Teroris Kecil CEO

Teroris Kecil CEO
Berenanglah ke Tepian


__ADS_3

Aleeson memandang cermin cukup lama, sedangkan Dylan masih mencari pakaian yang pas untuknya. Aleeson menggunakan pakaian etnik dengan pola yang sangat unik, longgar di tubuhnya, banyak aksesoris melekat, dan sepatu boots dari bahan kulit. Awalnya Aleeson merasa aneh menggunakan pakaian Hippie teersebut tetapi lama kelamaan terlihat cantik dan casual.


" Hei Dylan, aku belum bertemu dengan Vai Warner saja merasa telah tersihir. Lihat aku ! cantik sekali kan ?" Aleeson menghampiri Dylan yang sedang memilih kacamata untuknya.


" Ok, ini bagus juga " Dylan mengambil kacamata berwarna cokelat tak memperdulikan ucapan Aleeson.


" Ayo, kita berangkat"


Aleeson mengikuti Dylan dengan sedikit gerakan malas. Dia melihat bayangan senja dirinya di jalan terlihat sangat keren. Aleeson melirik ke arah Dylan yang sedang menyetir mobil, sangat tampan. Warna matanya menyala dipantuli cahaya matahari yang malu ditatap balik oleh Dylan hingga lenyap masuk ke dalam bumi.


" Kau jangan lengah sedikitpun" kata-kata Dylan tersebut terdengar sangat tajam dan Aleeson merasa tatapannya berubah. Merasa sedikit bingung Aleeson memilih mengangguk pelan dan diam saja sepanjang sisa perjalanan mereka menuju pesta Vai.


Pada pukul 7 malam tepat mereka berdua sampai ke rooftop hotel milik Dylan tersebut.


" Kau sangat kaya raya!." Aleeson berputar memandang keindahan rooftop hotel BC tersebut.


" Kampungan" ucapan Dylan sangat pelan tapi Aleeson dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Berkat ucapan Dylan, Aleeson menyadari posisinya dan mulai bekerja.


" My Lovely Dylan!" teriak seseorang di ujung sana. Seketika beberapa orang menghampiri Dylan dan Aleeson memberikan minuman di tangan mereka lalu wajah mereka diputari asap. Seperti arang dengan wangi kayu cendana, lalu mereka tiup-tiupkan. Hal tersebut membuat mata Aleeson perih dan berair lalu batu-batuk "uhuk".


Vai memperhatikan Aleeson yang mengangkat wajahnya setelah terbatuk karena semburan asap konyol tersebut. Tangan Vai meraih dagu Aleeson lalu menciumnya tepat di bibir Aleeson.

__ADS_1


"BRUK"  Aleeson membanting Vai Warner dan " KRAK" sedikit pada tangan Vai dimana Aleeson mematahkannya.


Semua tamu undangan menyaksikan adegan tersebut dengan sangat cemas atas Vai yang di banting gadis kecil dipintu masuk. Dylan menepuk keningnya merasa lelah tiba-tiba.


" LORD WEEPIE " terdengar beberapa gadis berteriak cemas sambil berlari menghampiri mereka. Beberapa membantu memapah Vai, seseorang lagi menarik Aleeson. Beberapa gadis ingin menghakimi Aleeson. Aleeson sadar dirinya melakukan hal yang berlebihan, akan tetapi Lordy mereka mencium seenaknya. Aleeson merasa tidak bersalah, langsung menyambar minuman seorang pelayan yang lewat membawakan beberapa minuman dengan gelas kecil.


" Kenapa kau menciumku seenaknya saja ?" Aleeson membuka suara pertama kali sebelum di hakimi.


" Kau pembawa spirit yang luar biasa, cantik" bela Vai Warner sambil merintih tangannya telah patah akibat dari ulahnya sendiri.


" Aku mau dia!" Vai menatap Dylan tajam.


" Ayolah Dylan, kumohon" Vai menggunakan cara merayu yang sangat memelas. Aleeson yang melihatnya sedikit jijik melihat wajah Vai dan mengingat ciuman pertamanya direnggut paksa.


Vai Warner memiliki tubuh berwarna cokelat, berkumis tipis menyatu dengan jenggotnya, berambut panjang keriting sebahu. Aleeson meminum air yang di bawa pelayan yang sedang berkeliling lagi.


" Sudahlah Vai, aku sudah menelpon para medis untuk segera mengobati patah tulangmu. Dia adalah Aleeson, walau kecil dia tetap berbahaya, Vai. Kau jangan ceroboh mencium asistenku, salah salah nyawamu yang melayang!" kata Dylan.


