Terjerat Rindu Terlarang

Terjerat Rindu Terlarang
TRT Tangis seorang gadis


__ADS_3

Happy ReadingπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Like.


Vote.


Gift.


Lika merenggangkan kedua tangannya,saat ini dirinya sangat lelah dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam sebab dirinya mengambil jam lembur, walau lelah namun dia sangat bersyukur sebab masih bisa diberi kepercayaan untuk bekerja walau hanya beberapa hari.


Kini dirinya sedang berjalan sendirian menyusuri jalanan besar yang masih sangat ramai oleh kendaraan yang kesana kemari.


Lika menghembuskan nafas dengan kasar dan sedikit mengeratkan jaket lusuh yg dikenakannya sebab dinginnya malam menembus hingga kekulitnya, jika malam pasti sudah tidak ada angkutan umum yang ada hanyalah taxi dan ojek online, jika Lika menggunakan salah satu kendaraan tersebut pasti biayanya sedikit mahal namun dirinya juga bingung harus pulang menggunakan apa sedangkan perasaannya sejak tadi siang sudah tak karuan, namun dirinya berharap semua baik-baik saja.


Tin...tin...


Langkah Lika terhenti saat mendengar suara klakson dan sebuah kendaraan berhenti didepannya hingga dirinya mengeryitkan dahi.


Seseorang tersebut lantas membuka kaca helm dan ternyata adalah seorang perempuan yang baru dikenalnya.


"Ayo mbak antar, sudah malam ini"...


Ajak perempuan yang bernama Tia itu.


Lika menggeleng pelan.


"Nggak usah mbak, mbak duluan aja, nanti anak mbak nyari lagi"...


Tolaknya dengan halus sambil tersenyum.


"Udah ayo, nggak papa kok...ada ibu mbak dirumah yang jaga, udah ayo naik keburu malam"...


Tia sedikit memaksa Lika agar mau diantar olehnya dengan menyodorkan helm yang memang selalu ada dimotor maticnya, sebab dirinya tidak tega jika ada seorang gadis yang sebaya dengan adiknya pulang malam sendirian walaupun dirinya baru kenal sama seperti Anis waktu awal bekerja di sana.


Lika akhirnya menganggukkan kepalanya dan menerima helm tersebut sambil tersenyum tipis dan segera naik keatas jok penumpang sedangkan Tia segera menstater motor maticnya setelah memastikan Lika duduk dengan aman kemudian melajukan motor kesayangannya dengan kecepatan sedang sebab suasana masih ramai dengan para pengendara.


Hampir satu jam kemudian Lika akhirnya sampai tepat didepan rumahnya, gang sempit serta suasana yang sudah sunyi karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 10 malam.


Tia mematikan mesin motornya sambil menengok kebelakang dimana Lika sedang turun dari motornya dan membuka helm yang dikenakan.


"Terima kasih ya mbak, maaf Lika merepotkan mbak Tia"...


Ucapnya tak enak hati kepada wanita yang mempunyai seorang putri itu.


"Santai aja Lika, mbak seneng kok bisa bantu kamu, ya sudah mbak pulang dulu ya, soalnya dah malam nih"...


Ucapnya dengan tersenyum tipis sambil memasang kembali helm miliknya.


"Iya mbak, sekali lagi terima kasih"...


Lika sambil memberikan helm yang tadi dipakainya dan diterima oleh Tia.


Tia segera menyalakan mesin motornya kemudian melajukan kendaraannya setelah berpamitan kepada Lika.

__ADS_1


Sedangkan Lika segera membalikkan tubuhnya namun matanya seketika menyipit saat rumahnya dalam keadaan gelap dan tadi saat dirinya turun dari motor belum memperhatikan keadaan rumahnya karena saking capeknya.


Lika segera mempercepat jalannya dengan jantung yang berdebar lebih kencang.


"Ma...Mamaaa..."...


Panggilnya saat sudah masuk kedalam rumah dan segera meraba mencari saklar lampu yang sudah dia hafal tempatnya dimana.


Byar.


Matanya menelisik kesetiap sudut rumah dan tidak ada yang berubah hanya tempat duduk lusuh yang agak bergeser.


"Maaaa..."...


Panggilnya sedikit keras sambil memeriksa kamar mamanya.


Kosong.


Ruangan 3Γ—3 itu nampak kosong, membuat fikirannya semakin tak karuan lantas dirinya keluar dari kamar mamanya dengan keadaan sangat panik karena takut terjadi apa-apa pada mamanya hanya wanita paruh baya itulah satu-satunya orang yang dia punya dan dia sayangi.


Tok...tok.. tok...


Suara ketukan terdengar membuat Lika mengurungkan niatnya untuk mencari mamanya dibagian dapur.


