Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Extra part (Orang tua baru Arthur)


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Windi terlihat menatap gundukan tanah di depannya dengan wajah sendu dan sembab. Sedangkan Marvel yang berdiri di sampingnya nampak sedang menenangkan Arthur yang sedang menangis digendongannya.


"Mommy... Arthur mau Mommy..." anak laki-laki kecil itu terlihat mengulurkan sebelah tangannya ingin menggapai gundukan tanah di depannya.


"Arthur, tenanglah, Nak... Mommy saat ini sudah tidak sakit lagi dan sedang berbahagia di atas sana." Ucap Marvel mencoba menenangkan Arthur.


"Mommy... hua..." Arthur tak mendengar perkataan Marvel. Ia masih saja menangis menunjukkan sisi lemahnya ditinggalkan oleh seorang ibu yang sangat menyayanginya sejak lahir.


"Arthur..." Windi yang tersadar dari lamunannya langsung mengusap rambut Arthur. "Jangan bersedih lagi. Saat ini ada Tante dan Om yang akan menyayangi Arthur." Tutur Windi lembut.


Mendengar perkataan Windi membuat tangisan Arthur mulai menyurut. "Mommy bilang Arthur harus jadi anak yang baik dan penurut dengan Tante. Mommy bilang Mommy ingin Arthur menyayangi Tante seperti menyayangi Mommy." Ucap Arthur sambil terisak.


Windi mengangguk membenarkannya dengan air mata mengalir di kedua pipinya. "Apakah Arthur bersedia mewujudkan keinginan Mommy? Apa Arthur bersedia menyayangi Tante seperti Arthur menyayangi Mommy?" Tanya Windi.


Arthur mengangguk seraya terisak. Marvel pun mendekap erat tubuh Arthur berharap dapat menyalurkan kekuatan pada Arthur.

__ADS_1


Tuhan... kenapa anak sekecil Arthur harus kau beri ujian seberat ini. Tuhan... hamba mohon berilah kekuatan pada Arthur agar dapat menerima ujian ini dan kami dapat mewujudkan keinginan terakhir Jasmin untuk merawat Arthur dengan baik. Ucap Windi dalam hati.


Marvel menurunkan Arthur dari gendongannya setelah Arthur cukup tenang. Arthur pun segera berjongkok di depan gundukan tanah setelah Marvel menurunkannya. "Mommy... apa benar Mommy tidak sakit lagi? Apa Mommy sudah bahagia saat ini bersama Tuhan?" Tanya Arthur.


"Benar, Nak... saat ini Mommy sudah sembuh dan sedang berbahagia di atas sana." Timpal Windi.


Arthur mengangkat kepalanya dan menatap wajah Windi dengan sendu.


"Tante..." ucap Arthur lalu memeluk kaki Windi dengan kedua tangan mungilnya.


Setengah jam berlalu, kini Marvel, Windi dan Arthur sudah berada di dalam mobil menuju kediaman mereka. Selama dalam perjalanan Arthur hanya diam dengan menatap kosong ke depan.


"Arthur..." suara lembut Windi membuat Arthur menoleh pada Windi.


"Iya, Tante." Jawab Arthur pelan.


"Bolehkah mulai saat ini Arthur mengganti nama panggilan Arthur untuk Tante?" Tanya Windi.

__ADS_1


Arthur menatap Windi dengan wajah bingung karena ia tidak mengerti maksud perkataan Windi.


"Bolehkah mulai saat ini Arthur menanggil Tante dengan sebutan Ibu?" Pinta Windi.


"Ibu?" Ulang Arthur yang diangguki Windi sebagai jawaban. "Bolehkah, Nak? Arthur memanggil Tante dengan sebutan Ibu dan memanggil Om Marvel dengan sebutan Ayah?" Pinta Windi.


"I-ibu..." ucap Arthur terbata.


Windi mengangguk membenarkannya. "Mulai saat ini sampai seterusnya Arthur adalah anak Ibu dan Ayah. Anggaplah Ibu dan Ayah sebagai orang tua kandung Arthur sendiri." Pinta Windi lagi.


"Ibu..." Arthur memeluk erat pinggang Windi.


Windi pun tersenyum mendapatkan pelukan hangat dari Arthur. "Terima kasih, Nak. Terima kasih karena telah bersedia memanggil Ibu." Ucap Windi dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Ibu..." ucap Arthur semakin mengeratkan pelukannya. Marvel yang sedang fokus pada kemudinya pun tersenyum melihat interaksi Windi dan Arthur dari kaca spion mobilnya.


***

__ADS_1


__ADS_2