Terjerat Rindu Terlarang

Terjerat Rindu Terlarang
TRT Terluka


__ADS_3

Happy ReadingšŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—


Like.


Vote.


Gift.


Seorang gadis sedang makan dalam diam, dirinya bahkan tidak berani untuk mengangkat kepalanya lantaran malu dan takut apalagi saat mengingat tentang kejadian memalukan beberapa saat lalu ketika berada didalam kamar asing.


Bahkan sampai sekarang dirinya masih tidak percaya jika dia sampai mendaratkan bibirnya ke bibir pria asing itu karena didalam mimpi dia sedang mencium boneka tampan, tidak tahunya itu adalah beneran terjadi.


Dan beruntungnya sang empu tidak menyadari bahwa dia mencium terlebih dahulu sebab lelaki asing tersebut masih dalam keadaan tidur.


Tanpa Lika sadari bahwa Leon sudah terbangun namun dirinya memilih berpura-pura untuk tidur dan mendapat kecu pan kedua dari bibir yang menggoda milik gadis yang diincarnya.


Leon menaikkan sebelah alisnya saat menatap gadis yang sejak tadi tidak berani menatapnya, namun dirinya tersenyum tipis melihat tingkah malu-malu gadis yang membuatnya tertarik itu.


"Cepat habiskan, bahkan lebih cepat siput makan dari pada kamu"...


Ucapnya datar sembari mengelap mulutnya.


Lika tersentak kaget dan segera dirinya memakan makanan yang sungguh membuat siapa saja pasti akan berselera, namun tidak untuknya saat ini dirinya tidak bisa merasakan makanan enak yang berada diatas piringnya lantaran mendengar suara pria asing itu yang membuatnya malu sampai diubun-ubun sekaligus takut lantaran suara Leon yang terdengar datar.


Leon meninggalkan Lika sendirian dimeja makan membuat gadis tersebut menghembuskan nafasnya dengan lega dan melanjutkan makan dengan tenang tanpa aura menyeramkan saat lelaki asing tersebut masih berada disatu meja dengannya bahkan dirinya tidak tahu kemana lelaki tersebut akan pergi.


Setelah beberapa saat, Lika sudah menghabiskan makan malamnya dan kini dirinya bingung apa yang harus dilakukannya sedangkan dia saat ini hanya sendiri ditempat itu.


"Nona"...


Suara seorang pria mengagetkan Lika hingga membuat gadis berusia 23 tahun itu berjengkit kaget.


"Maafkan saya Nona jika saya mengagetkan anda"...


Ucapnya dengan sesal sembari menundukkan sedikit badannya.


"Ohhh tidak apa-apa pak..."...


Lika bingung sebab tidak tahu nama pria setengah baya tersebut.


"Panggil saja Uncle Lim Nona"...


Ucap Pria berusia 45 tahun tersebut saat tahu akan raut kebingungan dari gadis yang dibawa Tuannya itu.


"Uncle bisa kah saya pulang"...

__ADS_1


Pintanya setelah beberapa saat memperhatikan Lim dengan wajah penuh harap.


"Maafkan saya Nona, saya tidak punya wewenang untuk membiarkan anda keluar dari mansion Tuan Muda"...


Ucapnya dengan pelan.


Lika menghembuskan nafasnya dengan kasar bahkan kini dirinya gelisah saat mengingat mamanya pasti sendirian dirumah sakit.


Seolah tahu akan kegelisahan Lika, Lim segera merogoh ponsel miliknya sesuai dengan titah Tuannya melalui Jo beberapa saat lalu dan mengotak-atik isi didalamnya untuk mencari sesuatu yang dikirim oleh Jo, Asisten Tuan mudanya.


Lika mengeryitkan dahinya bingung karena uncle Lim menyodorkan sebuah ponsel.


"Tuan muda yang meminta saya untuk menunjukkan sebuah video"...


Jelasnya saat melihat gadis tersebut tak kunjung menerima ponsel yang disodorkan olehnya.


Lika dengan ragu menerima ponsel tersebut yang ternyata berisi sebuah video yang belum di putar.


Jari lentik Lika menekan video tersebut dan muncullah isi didalamnya.


Seketika tubuh Lika terpaku dan terperangah saat melihat gambar tersebut dimana mamanya sudah berada disebuah ruangan yang bagus dan seorang perawat yang sedang menyuapi mamanya bahkan tak jarang mamanya tersenyum sembari bertukar kata pada perawat tersebut dan tak jauh dari ranjang mamanya ada seorang perempuan berseragam hitam dengan rambut pendek yang berdiri seperti patung.


