
Aleeson menggunakan gaun merah ke kantor pada pagi hari sangat terlihat mencolok sekali di kereta api, Aleeson merasa semua orang sedang memandangnya. Aleeson sangat cantik hari ini, maka dari itu banyak orang memandangnya. Rambut panjangnya yang harum, tubuhnya yang mungil membuat orang tidak akan menyangka bahwa dia tentara militer yang mematikan.
Turun dari Stasiun kereta, Aleeson hanya perlu berjalan tiga blok saja. Sesampainya dikantor, Aleeson melihat Dylan sedang menunggu elevator tetapi tidak sendiri. Aleeson menunduk, wajahnya memerah. Dia harus sabar agar moodnya tidak rusak sepagi ini. Pintu elevator terbuka, Dylan dan dua orang lainnya mengikuti dari belakang. Dua-duanya bertubuh besar berotot kekar, Aleeson langsung mengerti mereka adalah bodyguard-nya. Aleeson tidak ingin ikut elevator yang dinaiki oleh Dylan. Begitupun Dylan, tak ingin membuat pagi ini sangat mudah bagi Aleeson.
" Naik, kau mau ke lantai berapa gadis kecil ?" Sulit mengabaikan Aleeson dengan wajah cantiknya pagi ini, dia menggunakan gaun merah dengan rambutnya yang harum. Aleeson ragu-ragu masuk ke dalam elevator dan berdiri tepat di depan bosnya. Dylan mencium aroma khas bunga lily dari Aleeson yang berdiri di depannya.
" Lantai 12 " setelah menjawab Aleeson diam saja.
Saat di lantai 5 elevator berhenti dan seorang perempuan berparas malaikat masuk. Aleeson agak minggir sedikit. Sangat merasa bahwa kecantikan perempuan tersebut membawa aura positif baginya.
" Hi Dylan, kenapa sepagi ini ?" kata gadis berpakaian seksi itu.
" Ah, Verona. Aku hampir tidak mengenalimu " Dylan santai menjawab godaan Verona.
" Siapa yang mengatakan Teknologi SeymourCyber tidak dapat melampaui 1500 m?"
Dylan tertawa mendengar pertanyaan Verona. Aleeson menarik nafas panjang, Dylan tertawa lagi makin riang.
" Bocah ini yang beritahu " Dylan terbahak-bahak sekarang sikutnya bersandar di kepala Aleeson.
Verona menatap Aleeson dari ujung kaki sampai kepalanya.
" Sialan, sialan" dihati Aleeson memaki, pria tampan dan gadis cantik di depan Aleeson benar-benar berhati rubah.
" Apakah dia akan menjadi Iparku ?" Verona merasa mereka berdua tidak biasa.
" Apa kau akan ikut bersenang-senang nanti..?".
Aleeson mendengar elevator berbunyi, berarti sudah mencapai lantai 12. Tetapi Dylan masih memeganginya, Aleeson tak bisa bergerak kemana-mana. Dylan dan Verona berbicara serius sekali, Aleeson tidak ingin terlalu terlibat atau memiliki hubungan serius dengan orang Marcat. Sangatlah berbahaya jika ada yang mengetahui tentang dirinya yang sesungguhnya. Hingga lantai 13 berbunyi, Dylan baru tersadar ia memegangi Aleeson terus.
" Yeah, aku harus bekerja " bunyi elevator tersebut seperti bunyi alarm yang menyadarkan Aleeson bahwa dirinya bukan siapa-siapa di antara mereka yang terlihat serasi. Akan tetapi Aleeson tersadar dengan perkataan Verona yang mengatakan "ipar".
Tak ada yang dapat dilakukannya. Dylan dan Verona pergi menuju ruangan Dylan, ruangan CEO. Aleeson turun dengan tangga evakuasi, karena akan merasa irit listrik kantornya dan harus menggerakan tubuhnya sebelum pekerjaan dimulai.
