
Mereka bersiap karena sudah lantai 30. Dylan mengambil pistolnya dari tangan Aleeson.
" Kau diam saja disini. Biar aku dan Ryan yang bereskan" Ryan mengangguk setuju dengan Dylan.
" Aku , bukannya kita harus bersembunyi ? siapa tahu mereka mengetahui elevator ini dan menembaki kita" ide dari Aleeson sangat masuk akal, mereka setuju dan bersembunyi di atas elevator. Saat sampai di lantai 37 mereka ditembaki membabi buta sampai pelurunya habis, tetapi liftnya kosong. Aleeson terjatuh dari atas ke dalam lift "BRUK" Ryan buru-buru jatuh juga cepat-cepat membangunkan Aleeson.
" Dasar bocah cebol" Kata pria yang gemu langsung ingin menendang Aleeson.
" HEI KALIAN, CEPAT " kata Korbi yang sudah di helikopter pria gendut itu dan 2 temannya berlari menuju helikopter.
Sayang sekali Aleeson berlari lebih cepat.
" Gadis kecil, jangan bodoh!" Dylan berteriak sambil berlari bersama Ryan. Helikopter mulai terbang, Aleeson tidak takut apapun. Dia menarik nafas panjang melompat sekuat tenaga masuk ke dalam helikopter. Si gemuk tertinggal dibawah langsung diurus oleh Ryan dan Dylan. Dengan masuknya Aleeson ke helikopter Korbi, benda itu menjadi oleng. Aleeson menonjok penumpang yang lain hingga pingsan, sedangkan Korbi dilukai lehernya hingga ia setuju lepas landas.
" Aku akan mengunjungimu dipenjara, katakan saja makanan kesukaanmu apa biar aku bawakan nanti." Aleeson bicara dengan suara bergetar, Korbi yang mendengarnya merasa bingung.
Aleeson mengerti kondisi angin,jadi saat melihat helikopter Korbi terbang aneh. Aleeson juga bisa menerbangkan helikopter dia belajar dari ayahnya. Tentang ini semua dan pelajaran bertahan hidup tersebut selalu menyelamatkan nyawanya. Korbi sudah merasakan kemudi helikopter dan baru menyadari omongan Aleeson tadi.
" Hey bocah, apa yang harus kulakukan?" Korbi bertanya sudah panik helikopternya sedikit lagi terhempas angin.
"Korbi, pakai sabuk pengaman lindungi kepalamu sekuat mungkin" jelas Aleeson. Korbi sangat takut mati jadi menurut saja apa yang Aleeson katakan.
" Sialan, sialan" Dylan terus memaki, berlari ke lift lalu cepat segera turun dan menelpon ayahnya.
" Ayah, Aleeson di helikopter itu " Dylan menelepon Ayahnya. Mereka berdua panik bukan main karena dari bawah terlihat jelas bahwa helikopter tersebut akan jatuh.
Tuan Seymour langsung menutup telepon dan berlari melihat helikopter yang berisi Aleeson, Korbi dan yang lainnya. Tuan Seymour berlari keluar, jalanan sudah terlihat penuh dengan mobil Ambulan dan Tim penyelama, pemadam kebakaran, polisi, dan tentara.
Helikopter jatuh dengan suara yang sangat keras dan mengerikan, yang bisa di lakukan Tuan Seymour hanya berlari menuju Aleeson secepat mungkin agar tak terjadi hal yang tak diinginkannya. Tuan Seymour berpapasan dengan Korbi yang duduk di mobil ambulance.
" Sialan, mana gadis itu " Tuan Seymour menarik kerah baju Korbi yang selamat dari helikopter jatuh.
" Maafkan aku Tuan, ku mohon maafkan aku. Dia disana, aku tidak sempat melihatnya. Mereka menyelamatkanku terlebih dahulu, Tuan. Maafkan aku" Korbi ditarik menuju Ambulance kepolisian. Ryan dan Dylan melewati Tuan Seymour berlari sekencang mungkin.
