
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Lika menghela nafas pelan sambil menyusuri jalanan pagi ini dengan menggunakan kedua kakinya, setelah tadi pagi membersihkan tubuh sang mama dan menyuapinya Lika langsung berpamitan karena memang harus bekerja untuk mencari uang agar bisa membayar rumah sakit yang tersisa serta untuk biaya kemoterapi nantinya dan Lika menitipkan mamanya kepada perawat yang sedang bertugas, beruntung dia mendapatkan perawat yang begitu baik hingga.
Bahkan Lika tidak sempat untuk mengisi perut rampingnya namun Lika sempat membeli sebungkus roti seharga tiga ribu demi membungkam perutnya agar tidak berbunyi namun belum juga dimakan dan malah di masukkan kedalam tas lusuhnya.
Pagi ini sungguh cerah namun tidak dengan hatinya yang terasa mendung, Lelah sudah pasti namun dirinya harus kuat demi sang mama, sudah cukup baginya kehilangan sosok ayah sejak dini walau kenyataannya sosok tersebut masih ada hingga sekarang namun dia tidak akan ridho jika sang mama ikut meninggalkannya dan dia akan melakukan apa saja untuk melihat sang mama hingga dirinya menikah bahkan memiliki anak serta cucu.
Dirinya hanya bisa berandai-andai suatu saat dia dapat merasakan pelukan pertamanya selama ini dari sang ayah, sosok yang selama ini dirindukannya bahkan dirinya sering bermimpi namun dimimpi pun seolah mengejeknya sebab sang ayah tetap tidak bisa dijangkau dengan kedua tangannya.
Sejenak Lika menghentikan langkahnya saat sudah berada di tempat pemberhentian bus, bahkan disana ternyata sudah banyak orang yang menunggu bis datang.
Sambil menunggu dirinya menyandarkan tubuh idealnya yang tertutupi pakaian longgar dengan badan menghadap ke jalan raya.
Krucuk...krucuk...
Lika meringis pelan sambil mengelus perutnya lantas tangannya merogoh tas dan menarik keluar sesuatu yang dibeli tadi.
Perlahan Lika membuka bungkusan kue dan akan memasukkannya kedalam mulut namun terhenti saat netra matanya menangkap seorang gadis kecil yang melihat kearahnya lebih tepatnya kue yang hendak dimakannya dengan mulut mungilnya yang terbuka sedikit lalu menutup kembali membuat dirinya merasa iba.
Dengan pelan dirinya menurunkan kembali tangan yang memegang kue lantas langkah kakinya menuju gadis kira-kira berusia 7 tahun yang terlihat sangat berantakan bahkan badaan serta pakaiannya sungguh tak layak untuk dikenakan lagi.
"Sudah makan?"...
Tanya Lika dengan lembut dengan ikut berjongkok agar bisa sejajar dengan gadis kecil tersebut.
Gadis kecil itu hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu menundukkan kepalanya.
"Mau berbagi sama kakak?"...
Tawarnya lalu segera memotong kue tersebut menjadi dua.
__ADS_1
Sedangkan gadis kecil tersebut mengangkat wajahnya saat melihat kue ada didepan matanya dan tak lama dirinya mengangguk pelan.
Lika yang melihat lantas tersenyum tipis dan segera meletakkan setengah potong kue tersebut ketangan gadis kecil yang sedang duduk dipinggiran jalan dengan malu-malu gadis kecil tersebut memegang potongan roti yang baginya sungguh enak.
"Nama kamu siapa?"...
Tanya Lika sembari memasukkan kue kedalam mulutnya sendiri sedangkan gadis kecil tersebut juga melakukan hal yang sama dengan wajah malu-malu namun saat ada gadis baik hati dirinya segera merogoh sesuatu didalam kantong lusuhnya menggunakan tangan yang tidak memegang roti lalu setelah menemukan dirinya segera memperlihatkan kepada Lika.
Embun
Degh.
Lika seketika terenyuh ternyata gadis kecil ini tidak bisa berbicara.
"Nama kakak Malika panggil saja kak Lika, Embun sama siapa disini?"...
Tanya Lika dengan lembut namun sesaat dirinya melihat busnya berhenti dan bergegas dirinya segera bangun.
"Maafkan kakak embun, kakak harus pergi bekerja"...
Ucapnya lalu tangannya merogoh tas lusuhnya dan setelah mendapatkan yang dicari segera dirinya meletakkan ditangan Embun.