Aleeson tiba diruangannya, dan melihat setumpuk gunungan kertas untuk dibuat salinan. Rasanya Aleeson ingin berhenti dari SeymourCyber, tetapi dia masih harus membiayai kuliahnya. Disamping itu Aleeson tidak mendapat tunjangan lagi dari Kobash sejak 3 bulan lalu. Maka dari itu dia harus bertahan di SeymourCyber.
Aleeson sebenarnya tidak menginginkan uang dari negaranya untuk membiayaikehidupan mereka di Marcat. Tapi ketika kiriman uangnya datang, Aleeson mengetahui bahwa Sam baik-baik saja. Kini hati Aleeson berkecamuk memikirkan keluarga angkatnya di sana. Takut jika Sam telah tiada seperti ayah dan ibunya meninggalkan Aleeson. Dia mulai mengerjakan pekerjaannya.
" Kau datang malam ini ?" entah Ryan dari mana muncul di belakang Aleeson atau karena Aleeson terlalu fokus bekerja. Aleeson tanpa pikir lagi, dia mengambil tangan Ryan otomatis melakukan gerakan judo.
Terdengar suara benda terjatuh kencang sekali.
" BRUAK" Ryan menghantam lantai.
" Aleeson, kau .. kenapa sih" Ryan meringis kesakitan lalu pelan-pelan bangkit.
" AARgh, maaf Ryan. Kau kenapa sih buat kaget aku terus" Aleeson membantu Ryan berdiri, tetapi Ryan sengaja membuat tubuhnya untuk sulit di angkat oleh Aleeson.
Ryan tidak mengetahui, walaupun tubuh Aleeson kecil masa ototnya lumyan berat. Aleeson memegang tangan Ryan siap mengangkat, setelah terangkat sedikit Aleeson tersadar kalau dia seharusnya bertingkah lemah. Aleeson melepaskan pegangan dengan Ryan malah kehilangan keseimbangannya jatuh tersungkur ke pelukan Ryan. Kepalanya mencium dada bidang dan kekar Ryan. Ryan memeluk erat Aleeson agar tidak terbentur ke lantai sebisa mungkin.
__ADS_1
" oh, nikmatnya" Ryan keceplosan saking bahagianya.
" lepaskan aku cabul" Aleeson memerah malu sekali, tetapi pelukan Ryan makin erat.
" Kau gila ya, aku menunggu momen seperti ini setiap kali datang keruanganmu." Ryan bersyukur sekali kepada Tuhan atas pagi yang indah ini.
Mereka berdua diam selama 5 menit, Aleeson harus berpura-pura lemah. Bisa saja Aleeson mematahkan tangan Ryan saat itu, hanya saja Aleeson tak ingin identitasnya sebagai seorang militer diketahui oleh Ryan.
" Baiklah, aku mengaggap kau pergi malam ini denganku pada acara kantor" Ryan mulai melepaskan Aleeson.
" Kau tak bisa memaksaku, Ryan. Kau kan tahu aku harus kuliah" Aleeson tahu cara melarikan diri.
" Kau benar, tapi aku punya caraku sendiri " Ryan tersenyum nakal, wajah Aleeson merah.
Lalu Ryan tertawa senang. Karena baginya wajah merah Aleeson menandakan senyumnya barusan membuatnya keren.
" Ryan, gaunku terangkat " Aleeson rasanya tidak punya muka lagi. Dress merah yang di kenakan Aleeson hanya selutut saja, karena Aleeson merasa kerjanya hanya berdiri selama ini. Jadi pikirnya dress seperti apapun tidak masalah untuk di pakainya.
.
" Hah, maafkan aku " Ryan salah tingkah langsung mengangkat Aleeson untuk berdiri, tetapi gerakan itu malah memperlihatkan warna ****** ***** hitam berenda Aleeson yang seperti popok bagi Ryan. Wajah Aleeson sekarang panas sekali rasanya karena sangat malu sambil membenarkan pakaiannya.
"Kalian sudah selesai manja-manjaannya ?" kata sesosok suara misterius dari arah pintu masuk ruangan Aleeson.