" ALEESON !!" Dylan berteriak panik.
Tim penyelamat memotong dan mengangkat puing-puing helikopter yang besar untuk menemukan Aleeson. Tak peduli lelah mereka mengahdapi para penyandera, Dylan berpikir bahwa ini tidak adil jika Aleeson yang harus menanggung semua ini. Dylan mengingat kembali tamparan yang ia berikan kepada Aleeson pagi ini. Apa yang dirasakan Aleeson sangat penting bagi Dylan dan semuanya hari ini " betapa malam yang mengerikan" hati Dylan mengeluh kenapa harus seperti ini jadinya.
" AKU MENEMUKANNYA" Dylan bergerak cepat membantu Ryan yang telah menemukan Aleeson.
Akan tetap ada yang aneh dari penemuan tubuh Aleeson, yaitu tubuhnya terikat kencang di belakang kursi penumpang helikopter masih bernafas menggunakan helm dan tas parasut pingsan . Sedangkan tubuh manusia lain ditemukan tak bernyawa lagi. Seorang tim medis kepolisian memfoto Aleeson yang terikat lemah, di dorong kuat oleh Ryan.
" Apa yang kau lakukan ?" Ryan bertanya kepada pemfoto itu tetapi tidak dijawab oleh pria itu lalu pergi.
Ryan tidak ambil pusing hal itu karena ia tak suka Aleeson dijadikan bahan berita saat dia lemah. Sedangkan tim medis dan tim penyelamat dengan susah payah memotong tali yang di ikat oleh Aleeson dan berhasil meletakan Aleeson di brankar ambulan masih tak sadarkan diri dibawa dekat mobil ambulan
__ADS_1
Tuan Seymour dan Dylan menunggu tim medis memberikan pertolongan pertama dan mengecek luka-luka Aleeson sedangkan Ryan menghilang entah kemana.
" Kenapa bisa seperti ini, Dylan ?" Tuan Seymour penuh dengan tanda tanya kenapa bisa pegawai kantor anaknya. " Kali ini kau benar-benar kelewatan"
" Dengar dulu. Aku, maksudku Aleeson lari lebih cepat dari padaku. Dad, kami mengejar mereka sampai atas gedung. Pria bernama Korbi itu bisa mengemudikan helikopter dan Aleeson lompat menggantung di helikopter itu." Dylan diam dengan canggung dihadapan ayahnya, menunggu reaksi apa yang akan dikeluarkan Tuan Seymour.
" Kau yakin ?" Tuan Seymour sangat tidak percaya, karena tadi pagi Aleeson ditampar oleh Dylan sampai pingsan kini Aleeson bergelayut di helikopter.
" Aku tidak kelelahan karena berlari, Dad. Kami bertiga mengejar komplotan penjahat itu. Namun.. " Rasanya penting bagi Dylan untuk menegaskan hal itu.
" Namun Aleeson yang sependek itu mengimbangi aku dan Ryan berlari." Dylan menjelaskan sampai ini saja.
" Tuan, tidak ada luka serius pada pasien. Kami tetap akan membawanya kerumah sakit untuk masa pemulihan, luka lebam ringan karena benturan dan ikatan tali yang terlalu kuat juga harus segera dirawat inap." Kata seorang pria dari tim medis yang secara tiba-tiba.
" Baiklah, apakah harus ditemani ?" Kata Dylan.
" Tidak perlu Tuan, kami akan menjaga Nona ini dengan baik" Ambulan tersebut berasal dari Rumah sakit milik Seymour. Jadi melihat pemilik rumah sakitnya panik dengan keadaan pasien tersebut. Aleeson langsung di bawa menuju rumah sakit Seymour. Rumah sakit terbaik di negara bagian barat.
" Apakah kau mau pulang Dylan?" tanya Tuan Seymour. Tuan Seymour kembali fokus pada Dylan.
