Teroris Kecil CEO

Teroris Kecil CEO
Ryan dan Aleeson


__ADS_3

"Apa yang ada dalam pikirannya, mengaku bahwa ia adalah seorang militer. Sangat bodoh sekali, kecuali ada yang mengkhianatinya" Aleeson memikirkan Ryan diruangannya bukan karena Aleeson menyukainya, melainkan dia tidak merasa dalam bahaya sama sekali saat didekat Ryan. Aleeson mempercayai instingnya bahwa Ryan bukan orang yang berbahaya.


" Aleeson, apa kau tahu tentang nuklir ?" Dylan masuk ke ruangan Aleeson berjalan mendekat dengan cepat. Membuat Aleeson sangat kaget dan sedikit jengkel karena Dylan terus saja mencari tahu tentang nuklir untuk menyerang Kobash, negara yang Aleeson lindungi mati-matian.


" Kau kenapa lagi sih ?" Aleeson berdiri maju mendekati Dylan, mereka saling berhadapan.


" Kenapa kau ?" Dylan bingung mengapa Aleeson terlihat jengkel padanya. " Aku hanya bertanya nuklir yang akan di letakan pada kapal selam .." Aleeson menutup mulut Dylan dengan tangannya. Dylan merasakan tangan Aleeson sangat berbeda dengan perempuan kebanyakan, heran sekali pada jaman sekarang.


" Kenapa tanganmu kasar sekali ?" Dylan menyentuh tangan Aleeson membulak balikan tangan pegawainya.


" Dengar ya, kalau perusahaanmu menyumbangkan kapal selam untuk menyerang Kobash. Kau berikan saja langsung, kau langsung serahkan saja. Dasar kau pembunuh, seberapa tinggi derajatmu hingga kau mau mencabut nyawa orang-orang yang tidak bersalah ?" Aleeson melampaui batas kesabarannya. Dylan sangat bingung melihat perubahan sikap Aleeson, padahal ia hanya bertanya soal nuklir. Aleeson menunjuk-nunjuk dada Dylan masih sambil marah-marah.


" Nuklir yang di jatuhkan negara kalian telah memusnahkan sebuah kehidupan di pulau Kebayang 100 tahun silam. Apa kalian merasa menang ? merasa senang ?" Aleeson sangat marah dan tidak puas kalau hanya menunjuk-nunjuk saja.


" Kau kan tahu negara kita negara yang paling di takuti, kita tidak bisa mengulur waktu kemenangan kan ?" Dylan memegang kedua tangan Aleeson menghentikannya menunjuk-nunjuk Dylan. " Kita musnahkan saja"


" Musnahkan? kau bangga akan hal itu ?" Aleeson berusaha melepaskan tangannya dari cengkreaman Dylan, mata Aleeson berkaca-kaca .Bagi Aleeson lebih baik bertarung sampai mati dari pada harus mengingat kata-kata seorang penjahat. Dylan tidak mengerti dengan reaksi Aleeson " Aleeson, Kau aneh sekali. Negara kita harus menjadi negara yang paling kaut di dunia." Dylan masih memegang kedua tangan Aleeson dengan kuat. " Negara yang membelot, harus kita buat mereka mengerti aturan negara Marcat kita" .


Aleeson sangat emosi mendengar perkataan Dylan. Aleeson akhirnya bisa melepaskan tangannya dari Dylan. ,Aleeson mundur menjauh berusaha tidak terpancing emosi, wajahnya merah matanya berbinar.

__ADS_1


Ryan masuk keruangan Aleeson, menghalangi Aleeson jika akan melukai Dylan. " Kau baik-baik saja Dylan ?"


" Yah, aku baik. Kenapa kau datang ?" Dylan tersenyum kepada Ryan.


" Kau jangan memancing emosi Aleeson, dia berbahaya" Ryan kesal kalau harus melawan Aleeson.


" Kau pergi saja Ryan aku bisa mengatasinya." Dylan menggeser Ryan.


" Ryan bukan seorang militer, Ryan mengintai seseorang, Ryan seorang pembohong, Ryan pengecut yang bersembunyi di balik kata militer, Ryan siapa kau sebenarnya ?" Aleeson memasang wajah serius yang belum pernah Ryan lihat sebelumnya.


" Apa maksudmu ? " Ryan tidak akan mundur walau harus bertarung dengan perempuan kesukaannya. " Kau perempuan favoritku di kantor ini. Aku tidak mengerti maksudmu Aleeson"


" Kau hanya masuk militer pada tahap awal saja, kenapa militer Marcat payah semua ya ?"  Aleeson mulai muak dengan orang-orang di negara itu.


" Jangan pernah berpikir untuk menghajarku, karena aku sudah pernah mengahajmu Ryan" Aleeson ketus sekali.


" Apa kau pernah ke Kobash sebelumnya ?" Ryan mulai bicara berjalan menuju Aleeson dengan tenang.


