
Aleeson mencari Ryan, tetapi pria itu tinggi jadi berjalan lebih cepat 2x dibandingkan Aleeson. Dia mencari Ryan untuk bertanya, mengapa ia berhenti menjadi seorang militer. Mencari kesana kemari tetapi tidak mendapatkan Ryan, jadi Aleeson kembali keruangannya. Aleeson merasa tertipu dengan sikap Ryan selama ini, karena Ryan selalu menggodanya setiap hari selama ini. Ternyata memang benar ia seorang playboy kelas kakap, dengan alasan sebagai seorang militer rasanya kelewatan sekali untuk menjauhinya. Diam sejenak, sebenarnya tidak mengerti maksud mereka ( Ryan dan Dylan ) tadi. Seandainya di promosikan sudah pasti akan minta gaji yang besar. Aleeson jadi tidak perlu pusing memikirkan biaya. " Apa aku harus menjadi seorang perempuan penggoda, supaya mudah mendapatkan uang ?" Aleeson berpikir liar, tetapi ada hal lain yang mengurungkan niatnya " Tubuhku banyak bekas luka, mana mungkin ada yang tergoda" Aleeson tersenyum, rasanya mustahil sekali.
" Hei, Aleeson ayo kita makan siang" Dylan memanggil Aleeson yang melamun.
" Loh, kapan kau datang ?" Aleeson benar-benar tidak sadar Dylan disana. " Mana Ryan ?"
" Ia ada urusan, makanya jadi kita berdua saja yang makan siang " Dylan jalan di depan Aleeson.
" mm kita makan apa ?" Aleeson ragu-ragu mau mengikuti Dylan.
" Kau suka steak ?"
" Suka sekali" Girang bukan main Aleeson di ajak makan steak. Melihat Aleeson tersenyum membuat wajah Dylan merah, karena melihat Aleeson yang senang. Dylan bukan seorang playboy, dihatinya hanya ada ibunya seorang. Sayangnya ibu Dylan meninggal karena serangan jantung di sebuah televisi swasta. Sejak kejadian itu, tak ada perempuan manapun lagi yang disayangi oleh Dylan.
Mereka memasuki tempat makan yang elegan, Aleeson meraih menu makanan duluan sambil duduk di kursi sofa yang nyaman.
" Dylan, ini mahal sekali" Aleeson berbisik wajahnya disembunyikan dibalik menu.
" Kau menolong keluargaku, lagipula aku ini CEO. Makan saja apa yang kau mau"
" Lebih baik kau berikan saja aku uang, sayang sekali kalau semua ini berakhir di kamar mandi" Aleeson tetap tidak enak menerima traktiran makan dari Dylan semahal ini.
" Ryan tidak pernah mentraktirmu makanan mahal ya?" Dylan mulai lagi dengan keangkuhannya
__ADS_1
"penyakit narsisnya kambuh lagi" kata Aleeson dalam hati sambil memutar bola matanya.
" Dan apakah kau mengecek rekeningmu Sabtu lalu ?" Dylan bingung Aleeson minta uang lagi karena pada saat Aleeson di rumah sakit ia mentransfer uang ke rekening Aleeson.
" Tidak, kenapa ya ?" Aleeson mengeluarkan hpnya langsung mengecek. " No way, kau baik sekali" Aleeson senang bukan kepalang Blu Cyber mentransfer 5 juta, Aleeson sangat bahagia. Uang 5 juta itu setara gajinya 2 bulan.
" Kau senang sekali"
" Iya, aku senang. Karena akhirnya tabunganku ada isinya." Aleeson tertawa bahagia.
" Kau kan pintar bela diri, perhitunganmu tajam, dan menguasai skill lain. Kenapa bekerja dikantorku ?" Dylan sangat penasaran sekali.
" Ayahku berpesan agar aku menjadi manusia yang berguna. Dia menyuruhku menjadi seorang artis saja" Aleeson masih tertawa. " Ayahku memang bodoh dia tidak sekolah. Maka dari itu orang seperti aku, mana bisa
jadi artis"
" Dirumah" Aleeson harus berhati-hati menjawab setiap pertanyaan dari Dylan.
" Memang apa bakatmu untuk menjadi artis ?"
" Aku pintar berakting" Aleeson tersenyum cantik, Dylan menahan diri untuk tidak maju mencium Aleeson. " Oh Tuhan, aku ingin mendaratkan bibirku ke bibirnya" dalam hati Dylan mencoba untuk tetap sadar.
" Kau ******* yang luar biasa menggoda" kata pujian dari Dylan untuk Aleeson.