" Dad, ini bukan sepenuhnya salahku. Dia yang ikut campur, aku sudah mengatakan jangan" Dylan sedikit kesal dengan tatapan ayahnya itu.
" Aku hanya bertanya kalau kau mau pulang Dylan, untuk kau istirahat tidur dirumah. Ini sudah hampir pagi." Tuan Seymour sewot padahal Dylan cukup menjawab ya atau tidak.
" Kau saja yang istirahat, Dad. Kau lebih memerlukannya. Aku masih harus mengurus para korban. Perusahaan kita kacau balau kalau tidak langsung di tangani." Ayah Dylan setuju dengan usulan anaknya itu, lalu mencium pipi kiri anaknya dan pergi. Tanpa lama-lama lagi Dylan berlari menuju mobilnya dan mengemudikan secepat mungkin menuju rumah sakit tempat Aleeson di rawat.
Dylan menginap di LaSeymour, hotel dekat rumah sakit Aleeson dirawat. Dylan mandi membersihkan diri sambil berpikir, betapa terlatihnya Aleeson pada kejadian penyanderaan itu. Tetapi masih bingung kenapa tamparannya pada pagi itu membuat Aleeson pingsan. Dylan mengeringkan tubuhnya dan duduk diatas kasur, dan menelepon Ryan. Ryan di tugaskan oleh Dylan mengurus kekacauan yang terjadi di perusahaannya tadi.
" Ryan, apa yang kau dapatkan ?"
" Dia tinggal bersama ayahnya, hanya itu"
" Baiklah, apa katanya ?"
" Beliau panik dan langsung menuju ke rumah sakit, dan aku merasa terintimidasi " Ryan sambil tertawa " aku merasa berbicara dengan ayah mertuaku sendiri.. Haha"
" Dasar bodoh" Dylan menutup telepon lalu dilemparkannya. Menghempaskan tubuhnya ke kasur mencoba menutup matanya berharap dapat segera mendapat kabar dari rumah sakit akan Aleeson. Hal pertama yang Dylan ingin ketahui adalah orang yang mencoba membun2h ayahnya. Lalu Dylan ingin menyelidiki Aleeson lebih dalam. Bagi Dylan, Aleeson mulai menarik untuk di perhatikan.
________________________________________________________________________________________
Aleeson perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling dan menolehkan kepalanya berharap mengetahui dirinya berada dimana. Aleeson kaget disebelahnya sudah ada Presiden Cleo.
" Selamat pagi, Pak" Refleks Aleeson langsung duduk melihat Cleo.
" Hati-hati anak gadisku" sambil menyuapi apel ke mulut Aleeson.
__ADS_1
" Kau harus istirahat, dulu. Kumohon jangan menyiksa diri" jatuh dengan helikopter sangatlah parah. Ajaibnya Aleeson bertahan hidup.
" Maaf, Bapak." sambil memperhatikan sekitar lagi
" aku baik-baik saja. Ayo kita pulang"
" Aleeson, apa benar kau tidak apa-apa?" Presiden Cleo bertanya serius.
Aleeson mengangguk meyakinkan Presiden Cleo. Dengan cepat pergi untuk mengurus administrasi. Aleeson bangkit dan membereskan segalanya yang dapat dia lakukan untuk segera pulang ke rumah. Presiden Cleo sangat takut akan identitas mereka jika diketahui, ia tidak bersosialisasi sama sekali dengan orang sekitar. Sangat berbeda dengan Aleeson, bagi Cleo cukup Aleeson saja yang berinteraksi dengan alasan Aleeson lebih muda darinya. Jadi sangat penting untuk mengetahui kelemahan musuh dari Aleeson saja.
"Mm, kau mau kemana ?" Dylan masuk ke kamar mengaggetkan Aleeson.
" Maaf, kalau aku mengaggetkanmu. Kulihat kau berkemas, mau kemana ?"
" Hai Pak Dylan, selamat pagi. Aku sudah sembuh terima kasih, kau baik sekali membawaku ke rumah sakit yang sangat indah ini. Aku akan pulang." Aleeson tersenyum kelihatan sekali masih pucat.
