
Author ucapkan terima kasih para readers yang selalu dukung karya-karya author selama ini tanpa kalian apalah daya Author yang hanya sebagai seorang penulis recehan bak rempahan rengginang goreng🤭🤭🤭
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Seorang gadis dengan pakaian lusuhnya sedang duduk dibawah pohon rindang yang menghalaunya dari teriknya sinar matahari siang itu, disekanya keringat yang menetes jatuh membasahi wajah kusamnya namun menyimpan kecantikan bila tersentuh dengan cream kecantikan, namun jangankan buat membeli produk kecantikan dirinya bisa menghasilkan uang yang tak seberapa itupun sudah sangat bersyukur untuk menyambung hidup dengan sang bunda.
Dipandanginya tumpukan kue yang terbungkus plastik masih menyisa beberapa tumpuk itu dengan aneka jenis jajanan didalam sebuah keranjang berwarna hijau itu, kue hasil tangannya sendiri dan dibantu dengan ibunya karena sang ibu memang paling ahli untuk membuat kue-kue tradisional.
Dihembusnya nafas dengan kasar lalu tangannya merogoh kantong celananya dan segera menarik keluar isi didalamnya.
"Satu...dua...tiga...huft, bagaimana bisa beliin obat ibu kalau cuma segini." Gumam gadis itu dengan sendu setelah menghitung lembaran demi lembaran yang nominalnya tidak seberapa bahkan uang itu nampak lusuh namun bagi gadis yang berusia 20 tahun itu sangat berharga karena masih bisa untuk bertahan hidup ditengah kejamnya hidup di ibu kota.
"Bapak." Lirihnya dengan menyandarkan tubuhnya dipokok pohon besar itu sambil membayangkan wajah pria paruh baya yang sudah 10 tahun mengusir mereka berdua dari rumah yang sejak kecil ditempati dan membawa masuk istri keduanya tanpa menghiraukan keadaan mereka berdua, karena memang fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan.
Malika Aziza, gadis yang kerap disapa Lika oleh para tetangganya adalah sosok gadis yang berhati lembut, baik hati namun memiliki jiwa yang tegas didalamnya, tidak mudah gadis seusianya mengais rejeki di ibukota apalagi hanya menjual kue-kue tradisional saja dan tidak memiliki pengalaman lain.
Lika terpaksa berhenti bersekolah saat sang ibu sudah mulai sakit-sakitan dan dirinya harus menggantikan sang ibu untuk mencari rejeki dengan berjualan kue, sebab mereka hanya tinggal berdua saja dirumah sederhana yang hanya sanggup ibunya beli 10 tahun lalu setelah tragedi memilukan itu.
Lika menghembuskan nafas dengan perlahan lantas dirinya segera bangun dari duduknya setelah dirasa cukup untuk beristirahat, karena jika tidak cepat menghabiskan dagangannya dirinya tidak akan mungkin bisa mendapatkan rupiah demi rupiah untuk membeli makanan serta membantu ibunya agar dapat membeli obat.
Beberapa jam kemudian akhirnya kue-kue yang dibawa olehnya pun habis tak tersisa dan dirinya bersyukur masih bisa diberi kelancaran dalam mencari rejeki walau hasilnya yang tidak seberapa.
Perlahan namun pasti langkah gadis itu membawanya untuk pulang kerumah sederhana yang disana sudah ada sang ibu yang telah menunggu kepulangannya.
Sepanjang jalan dirinya menyapa dan menipiskan senyum saat berpapasan pada tetangganya, bersyukur Lika mempunyai tetangga yang baik hati dan kerap menolongnya namun tidak dengan percuma sebab Lika tidak ingin dikasihani dan sebagai gantinya Lika akan mengerjakan pekerjaan rumah atau membantu tetangganya untuk mengasuh anak-anak mereka jika ditinggal bekerja.
Senyum Lika melebar saat matanya menangkap bayangan wanita paruh baya yang sudah melahirkannya sedang berada di depan rumah mereka.
"Mama"...
__ADS_1
Ucapnya sedikit keras dan buru-buru melangkahkan kakinya untuk segera masuk kedalam rumah sederhana itu.
Wanita paruh baya itu langsung menoleh saat mengenali suara seorang gadis dan senyumnya ikut melebar saat putrinya sudah pulang.
Terkadang wanita paruh baya itu merasa sangat bersalah terhadap Lika, sebab seharusnya dirinya lah yang mencari nafkah namun apa daya sakit yang diderita 5 tahun lalu itu membuat putri semata wayangnya harus putus sekolah dan hanya mengenyam pendidikan hingga SMP saja.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat dipipi wanita yang sudah nampak berkeriput itu sedangkan sipelaku langsung melenggang begitu saja sambil sesekali bersenandung membuat wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang terkadang masih manja terhadapnya.
