
Suara tembakkan dan teriakan itu tiba-tiba jadi sunyi. Aleeson berkesimpulan ini adalah penyandraan. Ryan memegang tangan Aleeson terus dan berkeringat.
" Ryan, lepaskan kau berkeringat"
" Kau jangan panik ya, Aleeson. Aku akan jaga kau" Ryan berkeringat
" mereka menodongkan pistol ke arah Paman dan Dylan."
" Kau harus hubungi polisi" Aleeson bersuara kecil.
Ryan mengeluarkan telepon genggam menulis pesan singkat.
" Aku punya banyak teman polisi" Ryan bicara sambil menghitung jumlah penjahat disana.
"BRAK" terdengar suara pintu evakuasi di dorong kasar mereka bersembunyi lagi ke dalam kamar kecil lari tanpa suara. Mereka memutuskan naik ke atas plafon saluran udara. Ryan memberi pijakan pada kedua tangannya untuk Aleeson naik, tetapi Aleeson naik dengan baik sekali. Sangat lancar tanpa bantuan, lalu Ryan ikut naik ke atas. Mereka berdua harus berhati-hati karena berat tubuh mereka berdua bisa mencapai 100kg. Tetapi Aleeson mempunyai caranya sendiri, yaitu menahan kakinya pada dinding samping kiri kanan saluran udara. Ryan memberi isyarat maju terus dan kabur karena belum meiliki rencana.
" Alex, disini aman. Tidak ada siapa-siapa." Pria gemuk itu berteriak kepada temannya yang menunggu diluar.
Aleeson dan Ryan melanjutkan berjalan terus.
" Sial, kenapa mereka banyak sekali dasar manusia-manusia bodoh apa yang kalian tuntut sebenarnya"
Aleeson memaki mereka, tetapi saat memandang Ryan dibelakangnya Aleeson merasa kasihan. Seandainya Aleeson menolong Ryan, Dylan dan yang lainnya apakah Aleeson akan di pecat mereka karena mengetahui Aleeson seorang militer dan musuh terbesar Ryan. Sungguh kepala Aleeson terasa sakit jika harus mengulang kenalan kembali di tempat lain. Wajah Aleeson mulai memerah, Ryan pikir Aleeson terserang panik diruang sempit. Ryan memberi isyarat untuk berhenti di sebelah kanan.
Di tempat lain keadaan tak kalah mencekam, mereka membunuh satu karyawan lelaki yang coba melawan. Maka nyawa Seymours akan melayang jika berani melawan. Verona dipegang oleh pemimpin penjahat itu sebagai sandra mereka. Tetapi para penjahat belum mengatakan maksud dan tujuan mereka kesini. Saat Dylan melihat sekelilingnya, ternyata Ryan dan Aleeson tidak ada disana. Dylan sedikit lega karena bisa mengandalkan Ryan. Terdengar mobil polisi melegakan perasaan Dylan dan karyawan lain mulai ramai. Pemimpin penjahat mengambil seorang perempuan yang mulai histeris.
" Tidak, jangan bunuh aku. Tolong jangan, Tuan Dylan tolong aku. Tolong..." kata seorang karyawannya.
" DORR" Perempuan itu ditembak, satu lagi jatuh korban.
Verona melihatnya bergetar hebat, dia sangat ketakutan melihat darah keluar dari tubuh karyawan yang mati itu. Panik menyerang Verona yang memandang Dylan minta tolong. Dylan menggelangkan kepalanya, meminta Verona tenang.
Aleeson menggunakan Bahasa Isyarat Marcat. Ryan sangat terkejut, Aleeson mengetahui bahasa isyarat itu. Aleeson menjelaskan MSL sangat mudah dipelajari siapa saja. Aleeson yakin sekali Ryan mengetahui bahasa isyarat karena Ryan seorang militan. Aleeson menenangkan Ryan, Aleeson mengatakan akan membantu Ryan menghajar penjahat itu. Ryan bertanya bagaimana caranya ?. Lalu Aleeson berkata, jangan benci aku nantinya. Ryan bertanya serius sebenarnya ada apa, apakah Aleeson salah satu dari mereka?. Aleeson bilang bukan, dia adalah pegawai di SeymourCyber. Ryan tersenyum setuju Aleeson bantu dirinya. Aleeson bilang kepada Ryan bahwa pengecut itu berjumlah 5 orang semuanya bersenjata.
Ryan langsung mengetik pesan kepada kepolisian. Diruang junitor Ryan mencari pisau sedangkan Aleeson membawa kain lap meja yang dipelintirnya memanjang. Ryan bingun kenapa Aleeson memilih kain lap, tetapi tidak ditanyakannya.
" Ryan, ada dua korban meninggal dunia" Ryan kaget bukan kepalang, berarti setiap tembakan yang terdengar masing-masing memiliki korban. Aleeson memegang tangan Ryan, mengatakan turut berbelasungkawa. Ryan memeluk Aleeson, Aleeson membisikan rencana mereka berdua.
" Aku menginginkan Korbi yang kalian penjara dilepaskan !!" Pemimpin penjahat itu bicara mulai bernegosiasi dengan kepolisian.
__ADS_1
"Dan kalian harus menyiapkan helikopter untuk kami kabur, jika tidak wanita cantik ini ku korbankan" telepon ditutup kasar olehnya. Veorna kaget sampai tersentak.