Aleeson cepat-cepat memastikan kalau itu bukan suara Dylan. Rasanya kepala Aleeson habis dipukul pakai palu, sakit seketika. Lebih parahnya lagi ada Verona disamping Dylan. Mereka berdua entah sejak kapan menyaksikan adegan memalukan bagi Aleeson.
" Biarkan aku mati, Tuhan. Hilangkan saja wajahku" dalam hati Aleeson menjerit karena malu. Wajahnya merah seperti tomat.
" Kau sebenarnya pacarnya Dylan atau Ryan ?" Verona bingung dengan posisi Aleeson.
Aleeson diam saja tidak menjawab. Begitupun Ryan tak berani menjawab, Ryan tahu bahwa jika mengaku didepan Verona sama saja dengan mengaku depan keluarga besar. Verona adalah adik kandung Dylan yang merupakan sepupu dari Ryan. Dengan kata lain, Ryan bekerja di perusahaan Seymour sebagai manager. Di depan Verona, Ryan berubah cool dan maskulin tidak seperti kaleng rombeng.
" Kalian bersaudara ?" Aleeson baru menyadarinya. Terbuai dengan wajah spek Dewa seperti Ryan dan Dylan.
" Dari mana saja kau, Putri Tidur ?" Verona agak cemburu sekarang karena ternyata Ryan dan Dylan dekat dengan Aleeson.
" Dia hanya pegawai, goa inilah tempatnya" kata-kata Dylan menjelaskan bahwa Aleeson manusia goa.
Aleeson merasa terhina malah bilang " Jangan sampai kau jatuh cinta padaku" Dylan tertawa terbahak-bahak.
" Kau tidak bisa bilang begitu dong, kau kan perempuanku" Ryan mengguncang-guncangkan Aleeson dengan gerakan menyadarkan itu. Verona merajuk dan pergi keluar.
" Siapa namamu ?" Dylan lupa namanya.
" Aleeson, namaku" tak bergeming.
" Baiklah, direksi bermaksud mengundangmu dalam rapat." kata Dylan.
" Sayangnya kau harus ikut denganku sekarang"
__ADS_1
" What, why ? " Aleeson merasa dalam masalah berbalik jadi sangat bingung, Veronika seperti merajuk pergi keluar lalu Dylan mengajak rapat.
" Aku tak ingin rapat berjalan lama karena kau. Ayo cepat!." Dylan berbalik dan berjalan memencet elevator.
Aleeson memandang Ryan yang geleng-geleng menyuruhnya mengikuti Dylan lalu pergi dan meninju perut Ryan.
Aleeson mengikuti Dylan tanpa berbicara menuju lantai 13. Begitu masuk ruangan CEO Aleeson takjub, karena ruangannya sangat bersih dan berwarna cerah. Dindingnya kaca jendela semuanya " waw " Aleeson tak menutupi kekagumannya. Suatu hari, dia ingin membuat ruangan seperti ini untuk presiden Cleo.
" Kau suka ruanganku ?" Dylan tertawa mendengar Aleeson terkagum-kagum. Mereka berdua belok ke kanan maka bertemu dengan seluruh Direksi SeymourCyber.
" Silakan duduk Nona Kecil " hanya ada satu kursi kosong di sana, dan Aleeson melihat Verona tidak duduk ikut dalam rapat ini. Verona menatap Aleeson dari kursi paling belakang dekat tembok hanya memperhatikan. Aleeson menduga kursi yang didudukinya adalah kursi Verona. Disebelah Aleeson adalah orang yang berambut putih. Tetap menarik untuk dilihat, wajahnya sangat tampan. Aleeson lama menatap pria itu.
" Baiklah silakan bertanya Tuan Seymour" Aleeson menengok kepada Dylan dan pria tua itu. Jika pria tua ini Tuan Seymour, berarti Dylan anaknya. Lalu Tuan Seymour sendiri yang bertanya. Terlalu berlebihan menurut Aleeson.
