Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?

Terjatuh Ke Bagian Paling Bawah Hidupmu, Bukankah Ada Hal Manis Lain Yang Menunggu?
02 : Perubahan Atmosfer Batin Bagian II


__ADS_3

Aku terkejut untuk alasan yang jelas, bertanya-tanya siapa dia dan apa maksudnya menyeret?


"Dia putraku, Yuzui. Beri salam padanya!"


"Hei, Ibu. Kenapa ak- aaaghh!!"


Tangan besar Hanao-san menjambak sedikit rambutnya dan mendorongnya ke bawah sebagai pertanda salam secara paksa. Dia mengerang kesal tanpa perlawanan.


Aku membalasnya dengan memperkenalkan diriku sopan karena dilihat saja dia memang seorang yang agak kasar.


"Aomori Hatsune, senang bertemu denganmu."


Situasi ini seperti sesuatu yang di luar bayanganku. Sambil melanjutkan perdebatan mereka, aku mengingat kembali apa yang dikatakan ayah saat kegelapan malam kemarin.


Akal sehatku harusnya sudah tidak berfungsi saat itu, tapi jika situasi dibuat seperti ini harusnya ada sesuatu yang harus dia ingat untuk membuat kebingunganku menjadi jelas.


Memutar otakku kembali menuju apa yang dikatakan keluargaku ketika di dalam kamarku.


Nihil.


Aku hanya ingat Utsumi memarahiku dan mengataiku menjijikkan setelah itu ayah mengusirnya. Dan....hanya itu, aku tidak mengingat apa yang ayah katakan!!!


"Perjodohan di usia ini terlalu menjijikkan! Ini sudah bukan zaman dimana kalian yang harus memilihkan pasangan untukku."


"Eh? Apa maksudnya perjodohan?"


Perkataan spontanku cukup keras dan dengan cepat Yuzui meneriakkan kebingunganku sebagai kebodohan. Dia menoleh pada orang tuanya.


"Dia bahkan tidak tahu kenapa dia dibawa kesini dengan tampang bodohnya!"


"Dengar dulu, kalian berdua. Aku tahu masa labil ini, jadi duduk dan dengarkan kami."


Hanao-san duduk di sebelah istrinya dan menghadap ke arahku tanpa keterkejutan apapun. Yuyuka-san menajamkan penglihatannya pada putranya yang membuatnya duduk meski enggan.


Ada sesuatu yang tidak aku ketahui - tidak, bukan tidak kuketahui. Tapi tidak dipahami olehku ketika aku sudah mengetahuinya.

__ADS_1


"Aku tahu kondisi Hatsune-chan kemarin karena Rintaro memberitahuku, tapi aku tidak akan mengatakannya sekarang."


Jadi Hanao-san sudah tahu...


Yuzui yang duduk di sebelahku mengeraskan rahangnya karena marah. Aku yakin dia tidak akan melawan ibunya meskipun terlihat kasar di luar.


Jika dia sungguh-sungguh menolak apa yang terjadi, dia pastinya akan menentang dengan berbagai cara. Tapi dia tidak melakukannya meskipun dia tahu akan dijodohkan, dia pria yang baik, kurasa.


"Bisakah kau tinggal disini mulai besok, Hatsune-chan?"


"Aku....jujur saja aku masih bingung dengan situasi yang berubah cepat."


"Ini benar-benar mendadak, maaf Hatsune-chan, tapi aku tidak menyarankan untukmu menolak apa yang dikatakan oleh Hanao-kun. Tidak ada pilihan selain menerimanya."


Yuyuka-san mendukung dengan argumen berbelit-belit lagi yang entah kenapa dapat langsung dipahami olehku.


Jika besok aku akan tinggal disini dengan alasan tidak ada pilihan lain, aku hanya bisa pasrah dengan keputusan bodohku sebagai penebusan dosaku pada orang tuaku.


Yang ingin aku ketahui adalah kenapa pilihan lain itu tidak ada?