Video berdurasi hanya 5 menit tersebut mampu membuat air mata Lika mengalir dengan sendirinya namun dia masih tidak mengerti kenapa mamanya bisa berada diruangan yang dirinya saja tidak akan sanggup untuk membayar walau bekerja selama satu bulan full.


"Nona, jika ingin meminta penjelasan lebih baik Nona menemui Tuan muda, beliau berada diruang kerjanya saat ini"...


Lika hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan dan mengusap air matanya lalu bangun dari duduknya swmbari tangannya bersiap untuk memegang piring bekasnya dan juga lelaku yang sering uncle Lim panggil Tuan muda.


"Jangan Nona, sudah ada maid yang bertugas untuk membersihkannya, sebaiknya anda segera menemui Tuan muda saja"...


Cegahnya dengan cepat saat melihat Lika akan menyentuh piring kotor tersebut dan dirinya bisa mendapatkan masalah jika hal itu sampai terjadi.


"Nggak apa-apa Uncle, Lika sudah biasa mencucinya sendiri"...


Lika tersenyum tipis tanpa mengindahkan larangan dari Lim bahkan dirinya segera mengangkat piring kotor miliknya serta milik Leon dan membawanya menuju jalan yang diyakini adalah area dapur.


Lim yang melihatnya hanya mampu menghela nafas dengan kasar dirinya tak yakin jika beberapa saat lagi pasti Tuan mudanya akan menunjukkan dirinya didapur.


Lika tersenyum ramah saat sudah berada didapur dan para maid yang berjumlah empat orang memandang kearahnya dengan wajah kaget serta pias.


Seorang maid memberanikan diri untuk menghampiri Lika yang sedang membawa dua buah piring kotor tersebut.


"Nona, sebaiknya anda segera meninggalkan area dapur dan biar kami saja yang melanjutkan"...


Ucap maid yang masih muda berusia 30 tahun itu dengan raut wajah yang tak biasa, bahkan dirinya tidak berani memandang Lika hanya mampu menundukkan kepalanya begitu pula dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Ohh tidak-tidak, biar Lika saja yang melanjutkan"...


Lika menjauhkan piring yang hendak diambil oleh maid tersebut.


"Lim, sepertinya aku harus memecat para maid dimansion ini"...


Degh.


Pyarr...


Lika tersentak kaget saat mendengar suara datar seseorang yang dikenalinya bahkan tanpa sengaja piring yang dipegangnya jatuh begitu saja membentur lantai yang berlapiskan marmer berwarna hitam bercorak abu-abu tersebut dengan kepingan kaca piring berhamburan kemana-mana.


"STOP...jangan bergerak"...


Leon berucap dengan nada tinggi saat melihat Lika hendak memundurkan kakinya namun terlambat sebab Lika sudah berteriak kecil.


"Auuww"...


Pekiknya saat merasakan kaki telan jangnya menginjak pecahan piring tersebut.


Dan bersamaan itu pula tubuhnya seketika melayang diudara dan dirinya dengan reflek melingkarkan kedua tangannya dileher pria yang belum ditahu namanya itu.


"Aku peringatkan ini yang terakhir kalinya"...


Ucapnya dengan tegas dan dingin kepada para maid yang menunduk takut itu.


Bahkan Lika mengeratkan rangkulannya dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Leon bahkan kini matanya memanas saat mendengar suara dingin Leon serta rasa sakit dikakinya.


Leon dengan segera membawa Lika pergi dari area dapur dan Lim mengekori Tuan Mudanya untuk membawa kotak obat yang kebetulan tak jauh dari posisinya bahkan sebelum dirinya beranjak dari dapur, dia sudah menginstruksikan para msid yang berada disana.


Leon masih tak bersuara bahkan kini rahangnya mengeras saat merasakan lehernya basah dan dia tahu itu apa.


Segera dia mempercepat langkah kakinya menuju sofa yang berada tak jauh darinya itu.


Dengan pelan dirinya menurunkan tubuh Lika namun Lika sepertinya tidak mau untuk turun entah dia takut atau apa yang pasti hal tersebut membuat Leon menipiskan senyum hanya tipis sekali dan menghela nafas pelan lalu mendudukkan tubuhnya yang masih menggendong Lika.


"Lim, panggil Elisa"....


Titahnya dengan tegas.


Lim segera menuruti perkataan dari Tuan Mudanya untuk memanggil Elisa salah satu maid yang tadi berbicara pada Lika.


Leon mencoba menenangkan hatinya yang sakit karena melihat gadis yang mampu menggetarkan hatinya terluka ditambah sekarang dirinya mendengar isak tangis yang lirih menambah rasa sesak didadanya.


Cup.

__ADS_1


Lā¤L


__ADS_2