Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Terbuat dari apa hatimu?


__ADS_3

"Apa kau sudah selesai?" Tanya Marvel saat Windi keluar dari ruangan perawatan Jasmin dengan wajah sembab.


Windi mengangguk tanpa bersuara.


Marvel dapat menangkap jika tadi ada percakapan serius diantara Windi dan Jasmin hingga membuat istrinya bersedih seperti saat ini. Walau dapat melihat kesedihan di wajah Windi, namun Marvel memilih enggan untuk bertanya dan membiarkan istrinya untuk berpikir atas apa yang terjadi.


"Jhoni, aku dan Windi pulang dulu." Pamit Marvel pada asistennya.


"Baik, Tuan." Balas Jhoni.


Marvel menggenggam erat tangan Windi lalu membawanya pergi dari lantai ruangan perawatan.


"Apa kau ingin menikmati waktu dengan jalan-jalan malam ini?" Tawar Marvel setelah mereka masuk ke dalam mobil.


Windi menggeleng. "Kita pulang saja, ya?" Pintanya.


Marvel menggangguk. "Baiklah." Balasnya tak ingin bertanya lebih lanjut.


Mobil pun mulai melaju meninggalkan perkarangan rumah sakit. Selama dalam perjalanan menuju rumah, Windi nampak hanya diam dengan kepala tertunduk mengingat apa yang Jasmin katakan tadi kepadanya.


Jasmin... aku yakin kau akan baik-baik saja. Ucap Windi dalam hati dengan tangan yang saling bertaut.


Sesampainya di depan rumah, Windi langsung keluar dari dalam mobil dan segera melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Huft..." Marvel hanya bisa menghembuskan nafas kasar di udara. Sudah dapat ia pastikan jika suasana hati istrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja setelah bertemu dengan mantan kekasihnya itu.


Ceklek


Windi membuka pintu kamar tamu lalu melangkah pelan di dalam kamar menuju ranjang dimana Arthur kini nampak sudah terlelap di sana.


"Ar-arthur..." gumam Windi dengan menahan air mata di pelupuk matanya. Ditatapnya lama wajah polos Arthur yang sedang tertidur. "Arthur... berdoalah agar Mommymu akan baik-baik saja." Gumam Windi.


Setelah cukup lama berada di dalam kamar Arthur, Windi pun keluar dari dalam kamar setelah sebelumnya menyempatkan mencium kening Arthur.


"Apa kau sudah selesai?"


Baru saja keluar dari dalam kamar, Windi dikejutkan dengan keberadaan Marvel di depan kamar Arthur.


"Aku menunggumu di sini sejak tadi. Apa sekarang kau sudah selesai?" Tanya Marvel.


Windi mengangguk. "Maaf telah membuatmu menunggu." Sesalnya.


"Tak masalah. Ayo kita ke kamar." Marvel meraih sebelah tangan Windi dan menggenggamnya.


Windi mengangguk lalu mengikuti langkah Marvel hingga masuk ke dalam kamar.


"Windi, kita tidak bisa merubah takdir Tuhan. Yang hanya bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berusaha agar semuanya baik-baik saja." Tutur Marvel.

__ADS_1


Windi menatap wajah Marvel yang tengah menatapnya dengan intens. "Baik, Mas." Jawab Windi yang sudah paham kemana arah pembicaraan Marvel.


"Mas..." ucap Windi kemudian.


"Ada apa?" Tanya Marvel.


"Mas, bisakah mulai saat ini Mas belajar menerima Arthur di hidup kita?" Tanya Windi hati-hati.


"Aku sudah menerimanya." Jawab Marvel singkat namun berhasil membuat Windi merasa lega mendengarnya.


"Terima kasih, Mas." Ucap Windi lalu memeluk erat tubuh Marvel. Ia tak melepaskan pelukannya di tubuh Marvel seolah ingin menyalurkan rasa sesak yang sedang ia tahan saat ini.


"Tidak perlu berterima kasih." Jawab Marvel kemudian.


Windi hanya diam dengan mata terpejam. Setelah cukup lama memeluk erat tubuh Marvel, Windi pun berpamitan masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"Windi... sebenarnya terbuat dari apa hatimu itu? Kau dengan tulusnya memintaku menerima anak dari mantan kekasihku." Ucap Marvel menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2