
Setelah banyak bujukan diantara kami, akhirnya masing-masing mau melakukan apa yang disarankan.
Tadinya Hatsune tidak mau diantar oleh Kato dan aku yang tidak ingin pergi ke sekolah jadi harus bernegosiasi agar dua pulau langsung terlampau dengan satu jalan.
Hari ini aku yang berangkat sendirian karena jarak yang tidak terlalu jauh dan....aku ingin menikmati perjalananku. Setelah menyuruh Kato mengantar Hatsune, kami berpisah seperti biasa.
"Jangan pulang terlalu malam jika tidak ada keperluan."
"Sama denganmu."
Begitulah kami mengucapkan selamat tinggal ketika pergi. Jalanan yang kulihat sekarang terasa lebih berwarna dan menyenangkan, aku tidak begitu mengetahuinya selama ini karena berangkat bersama Kato. Entah kenapa semua yang kulihat sekarang menjadi berwarna, ini masih terlalu pagi untuk berangkat jalanannya masih sepi, aku menikmatinya.
Meskipun aku melihatnya sangat berwarna, ughhh.... Aku belum bisa melupakan apa yang baru kulakukan dengan Hatsune. Apa aku bodoh?
Tanpa kusadari aku menutup wajahku sendiri karena malu sendiri mengingat apa yang kulakukan dan mengatakan sesuatu yang memalukan.
Ternyata sebodoh ini hah?
"HWAAAA.... BODOH!!"
"Hei, bung... Kau mengganggu ketenangan orang pagi-pagi."
"?"
Sosok yang sangat kukenal tiba-tiba muncul dengan mendorongku dari belakang. Ternyata aku terlalu asik dengan jalan kaki, gedung sekolah sudah terlihat sekarang.
"...huu...pasti ada sesuatu yang terjadi sampai kau menyumpahi dirimu sendiri dengan 'oh betapa bodohnya aku' berteriak seperti orang gila pagi-pagi."
"Diam kau, Ritsu. Apa yang kau lakukan pagi buta begini di sekolah, hah?"
Dia mengacungkan jempol sambil merangkul bahuku, sebelah matanya berkedip.
"Oh, kau melupakan sesuatu bukan, Ouji-sama? Sekarang pertunjukanmu akan tiga kali lipat lebih banyak dari sebelumnya, persiapkan dirimu."
"Hentikan panggilan menjijikkan itu, jadi kau menjadi produser lebih banyak pekerjaan mulai sekarang? Selamat..."
"Tenang saja, produser mungkin sibuk tapi tenaga seorang aktor harus lebih diperhatikan. Jaga kesehatanmu, Yuzui."
Aku baru mengingat kalau proposal drama sudah disetujui oleh Ketua OSIS dan sekarang akan lebih sibuk dari sebelumnya. Kupikir aku memang sudah gila dan merasa bodoh karena menerima tawaran begitu banyak.
Kupikir aku juga akan jarang ada di rumah, lalu bagaimana dengan Hatsune nantinya?
__ADS_1
Sementara Ritsu menjelaskan tentang bayaranku selama kontrak drama berlangsung, aku juga berpikir kalau sekolah ini bukanlah sekolah elit biasa. Tapi sekolah ini adalah pencipta berbagai bintang dari banyak bidang dimana mereka akan dilatih sekaligus bekerja di dalamnya.
Mungkin karena inilah dulu aku lebih ingin tinggal sendiri.
Cyutt....
"Hei... Sakit!"
Pipiku dicubit oleh Ritsu karena aku melamun terlalu lama. Dia menaikkan sebelah alisnya.
"Apa kau sudah punya pacar, Yuzui? Aneh melihatmu melamun tapi wajahmu tidak semurung dulu."
Kesimpulan yang dibuat Ritsu cukup membuatku kaget. Dia tidak benar tapi juga tidak salah, aku harus menjaga kerahasiaanku meskipun di depannya.
Dengan cepat aku menepisnya.
"Jangan katakan yang tidak mungkin, aku tidak akan melakukannya jika dia bukan keluargaku."
"Hoho...bukankah itu berarti kau harus menikahinya dulu agar dia- hmmmphh..."