Aku butuh penjelasan.


"Sebenarnya aku juga tidak berniat menolak apapun karena aku yang bertanggung jawab atas keputusanku. Tapi jika kalian memberiku waktu sampai besok, aku akan mencari tahu jawaban atas pertanyaanku sebelum kembali lagi ke rumah ini."


Kedua orang itu mengembangkan senyum bahagia dan bangga atas apa yang aku katakan. Yuzui di sebelahku hanya menoleh tanpa ekspresi wajah yang jelas.


"Kami menunggumu disini sampai besok, Hatsune-chan."


Atmosfer batinku berubah dengan gesit secepat kilat. Kemarin adalah sebuah 'peristiwa', malam yang gelap karena depresi, esok pagi yang 'normal', dan sekarang pernyataan yang disampaikan sudah membuat gejolak hatiku terlatih.


Dengan begini kesepakatan terbentuk dimana satu pihak masih belum bisa menerima kenyataan.


...----------------...


Tubuhku ditarik oleh salah seorang penjaga pribadi ayah ketika aku sedang di tengah acara gladi drama yang akan kumainkan. Seisi Gym sekolah melihatku dengan tanda tanya besar di kepala mereka.

__ADS_1


"Yuzui?"


Ritsu melewatiku begitu saja tanpa aku sempat melihatnya. Percuma saja aku menyuruhnya melepaskanku, tapi dia tidak mendengarkan walau aku mengancamnya.


Aku sudah tahu tentang kenapa aku ditarik seperti ini. Alasannya adalah aku akan dijodohkan!


Yang benar saja! Aku sangat menolak permintaan gila dari orang tuaku, mereka harusnya tahu aku masih duduk di bangku tahun kedua SMA.


Usiaku bukan waktu yang tepat untuk menikah tapi mereka tidak mendengarkan dan terus membicarakannya selama seminggu dan hari ini adalah hari dimana aku akan dipertemukan oleh pihak gadis.


Bodohnya, aku tidak melakukan perlawanan maupun memberontak secara spontan selama seminggu. Seolah-olah aku membiarkan apa yang terjadi biarlah terjadi.


Bukan karena aku tidak bisa....


Aku berteriak pada beberapa orang di rumah ketika sampai, salah satunya adalah ayahku. Dia tetap dengan posisi tenang dan riang karena melihatku. Kemudian dia berbisik,


"Jangan membuatnya menunggu, dia cukup melalui hari yang berat untuk sampai kesini. Jika kau tidak suka, masuk saja dan diam disana, jangan buat runyam situasi."


Hari yang berat? Apa itu cuma omong kosong.


Meski ayah berkata begitu, aku tetap mengutarakan apa yang ingin kukatakan dengan keras sampai suara berisik terdengar di seluruh koridor.


Begitu aku masuk ruang tamu, aku melihat sosok gadis normal yang terlihat kebingungan. Entah kenapa aku menjadi kesal dengan tatapannya.


Segera diikuti oleh tatapan tajam ibu yang mengarah padaku langsung, aku segera mengikuti perintah dan duduk diam di sebelahnya. Kalau tidak salah namanya Aomori(?)


Ayah memberikan pernyataan yang membuatnya terkejut dan aku menyimpan rasa yang sama tanpa menunjukkannya. Disini yang benar-benar membuatku terkejut adalah jawabannya yang mengarah pada 'tidak tahu'.


Kegeraman yang kurasakan tidak terbendung dan akhirnya aku mengeluarkan suara keras....lagi. Aomori sama sekali tidak terkejut maupun bertanya-tanya terhadap sikapku atas kebingungannya.


Penjelasan berlangsung dengan singkat berakhir dengan kalimat yang juga membuatku berpikir. Perasaanku seperti berubah dari atmosfer yang dia berikan secara tidak sadar.


Sebenarnya aku juga tidak berniat menolak apapun karena aku yang bertanggung jawab atas keputusanku.


Dia.....

__ADS_1


__ADS_2