Aleeson mendengar perkataan Dylan semakin yakin bahwa benar ia berubah sifat. Dia mengambil minuman yang di bawa pelayan lagi. Lalu berjalan ke arah Dylan menjauhi Vai. Aleeson merasa tubuhnya melayang, perdebatan Dylan dan Vai makin lama tidak terdengar olehnya. Aleeson berjalan semakin ringan, lalu memandangi mulut Dylan yang berbicara seperti sangat marah dan berteriak tapi tak terdengar apa-apa. Aleeson merasa kakinya sangat dingin menjalar ke sekujur tubuhnya. Dia merasa sesak tidak dapat bernafas, gelap, dan kedingninan.


" ALESOOO!" Dylan berteriak sekencang yang ia bisa. Tetapi Aleeson tetap saja berjalan menuju kolam berenang di depannya.

__ADS_1


" Aleeson! Aduh duh tanganku " reaksi dari Vai melihat gadis itu berjalan menuju kolam berenang membuatnya sadar bahwa Aleeson mabuk, Vai mengingat berapa gelas tequilla yang di minum Aleeson tadi.


" DYLAN, ALEESON MABUK!" teriakan Vai terdengar oleh Dylan, langsung saja berlari menuju Aleeson.


" Berenanglah ke tepian Aleeson, berenanglah!!" pinta Dylan tetapi ia tidak melihat Aleeson ke permukaan. Kolam berenang tersebut dibuatnya sadalam 4 meter ke bawah. Jadi jika Aleeson tenggelam maka tekanan bewah air akan dengan cepat membuat Aleeson tidak bernafas lagi. " Berenanglah Aleeson"


Dylan sudah menunggu selama 5 menit tetapi tidak ada gerakan dari bawah air. Ia membuka sepatu dan meletakan tabnya di lantai, lalu membuka bajunya. Dylan berenang hingga melihat Aleeson di dasar kolam seperti boneka yang tertidur. Rambutnya melayang, bergoyang mengikuti gerakan air. Dylan tidak mengerti kenapa Aleeson tidak bisa berenang saat mabuk.


" S14l, bernafaslah Aleeson" dalam hati Dylan berharap sambil memeluk tubuh lemah Aleeson berenang ke permukaan dan mengeluarkannya dari kolam berenang.


Ternyata Vai Warner dan para medis sudah menunggu di pinggir kolam berenang. Aleeson diletakan terlentang di lantai tak sadarkan diri, wajahnya mulai membiru. Dylan merobek pakaian Aleeson, langsung melakukan CPR. Para medis mengeluarkan handuk dan selimut, dan mengeluarkan tabung oksigen jika ada kemungkinan Aleeson selamat. Dylan terus berusaha melakukan CPR kepada Aleeson.


Setelah 10 menit berlalu Aleeson mulai bergerak dan langsung memuntahkan banyak air. Dylan duduk lemas, akhirnya asistennya hidup kambali. Dylan meminta handuk dari para medis lalu menggendong Aleeson pergi dari pesta Vai Warner kembali ke mobil. Aleeson duduk dengan balutan selimut lemah tak sadarkan diri lagi. Dylan memacu kendaraan kesayangannya dengan kecepatan penuh.


Aleeson di letakan pada kasur empuk milik Dylan di apartment mewah miliknya. Aleeson sudah bersih dan mengenakan pakaian kering tertidur pulas. Dylan meraih telepon di apartmentnya dan menelepon Ryan. Dylan menceritakan semua yang terjadi, mulai pertentangannya kala Vai mencium Aleeson hingga berada di tempat Dylan. Ryan mengatakan bahwa jika dirinya mabuk lalu terkena air di wajahnya akan sadar kembali.


" Apakah ada orang yang tidak pernah mabuk ? maksudku, bagaimana kalau Aleeson tidak menyadari bahwa dirinya sedang mabuk ?" kata Dylan putus asa memikirkan jagoannya bisa tenggelam seperti batu.


" Mungkin saja, hanya aku tidak pernah bertemu perempuan selangka itu" sahut Ryan memastikan kemungkinannya hanya 30% saja Aleeson seperti itu.


" Baiklah akan ku tanyakan saat dia sadar nanti" Dylan frustasi tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari Ryan lalu menutup teleponnya. Diam memandang jendela apartmentnya dari ketinggian lantai 10 lalu bergantian melihat Aleeson yang tertidur damai seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2