Mulutnya segera kututup agar tidak melanjutkan ke tahap lebih buruk untuk mengungkapkan yang tidak-tidak.
Yah.... Aku yang dulu akan berpikir kalau aktor akan lebih repot jika memiliki seorang gadis yang berhubungan dengannya. Kedua pihak akan saling repot jika begitu hubungan lebih dekat berlanjut.
Aku bahkan tidak bisa disebut lelaki sejati kalau begini.
Menyumpahi diriku seperti orang bodoh yang kekanakan. Tadi pagi saja aku mengatakan sesuatu yang bukan diriku sama sekali.
"Menjadi aktor bukan hambatan untukmu berkembang dalam hidupmu, kau berhak membuat kenangan masa mudamu, Yuzui."
"Aku tidak butuh saran dari gigolo sepertimu."
"Jahat sekali kau menyebutku gigolo!"
Ritsu memang memiliki standar ketampanan yang khas secara fisik dan kepribadiannya yang menyenangkan. Dia sangat sulit bilang 'tidak' ketika seseorang memintanya melakukan sesuatu.
Menyebutnya gigolo bukan karena dia seorang pria panggilan atau semacamnya, Ritsu biasanya diminta oleh para gadis-gadis untuk melakukan sesuatu dan dia tidak pernah menolaknya. Entah itu sebuah kelebihan atau kelemahan yang dimilikinya.
Karena itulah dia hampir dibenci jika seorang gadis telah menjadi pacarnya. Kenyataan yang pahit.
"Terima kasih saranmu, kau juga harus lebih memperhatikan dirimu, Ritsu."
__ADS_1
"Kau tahu aku sangat menyayangimu sebagai apapun di dunia ini, Yuzui."
"Menakutkan."
...****************...
"Cukup, persiapkan diri kalian untuk besok dan istirahat yang cukup. Sampai jumpa."
Aku meneguk air dalam botol sembari melihat jam dinding besar yang ada di tengah gym sekolah. Jarumnya menunjukkan pukul sembilan malam.
Gawat... Ini sudah terlalu larut.
"Terima kasih kerja kerasnya, aku harus pergi dulu! Sampai jumpa besok."
Kakiku langsung berlari keluar dan mengambil sepeda kayuh di lapangan belakang, sepeda memang disediakan sekolah untuk siswa yang pulang lebih malam dan tidak ada kendaraan untuk kembali.
Dengan kecepatan yang bisa kulakukan, aku mengayuhnya tanpa melihat kemana-mana. Jalanan sudah sepi, hanya ada beberapa warung minum yang buka dengan orang-orang mabuk di dalamnya. Keramaian malam ada di dalam dan di luarnya seperti tak ada kehidupan.
Dalam kepalaku hanya teringat kalau sekarang ada orang yang akan menunggu kepulanganku. Sejak pagi aku tidak melupakannya, sedetik pun tidak.
Begitu sampai halaman rumah, aku memarkirkan sepeda dan terburu-buru masuk.
"Hhh...haa..."
"Oh, Yuzui-sama, selamat datang kembali."
Kato menyambut di depan begitu aku membuka pintu.
"Hatsune... Dia sudah pulang, bukan?"
"Hatsune-san baru saja kembali, tadi aku menjemputnya sesuai permintaanmu. Dia sekarang ada di kamar."
Tanpa mengucapkan apapun lagi aku berlari ke kamar dengan pintu yang berbeda dimana aku dan Hatsune berada dalam ruangan yang sama.
Pintu yang terbuka menampilkan seseorang yang dengan tenang melihat ke arahnya sambil memeluk handuk, belum berganti pakaian. Dia benar-benar baru sampai juga.
"Selamat datang kembali, Yuzui. Ternyata kita sama-sama baru kembali, huh..."
Senyuman tipis terasa ringan kulakukan dan perasaanku menjadi lega untuk beberapa saat.
"Aku...pulang. Kurasa kau tidak menunggu terlalu lama, ya."
__ADS_1
"Ya, aku juga. Aku pulang, Yuzui."
Mulai detik ini, kenangan baruku dengan Hatsune menjadi pembuka untuk kenangan lain yang akan kami lakukan di masa depan.