Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Extra part (Permintaan Tuan Morgan)


__ADS_3

Tidak terasa saat ini usia kandungan Windi sudah menginjak lima bulan dan saat ini Marvel dan Windi sudah mengetahui jenis kelamin anak mereka setelah memeriksa kandungan Windi ke dokter kandungan.


"Sayang, aku sungguh bahagia karena jenis kelamin anak kita perempuan." Ucap Marvel sambil mengusap perut Windi yang sudah membuncit.


Windi tersenyum mendengarnya. Memiliki anak perempuan memanglah impian Marvel sejak awal ia mengandung. Suaminya itu berkata jika ia menginginkan anak perempuan karena dulu ia pernah memimpikan seorang adik perempuan namun tak mungkin terwujud dan kini ia mendapatkan keinginannya sebagai seorang anak darinya.


"Jika anak kita ternyata laki-laki apa kau tidak bahagia, Mas?" Goda Windi pada suaminya.


"Tentu saja aku juga bahagia, Sayang. Tapi aku lebih bahagia jika anak kita perempuan." Marvel tertawa di akhir ucapannya.


Windi hanya tersenyum seraya menggeleng mendengar jawaban suaminya itu.


Karena tak ingin membuang waktu lama di rumah sakit mengingat ada Arthur putra angkat mereka yang sedang menunggu kedatangan mereka di rumah, akhirnya Marvel dan Windi pun bergegas untuk pulang ke kediaman mereka


*

__ADS_1


"Hore... Arthur akan memiliki adik perempuan." Sorak Arthur setelah mendengar dari Windi dan Marvel jika jenis kelamin anak merek adalah perempuan.


Windi dan Marvel saling tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Arthur. Mereka sungguh bersyukur karena Arthur saat ini sudah menerima keadaan dengan baik dan mau menganggap anak yang ada dalam kandungan Windi sebagai adiknya.


"Arthur, jika adik bayi sudah lahir nanti, Arthur memiliki kewajiban untuk menjaga adik hingga dewasa, ya." Ucap Marvel lembut sambil mengusap rambut Arthur.


"Baik, Ayah." Jawab Arthur bersemangat.


Dengan bertambahnya waktu dan hari bersama Windi dan Marvel, Arthur kini sudah dapat mengurangi kesedihannya karena kepergian Jasmin. Kasih sayang tulus yang Marvel dan Windi berikan benar-benar diterima dengan baik oleh Arthur hingga membuat Arthur sangat menyayangi mereka.


Setelah percakapan mereka selesai di ruang tamu dan Arthur kini sudah dibawa oleh Windi ke kamar untuk tidur siang, akhirnya Marvel pun berpamitan untuk kembali sebentar ke perusahaan karena saat ini ketiga sahabatnya sedang menunggu kedatangannya di sana.


*


"Cukup lama sampai kami bisa menghabiskan menonton satu judul film di sini." Jawab Dio.

__ADS_1


Marvel melirik layar laptopnya yang masih hidup. "Kalian habis menonton apa dari laptopku?" Selidik Marvel.


"Hanya menonton film yang sudah kau simpan di sini beberapa tahun lalu." Jawab Dio sambil tersenyum miring.


"Kau... kau melihatnya?" Marvel berubah panik.


Dio mengangguk membenarkannya. Melihat anggukan kepala dari Dio tentu saja membuat Marvel semakin panik karena ia takut Dio sudah melaporkan hal yang tidak-tidak pada Windi tentang video yang baru mereka tonton.


"Marvel, Dio, sudahlah." Ucap Daniel memutuskan percakapan Dio dan Marvel.


Melihat tatapan penuh arti dari Daniel membuat Dio terdiam tak melanjutkan niatnya untuk mengerjai Marvel.


Marvel pun menghembuskan nafas kasar di udara lalu menjatuhkan bokongnya di atas sofa yang berhadapan dengan ketiga sahabatnya.


"Jadi apa tujuan kalian datang ke sini?" Tanya Marvel karena ia tidak diberitahu tujuan ketiga sahabatnya datang ke perusahaannya.

__ADS_1


"Kami datang untuk mengingatkanmu tentang permintaan Tuan Morgan dua tahun lalu." Ucap Daniel yang membuat Marvel bingung mendengarnya.


****


__ADS_2