" Yang menentukan kau boleh pulang adalah dokter, Aleeson" Dylan senyum manis sekali membuat Aleeson salah tingkah menjatuhkan barang-barang.
" Hei, apa yang kau lakukan" Dylan menghampiri Aleeson untuk memungut barang-barang yang terjatuh tersebut, Aleeson tersadar dan bantu mengumpulkan barang-barang yang jatuh. Dylan berjongkok membantu Aleeson memungut isi dalam tas Aleeson yang berantakan.
" Memangnya kau kucing " Dylan tertawa. Aleeson diam saja menunduk fokus memungut barang-barangnya yang berceceran. Dylan memperhatikan Aleeson, lebam di pipinya sudah mulai menghilang. Sambil memperhatikan bagian tubuh Aleeson lainnya Dylan berharap tak ada lebam lainnya. Rasanya jatuh dengan helikopter sangat mustahil tidak ada lebam lainnya.
" Dasar Dylan bodoh, terkutuk kau Dylan" Dylan memaki dirinya sendiri. Sangat menyesal.
Mereka berdua berdiri, Aleeson tersenyum kepada Dylan.
" Dasar bodoh, kenapa kau masih bisa tersenyum begitu ! katakan padaku apalagi yang sakit ?" Dylan menarik satu tangan Aleeson keatas. Aleeson bisa merasakan nafas Dylan diwajahnya, kini sedikit merona diwajah cantiknya. Aleeson merasakan tangan besar dan hangat Dylan menyentuh kulitnya sangat membuatnya berdebar.
" Pak Dylan.." Aleeson berbicara menahan nafasnya, takut mengenai wajah pangeran tampan dari SeymourCyber.
" Aku baik " tetapi baju tidur Aleeson tersingkap bagian pinggangnya dan ada bercak ke ungu-unguan yang terlihat oleh mata Dylan.
Langsung di angkat sedikit oleh Dylan membuat Aleeson tak sempat menghindar. Dylan kaget dari pinggang ke punggung Aleeson ada lebam besar, tetapi banyak bekas luka sayatan di punggung Aleeson. Aleeson menyadari bahwa bekas lukanya terlihat oleh Dylan. Di punggung Aleeson banyak sekali bekas luka. Ada yang di cakar beruang gunung, ada bekas sayatan musuh, bekas luka tembak, luka bakar. Sedari kecil hidup Aleeson sudah penuh oleh siksaan tentara Marcat.
" KYAAA" jeritan yang tak perlu sekali untuk dikeluarkan oleh Aleeson.
" God, punggungmu penuh bekas luka Aleeson" Wajah syok Dylan tak dapat disembunyikan. Dylan tidak menyangka sama sekali. Di matanya Aleeson hanya seorang anak kecil yang lugu dan polos. Baru kemarin Dylan dekat dengan pegawainya ini. Tetapi Dylan merasa Aleeson sangat spektakuler, banyak misteri akan Aleeson.
" Siapa kau sebenarnya ?" Dylan melotot, Aleeson kaget bukan kepalang mendengar pertanyaan Dylan.
" Aku..aku pegawai di SeymourCyber Pak" Aleeson menunjukan senyum yang manis sekali, menggemaskan. Aleeson mencoba merayu karena samarannya tak boleh terbongkar.
" Baiklah, kau tak perlu memberitahukan hal ini kepadaku sekarang " Dylan melepaskan Aleeson.
" Aku tidak mengerti Tuan" Aleeson sangat pintar dalam berakting dan biasanya berhasil. Tetapi Dylan sangat penasaran dan terlalu pintar untuk dibohongi, kali ini ia serius.
__ADS_1
" Kuberi tahu ya, aku sudah menyuruh Ryan menyelidikimu. Kau terlambat menghindar"
Wajah pucat Aleeson rasanya jauh lebih pucat lagi, kali ini Aleeson takut penyamarannya akan terbongkar.