"Dasar anak itu." Kekehnya pelan dan langsung mengikuti sang putri yang sudah masuk duluan kedalam rumah.
Sebut saja dia Mina, wanita paruh baya yang kini usianya sudah menginjak 42 tahun, dengan perlahan Mina melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah sederhana yang dibeli 10 tahun silam, rumah yang sungguh sederhana sekali namun dirinya bersyukur masih dapat memiliki rumah sendiri dan bukan mengontrak atau menyewa.
Mina menderita struk ringan, hingga membuatnya sedikit kesulitan berjalan namun dirinya masih bisa berjalan kesana kemari walau sedikit lambat dan hal itu pula membuatnya tak bisa berjualan kembali seperti dulu.
Beberapa saat kemudian Lika keluar dari dalam kamar setelah membersihkan diri dikamar mandi yang ada dibelakang dekat dapur.
Grep.
Mina seketika menghentikan aktifitasnya dan mengelus dengan lembut tangan putrinya yang melingkar diperutnya.
"Cape?" Tanya Mina dengan lembut.
"Sedikit ma, tapi hilang kalau sudah ngelihat menu favorit Lika." Jawabnya sambil menggoda sebab matanya saat ini sedang melirik menu diatas meja makan sederhana itu.
Mina seketika terkekeh mendengar penuturan putrinya lantas menyuruh Lika untuk segera duduk dan menyantap makan siang yang sudah terlambat sebab sang putri pulang jam 1 siang hari ini.
Lika lantas menuruti ucapan mamanya dan segera mendudukkan tubuh rampingnya diatas kursi lusuh berwarna hijau pudar tersebut.
Mina langsung memberikan piring yang sudah diisi nasi olehnya dan Lika lantas mengambil piring tersebut sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih ke mamanya.
Karena sudah lapar plus dihadapannya ada menu favoritnya, Lika segera menyendok sambal goreng tempe dan tumisan kangkung yang sejak dulu menjadi kesukaannya apalagi masakan mamanya yang tiada duanya itu membuatnya selalu bersemangat setiap menyantap hidangan yang ada diatas meja.
Menu sederhana namun mampu membuat perut seorang gadis cantik itu menjadi kenyang dan biasanya dia akan menambah porsi makan siangnya jika sudah telat untuk makan.
__ADS_1
Dan beruntungnya Lika mempunyai body yang diidamkan setiap kaum wanita, sebab biar banyaknya makanan yang masuk kedalam tubuhnya tidak akan membuatnya gemuk seperti mamanya yang sama memiliki body cantik walau usia sudah tidak lagi muda.
Mina lantas tersenyum melihat cara makan putrinya yang tidak seperti gadis lain, Lika dengan apa adanya tidak pernah malu dengan cara makan yang terlihat seperti orang kelaparan atau layaknya kuli, dia tidak akan pernah menanggapi ucapan orang lain begitu pula dengan Mina.
"Mama nggak makan?"...
Tanya Lika dengan mulut yang penuh itu karena melihat mamanya tidak mengambil piring.
"Telan dulu sayang kalau mau bicara"...
Ucapnya sambil memberikan segelas air putih ke putrinya.
"Mama sudah makan duluan tadi, kan mama harus minum obat"...
Jawabnya dengan jujur dan Lika menganggukkan kepalanya pelan lalu memasukkan kembali makanan yang masih ada dipiringnya.
Mina memperhatikan putrinya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik, dirinya seketika ingat kepada mantan suaminya, tidakkah dia rindu dengan putrinya yang sudah beranjak dewasa ini, pernahkan dia mencari keberadaan putrinya.
Terkadang dirinya menangis ditengah malam yang sunyi, bukan karena merindukan sang suami namun memikirkan sang putri yang tidak mendapatkan kasih sayang sejak putrinya dilahirkan sebab suaminya menginginkan seorang putra.
Lalu siapakah yang akan menjaga putrinya nanti jika suatu hari umurnya tidak lagi panjang dan meninggalkan sang putri untuk selama-lamanya.
Air matanya menetes namun secepat kilat dihapusnya agar yang putri tidak melihatnya menangis.
Tanpa tau ternyata Lika melihat mamanya menangis namun dirinya menundukkan kepalanya sambil terus menyuapkan nasi yang tinggal sedikit dengan mata yang sudah mengembun.
Mohon dukungannya Readers, Novel terbaru yang mom terbitkan dihari yang spesial ini😍😍
Semoga syuka dengan karya mom selanjutnya.
Like.
Vote.
Gift.
__ADS_1
😘😘😘