongkok di kakiku.
"Maaf, nee-chan. Aku tidak bermaksud-"
"Tidak apa-apa, kau benar. Aku harus menjaga diriku lebih dari apa yang mereka lihat tentangku."
Perlahan ada sesuatu yang menyakitkan menyelinap ke dalam tubuhku melalui angin malam itu.
Sekarang aku yang berbaring di kasurku melihat langit-langit kamar besar ini dalam lamunan.
Rasa sakitnya....belum reda. Tapi kenapa?
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, terakhir kulihat ketika aku sampai masih pukul sembilan. Ternyata aku melamun selama satu jam memikirkan peringatan Utsumi.
__ADS_1
Besok, aku akan bertemu Yuzui lagi.