Tuan Seymour maju kedepan " Terima kasih Dylan, tak perlu formal begitu kau membuatnya ketakutan"
Aleeson tersenyum kepada yang lain, jelas sekali cemas. Aleeson harus mencari alasan yang lain selain dirinya seorang yang menyukai buku-buku. Pasti para direksi ini sungguh bodoh mengira itu benar. Pikiran Aleeson sangat penuh dan ketara sekali bahwa dia sedang cemas.
" Baiklah Nona, maafkan kami telah lancang mengundangmu ke ruangan Dylan" Tuan Seymour bicara sangat baik sekali, sangat menawan. Tetapi Aleeson tidak boleh terlena dengan orang-orang Marcat.
" Nona Kapal selam yang akan kami hibahkan adalah kapal selam dengan teknologi tercanggih. Kami pikir belum ada buku yang menulis tentang kapal ini" Tuan Seymour berjalan maju ke arah Aleeson.
Hati Aleeson berdebar sangat kencang, " apakah aku ketahuan?" Aleeson berkeringat berkutat dalam pikirannya. Aleeson mulai berdiri, semua mata memandangnya tak terkecuali Verona.
"Maaf, maafkan saya sangat lancang Tuan Seymour" Aleeson mulai berakting mantap.
" Kapal selam terbuat dari logam. Saya pernah menyelam eh maksud saya membaca buku, jika pada kedalaman 850 meter bawah laut kita manusia akan hancur dengan tekanan 85 atm (atmosfer). Kapal selam anda maksimal kuat dengan tekanan 1100 meter saja. Karena Anda membuat 2 tanki pemberat. Seharusnya satu saja sudah muat lebih dari 20 orang, Tuan" penjelasan Aleeson membuat semuanya terdiam. Melihat reaksi orang-orang sangat berbahaya, Aleeson buru-buru bilang bahwa dia hanya baca bukunya saja.
" Sungguh kau tidak perlu membuat dua tangki pemberat, Tuan Seymour" Wajah Aleeson memelas.
" Kalau begitu ruang pada kapal selam tersebut akan sangat besar ? " Tuan Seymour memberitahu Aleeson dan Verona mengangguk-angguk setuju dengan ayahnya. Aleeson tahu Verona tidak mengerti. " Aku yang akan mencoba menyelam dengan kapal ini jika telah rampung semua".
"Maaf, kenapa Tuan ?" Aleeson tidak mengerti mengapa Tuan Seymour ingin mati di laut.
" Jika kau mau menaikinya sendiri, itu berarti ada seseorang ingin kau mati " sebisa mungkin Aleeson merangkai kata-katanya hingga jelas tapi tetap pada intinya.
" Lancang sekali kau!" Dylan ingin maju menuju Aleeson, matanya melototi Aleeson. Tetapi ditahan oleh Tuan Seymour, karena ucapan Aleeson harus dipertanggung jawabkan. Aleeson sedikit menutup wajahnya menghela nafas dalam. Aleeson harus tetap sadar bahwa dirinya sedang berakting.
" Tolong jelaskan Nona Aleeson" Tuan Seymour masih sambil memegangi Dylan.
Aleeson melihat sekitar dan menarik nafas lagi.
" Apa kau tahu, Tuan ? memiliki dua tangki pemberat itu akan menghancurkan kapalmu di kedalaman 1000 meter saja" Aleeson tidak main-main sekarang.
" Siapa yang mengusulkanmu, membuat kapal selam ?".
Dylan tidak tahan dan melepaskan pegangan ayahnya menghampiri Aleeson.
"PLAK " menampar pipi mulus Aleeson. Aleeson melihat langit-langit kantor Dylan mulai gelap, Tuan Seymour mendorong Dylan dan mencoba menangkap Aleeson. Beberapa Direksi yang lain bebrdiri untuk melihat kejadian ini dengan lebih jelas. Aleeson tertangkap oleh Tuan Seymour. Keadaan gelap keseluruhan, Aleeson mendengar beberapa berteriak
__ADS_1
" Kau tidak boleh memukul perempuan!..." samar-samar Aleeson mendengar lalu menghilang.