__ADS_1
" Hei, kau sudah berani mengatakan begitu" Aleeson tidak terima.
" Kenapa kau tak ingin seorang pelindung sepertiku ?" Dylan menatap dalam Aleeson dalam.
" Kau sakit jiwa ya? Kau saja hampir terbunuh saat itu" Aleeson dengan percaya diri sekali mengatakannya.
" Kau tak memberiku kesempatan" Dylan tak mau kalah, tertawa sangat menawan sekali.
" Maaf saja kau , kalian lambat" Aleeson mulai minum jus tomatnya
" Bagaimana cara mereka melatihmu ? Kau sungguh luar biasa Aleeson" Dylan masih tidak percaya gadis kecil didepannya seorang pendekar. " Menikahlah denganku" Dylan berkata dengan santai.
Aleeson menyemburkan jus tomatnya berantakan, lalu terbatuk-batuk."uhuk uhuk, Ohok" menarik perhatian orang-orang yang makan siang disana.
" Ayolah bodoh, kau tidak perlu sampai bereaksi sampai seperti itu, Aleeson" Dylan berdiri disebelah Aleeson menepuk lembut punggungnya.
" Sinting " Aleeson berusaha mengeluarkan sebuah kata dengan jelas, tapi masih tetap tidak bisa menahan batuknya. Dylan tertawa, betapa menggemaskannya Aleeson. Tiba saatnya mereka makan dengan tenang tanpa bicara sepata katapun hingga Dylan membayar makan siang mereka.
Naik elevator bersama hingga lantai 12 membuat mereka berdua menjadi sangat canggung sekali berkat perkataan Dylan saat makan siang tadi. Aleeson tidak percaya Dylan Seymour mengajaknya menikah saat makan siang tadi. Pelan-pelan wajah Aleeson merah dan menjadi panas, malu sekali kalau ingat Dylan melamarnya tadi. Tetapi Aleeson tersenyum antara bahagia dan tak percaya, Seymours memiliki garis wajah yang sangat tajam dan memikat. Rasanya tampan saja tak cukup mewakili kehidupan Clan Seymours ini, jika saja bukan karena tersumpah oleh militer Kobash, mungkin Aleeson akan bersenang-senang sejenak dengan Dylan atau Ryan. Keduanya benar-benar keren dan sulit untuk membuat tatapan berpaling dari mereka.
" Silakan, nona kecil" Dylan mempersilahkan Aleeson keluar lebih dahulu ke lantai 12. Saat Aleeson ingin keluar dari elevator, pintunya ditahan oleh kaki Dylan lalu tangannya meraih tangan Aleeson sambil berbisik ditelinga Aleeson. " Besok pakai rok yang lebih mini dari ini, agar kau bisa lebih menggodaku dengan ****** ***** pink mu itu" bulu tangan Aleeson berdiri tetapi berusaha tetap tenang karena Dylan adalah CEO di Perusahaan ini juga seorang Direktur. Segala tindakan Aleeson akan terlihat di cctv kantor.
Aleeson masuk ke ruangannya sambil memikirkan perkataan Dylan. Perkataan Direkturnya itu menyadarkan Aleeson, bahwa kelak dia akan menikah, dia akan memiliki sepasang anak, dia akan merawat keluarga kecilnya sendiri, melahirkan, mengurus suami. Aleeson duduk di kursi, lalu membuka-buka dokumen di komputernya. Dia menolak pemikiran memiliki seorang suami seperti Dylan. Aleeson berpikir bahwa Dylan terlalu keren untuk kehidupannya yang biasa saja. Mungkin dalam berpergaulannya, Aleeson hanya mengetahui nama-nama makanan dan model pakaian.
__ADS_1
Dylan duduk sambil menanda tangani dokumen yang harus diserahkan hari ini ke sekertarisnya. Sebenarnya Dylan menyukai perempuan yang tinggi, tetapi belakangan ini ia lebih tertarik dengan Aleeson. Dylan penasaran dengan bekas luka di punggung Aleeson. Aleeson cantik, tetapi menggelikan sekali kalau dia memilih menjadi seorang *******. Dylan tenggelam dalam pikirannya, Aleeson benar-benar wanita yang menantang. Bayangan ****** ***** Aleeson kembali teringat oleh Dylan. Hasratnya tak akan pernah tercapai jika tidak dari Aleeson sendiri.
" Sial, kenapa aku jadi memikirkan si ******* bontet itu" Dylan merasa tubuhnya menjadi panas. Ia berdiri berjalan mondar-mandir mengacak-acak rambutnya. " Sialan" umpatnya.