Ucapnya sembari berlari menjauh dan melambaikan tangan dengan tersenyum.
Embun lantas membalas lambaian tangan gadis cantik yang bernama kak Lika tersebut dengan ikut melebarkan senyumnya sampai Lika sudah masuk kedalam bus.
"Semoga kakak selalu sehat dan mendapatkan rejeki yang berlimpah serta Allah selalu melimpahkan kebahagiaan untuk kakak nantinya, terima kasih"...
Ucap Embun dalam hati lalu matanya melirik kearah tangan yang memegang uang serta roti, uang berwarna ungu yang diberikan oleh Lika.
Bagi orang mungkin itu hanya uang kecil namun bagi Lika dan Embun nominal tersebut sangat berarti apalagi mereka tinggal di Ibukota.
"Jalan"...
Ucap tegas seorang lelaki dewasa saat melihat gadis yang sejak kemarin dilihatnya sudah pergi menggunakan bus.
Dan bahkan Lika tidak menyadari sejak tadi ternyata ada sedan berwarna hitam telah mengikutinya sejak keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Baik Tuan Muda"...
Jo lantas menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang bahkan mobil yang dikendarainya melewati bus yang dinaiki oleh Lika.
Leon menatap kesamping dan secara kebetulan Lika juga sedang duduk dipinggir pas dijendela namun Lika menatap kedepan walau wajahnya menempel dijendela kaca.
Leon tersenyum tipis saat melihat Lika hingga mobil yang dikendarai Jo melewati bus tersebut.
Jo bahkan tidak mengerti kenapa Tuannya harus menjadi penguntit seperti ini namun dirinya tak kuasa untuk bertanya.
Lika sesaat menegakkan tubuhnya saat merasa ada yang memperhatikannya namun saat dirinya menengok kesamping dahinya mengeryit kala melihat belakang mobil hitam mewah tersebut namun dirinya segera menggelengkan kepalanya pelan dan menghela nafas.
Waktu berlalu begitu cepat dan Lika pulang disaat jam sudah tiba dirinya kali ini tidak bisa mengambil jam lembur karena fikirannya tertuju pada sang mama yang pasti akan sendirian dirumah sakit bahkan mungkin ini sudah terlalu lama dia membiarkan sang mama sendirian.
Dan pada saat langkah kakinya menuju jalan untuk ke halte terdekat netranya tak sengaja melihat lelaki paruh baya yang amat dirindukkannya siang dan malam, berharap dan terus berharap bahwa lelaki tersebut sudi memanggil namanya dan memeluknya, pelukan yang teramat diinginkan.
Degh.
"Bapak"...
Lirihnya dan mematung ditempat, matanya berkaca-kaca saat melihat didalam sebuah butik tak jauh dari tempatnya berdiri ada keluarga kecil yang sedang bercanda ria sembari menjajal beragam baju.
Wajah tua seorang pria namun masih terlihat tampan sedang tersenyum sembari mengusap kepala seorang lelaki yang mungkin masih berusia 15 tahun sedangkan wanita sepantaran mamanya sedang berdiri disampingnya dengan mencoba gaun yang diperlihatkan kepada lelaki paruh baya tersebut.
Disana nampak sekali kalau mereka berbahagia bahkan tak segan lelaki tersebut mengecup kening wanita yang disampingnya dan dirinya tau jika itu adalah istri kedua bapaknya serta putrinya bersama wanita itu.
Tes.
Lika membalikkan badannya dan airmatanya seketika tak terbendung lagi, perih, sakit, kecewa,rindu, senang menjadi satu.
Dadanya terasa sesak hingga dirinya memukul pelan, disini amat terasa sakit disaat dirinya berjuang mati-matian untuk kesembuhan sang mama namun ternyata bapaknya sedang bersenang-senang dengan keluarga barunya.
Bahkan bapaknya sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya, apakah dirinya bersalah jika terlahir sebagai seorang wanita, apakah ini maunya? Namun dirinya tidak pernah lelah untuk berdoa agar bapaknya selalu diberi kesehatan.
Lika perlahan berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan sesekali mengusap air matanya dan tangan menggenggam erat pegangan tas.
Sedangkan didalam butik, seorang pria paruh baya menengok keluar sebentar dan hanya mendapati seorang gadis dengan rambut diekor kuda dari arah belakang, lelaki tersebut menghela nafas pelan dan menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum saat seorang anak remaja menghampirinya.
__ADS_1
Like.Vote.Gift