" Kau sudah tahu sejauh itu rupanya" Aleeson langsung merubah posisi, siap menyerang kapan saja.

__ADS_1


" Aku baru mengetahuinya, jangan salah paham. Ini semua aku lakukan karena sangat menyukaimu. Tapi, tahukah kau. Sepupuku sepertinya lebih tertarik padamu" senyum Ryan terlihat sedih " Dylan, bisakah kau matikan cctv diruangan ini sementara ?" Dylan mengerti apa yang dikatakan oleh sepupunya itu lalu mengangguk telah mematikan cctv di ruangan tersebut.


" Aku tidak pernah membayangkan ada Tentara Elit Kobash ada di perusahaan sepupuku" Ryan sangat berhati-hati mengucapkannya. Dylan kaget sekali mendengar ucapan Ryan, itu berarti Aleeson adalah Tentara Bayangan yang telah di ceritakan oleh Ryan beberapa waktu lalu. Aleeson adalah pasukan elit yang membunuh Alex salah satu  tentara terbaik di Marcat. " Tidak, mengapa mgadis secantik Aleeson menjadi pembunuh untuk negaranya" Dylan masih tidak menerima kenyataan bahwa Aleeson lebih keren darinya.


Aleeson mendekati Dylan dengan kecepatan yang luar biasa di mata Dylan dan Ryan.


" Lalu kau mau apa ?" Aleeson tersenyum manis dan sedikit lega karena bukan dia yang membocorkan rahasia identitasnya melainkan ketahuan. " Kau masih ingin menikahiku, bos ?". Lalu berpindah memandang Ryan lalu tersenyum. " Kau ingin membunuhku ?" Aleeson memaksudkannya kepada Ryan yang menggelengkan kepalanya.


" Kalian akan menangkapku dan menyerahkannya kepada pemerintah Marcat bodoh kalian ?" Dylan mengangkat alisnya sebelah saat mendengar kata "bodoh" yang di ucapkan Aleeson. Dylan merasa nyali Aleeson sangat  besar dan patut di acungkan jempol.


" Apakah begitu mudah kau membunuh orang ?" Ryan bertanya dengan agak jijik. Hal tersebut menarik perhatian Aleeson untuk menjawabnya.


" Berapa banyak orang yang kau selamatkan ?" Aleeson melontarkan pertanyaan juga kepada Ryan. " Kau merasa membunuh adalah hal yang salah?" Aleeson menaikan nada bicaranya. " Bagaimana dengan merebut tanah air orang lain? Bagaimana dengan kalian yang menjajah kami ?" Aleeson berteriak sekarang. " Kurasa penjahat dari Marcat tidak layak disebut sebagai manusia" nada Aleeson datar sekarang.


" Suatu hari, kami melintasi sebuah pemukiman warga pribumi Kobash." Ryan mulai tenang berbicara kepada Dylan dan Aleeson. " Kami bermalam dan ternyata itu adalah Desa Perampok di negara tersebut. Setengah tentara yang kami bawa kehilangan nyawa, dari kejadian tersebut aku ketakutan setiap malam sampai sekarang." Diam sejenak " Aku selamat karena ada seorang gadis memberikan madu kepadaku, padahal gadis tersebut jauh lebih mengenaskan dari padaku" Ryan tertawa karena merasa hal tersebut sangat menyedihkan. Aleeson diam saja seperti berusaha mengingat kisah yang di ceritakan Ryan.


" Kau tahu Ryan? " Dylan menyela dengan percaya diri " gadis yang kau bicarakan itu adalah Aleeson." Dylan tidak takut sama sekali dengan situasi menegangkan ini.


" Dylan, kau mengerti tidak sih. Kita ini di ujung tanduk, jangan berkedip kau. Aleeson bisa bunuh kau saat kita  lengah" Ryan memutar bola matanya kepada Dylan.

__ADS_1


" Kau mau naik gaji ?" Dylan mengajukan penawaran untuk Aleeson. " Kau jadi asistenku saja, ikut aku kemanapun aku pergi pada tugas pekerjaanmu. Gajimu kunaikan 10 kali lipat perbulan, kuberikan setengah sekarang untuk kau menyesuaikan pakaianmu dengan jabatanmu, Aleeson. Jangan pernah dengan sengaja kau menggodaku dengan rok super pendekmu di depanku." Dylan tertawa nakal menggoda Aleeson. Dylan mengerti semua rangkaian kejadian tersebut merupakan hal yang tidak disengaja. Ryan sedikit bingung kalau Dylan masih mau memperkerjakan pembunuh dari Kobash. Sebelum Aleeson bisa bicara Dylan menyela lagi.


" Ryan akan memberikan kontrak kerjamu besok, kau harus baca kontrak kerja dengan baik atau kucabik-cabik kau. Aku tak peduli seberbahaya apa kau, Aleeson. Tapi aku mengenal kau sebagai seorang gadis biasa bukan pembunuh."


__ADS_2