Dengan raut wajah khawatir dirinya segera berjalan menuju pintu depan rumah dan dilihatnya ada seorang lelaki paruh baya yang dikenalinya berdiri diambang pintu.


"Pak RT"...


Ucapnya pelan sambil berjalan mendekat.


Ucap pria paruh baya yang dipanggil pak RT oleh Lika.


degh.


Tubuh Lika seketika mematung saat mendengar kabar barusan dan air matanya seketika menetes.


"Terima kasih pak...terima kasih sudah memberi tahu Lika"...


Ucapnya sambil menangis dan segera berlalu meninggalkan Pak RT yang masih ingin berbicara namun sepertinya Lika sudah tak sabar ingin melihat keadaan mamanya.


"Kasian sekali kamu nak"...


Lirihnya sambil menutup pintu rumah Lika, warganya yang belum lama tinggal dilingkungannya.


Lika menangis sambil berlari dan tujuannya kali ini adalah mencari kendaraan yang bisa membawanya sampai dirumah sakit tersebut yang jaraknya cukup jauh dan hanya rumah sakit itulah yang paling terdekat.


Lika menengok kesana kemari dan tak ada kendaraan yang lewat selain mobil pribadi, dirinya sungguh khawatir sekali dengan keadaan sang mama, dirinya berharap masih bisa menyembuhkan dan membahagiakan wanita yang dicintainya itu.


Sedangkan disisi lain sebuah mobil hitam melaju membelah jalanan yang tidak biasa dilewati sebab jalanan yang biasanya sedang macet total karena terjadi kecelakaan.


Dugh.


"Bisakah kau mengendarai mobil dengan benar, bawa mobil seperti bawa sepeda saja"...

__ADS_1


Sentak seorang pria dengan kesal setelah menendang belakang kursi pengemudi.


Gleuk.


Pria yang dibalik kemudi meneguk ludah dengan kasar saat Tuan mudanya merasa kesal padanya, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa sebab jalanan yang dilaluinya adalah jalanan pemukiman yang banyak rumah penduduk bukan jalan raya yang bisa menaikkan kecepatan.


Leon melepaskan dasinya dengan kasar dan membuangnya begitu saja seolah tak ada harganya, padahal harga dasinya saja bisa membeli sepeda motor terbaru sebanyak 2 buah.


Orang kaya mah bebas yakπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Pandangan matanya menatap kearah samping jendela mobil mahal yang digunakannya saat ini dan beberapa hari lagi dirinya akan kembali ke Negara asalnya.


Lika yang kebingungan mencari sebuah taksi ataupun ojek yang lewat tak juga dijumpai alhasil dirinya terpaksa akan menstop sebuah kendaraan yang dilihatnya dari kejauhan dan diyakini jika itu adalah sebuah mobil.


Perlahan mobil bergerak mendekat kearahnya hanya tinggal beberapa meter saja dan dengan keberanian dirinya melangkahkan kakinya hingga kini berdiri ditengah-tengah jalan dengan kedua tangan yang melambai-lambai menandakan bahwa dirinya membutuhkan bantuan sambil mulut yang berkomat-kamit berdoa semoga Tuhan berbaik hati memberikannya pertolongan untuk membawanya agar sampai ketujuan.


Sopir yang mengendarai mobil mewah itu langsung menghentikan mobilnya tepat 1 meter didepan seseorang yang berdiri ditengah jalan secara tiba-tiba.


Ckit.


"Yak...apa kau mau mati Jo"...


Sentaknya saat tubuhnya tiba-tiba limbung kearah depan.


"Ma...maaf Tuan muda, it...itu...ada seseorang yang tiba-tiba berdiri ditengah jalan"...


Ucapnya terbata-bata dengan keringat dingin apalagi melihat tatapan mata tajam milik Tuannya itu.


Leon baru akan membuka mulut namun ia urungkan saat pintu sopirnya digedor-gedor dari luar dan dia melihat bahwa itu adalah seorang wanita.


Dug...dug...dug...


"Tuan"...


Panggil Jo sambil melirik kearah Tuannya seakan bertanya apakah dirinya harus membuka jendela ataukah tidak.


Leon yang dilirik menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu memberi isyarat untuk menurunkan kaca mobil tersebut.


Jo segera mengangguk lantas menekan tombol untuk menurunkan kaca mobil sampingnya.


"Tuan...tuan...bisakah menolong saya, saya mohon Tuan, tolong antarkan saya kerumah sakit, saya mohon"...


Pinta seorang gadis yang sedang menangis sesegukan.


Degh.


"Dia..."...


Gumamnya dalam hati saat melihat siapa gadis yang sedang menghambat perjalanannya itu.


"Saya mohon Tuan"...


Lirihnya sambil mengatupkan kedua tangannya didada sebagai bentuk permohonan.

__ADS_1


Like.Vote.Gift.


😘😘😘


__ADS_2