" Tenanglah gadis cantik, aku berubah pikiran kau tidak akan mati. Kau jadi pelayanku saja ya. Aku tidak sabar menikmati kau" Pemipin penjahat itu menciumi leher Verona. Tuan Seymour melihatnya sambil menangis, sedangkan Dylan menatap dengan penuh dendam.
Telepon berbunyi kembali, mengatakan Korbi sudah sudah masuk kedalam gedung. Polisi minta bebaskan beberapa sandar. Pemimpin itu setuju, menyuru 2 anak buahnya melepas 10 karyawan yang kebanyakan adalah pekerja bagian keamanan.
" Kalian hebat sekali membuatku keluar dari penjara" Korbi senang sekali melihat teman-temannya jenius.
" Di mana berlian itu kau letakan?" Pemimpin penjahat itu sekarang melepaskan Verona dan menodongkan pistolnya ke Korbi.
" Aku menyimpannya dengan aman. Ayo kita keluar sama-sama dan habisi mereka semua". Pemimpin itu terdengar setuju dengan ide gila Korbi.
" Kalau berlian yang kalian mau, aku punya banyak" Dylan berteriak dan langsung mendapatkan perhatian mereka.
" Aku memakai cincin berlian" Dylan menunjukan jarinya.
" Satu berlian, bebas satu sandra?" Dylan tidak peduli dengan hartanya. Ia tidak ingin jatuh korban yang lain lagi.
" Aku membawa berlianmu" Aleeson yang muncul.
" Maafkan aku Pak Bos, aku tidak ingin negosiasi dengan mereka" Semua penjahat bingung dengan munculnya Aleeson. Seorang gadis dengan tubuh mungil bergaun dan cantik.
" Kak, helikopter sudah berada di atas gedung" kata lelaki gendut komplotan penjahat yang Aleeson lihat dari plafon tadi.
" Baiklah, ku ambil berlianmu" Pemimpin penjahat itu berjalan mendekati Aleeson.
" Tutup mata kalian !" Aleeson berteriak menangkap tangan penjahat licik itu, lalu di pelintir sekuat tenaga.
"AAAARGH" penjahat itu teriak seperti banci.
Teriakan penjahat itu adalah tanda dari Ryan harus keluar evakuasi sandra dan memasukan polisi kedalam gedung. Korbi cepat-cepat mengambil pistol dari penjahat lain, lalu menembaki ke arah Aleeson . Aleeson menghindar dengan lihainya malah mengenai kaki si pemimpin penjahat itu. Tuan Seymour berlindung di bawah meja resepsionis, Verona keluar bersama sandra lainnya. Dylan tetap ditempatnya ingin ikut menghajar penjahat-penjahat itu.
" Bocah bontet sialan" Korbi menyuruh anak buahnya yang lain untuk menembaki mereka. Ryan berlindung sedangkan Dylan menarik Aleeson untuk berlindung.
" Sialan, kenapa kau tak bilang bisa bela diri" kata Dylan sambil melakukan gerakan melindungi Aleeson di balik dinding.
" Apa yang akan terjadi jika kau mengetahuinya ?" Aleeson ketus sekali kepada bosnya. Wajah Dylan memerah mendengar Aleeson bicara begitu. Memar di wajah Aleeson terlihat sangat jelas dengan jarak sedekat itu.
" Maafkan aku" Ryan memegang pipi memar Aleeson mengelusnya lembut.
__ADS_1
" Apaan sih, kau bodoh" Aleeson menempeleng kepala bosnya tanpa basa basi.
" Hei, aku bosmu" Dylan kehabisan kata-kata.
"DOR DOR DOR DOR DOR" tembakan itu mengincar tempat berlindung Aleeson dan Dylan. Pertarungan ini tak dapat di lawan oleh Aleeson dengan jarak jauh, karena dia tidak memegang senjata apapun. Dylan memperhatikan Aleeson yang seperti mencari-cari sesuatu.
" Apa yang kau cari ?" Dylan bertanya.
" Batu, pistol, apapun " Dylan tertawa, bersemangat sekali melihat perempuan seperti Aleeson.
" Pakai punyaku" Dylan mengeluarkan pistolnya dan memberikannya kepada Aleeson. Mata Aleeson berkaca-kaca melihatnya " Kau kenapa?"
" Pistolmu terbuat dari emas dan berlian" Aleeson merasa pasti senjata ini mahal sekali.
"' Kau pakai saja gadis kecil dan jangan bunuh orang" Dylan mengusap-usap kepala Aleeson. Dylan mengintip ternyata mereka kabur ke atas menuju helikopter mereka dan Ryan berlari mengejar mereka.
" Sialan, Ryan biar aku saja!!" Aleeson berlari membawa pistol Dylan yang menyusul Aleeson berlari menuju elevator barang. Dylan berhasil mengejar mereka berdua. Aleeson berlari secepat kilat.
" Kita ke lantai 37, ada pondok kecil di atas sana. Ini elevator barang, pasti bisa sampai duluan." Dylan terengah-engah menjelaskannya, lari sprint mengejar Aleeson dan Ryan sangat melelahkan baginya.
" Kau harusnya tinggal saja di bawah dengan polisi, ini berbahaya." Ryan menasehati Aleeson tak suka dia ikut campur urusan lelaki.
" Aku bilang akan menolongmu" Aleeson bersikukuh sambil elevator naik lantai perlantai.
" Aku curiga kau ini bukan saja jago berkelahi" Ryan menatap Aleeson dengan tajam begitu juga Dylan.
" Hei, harusnya kalian berterima kasih. Aku mau perusahaan menggratiskan makan siangku selamanya" Aleeson mengalihkan pembicaraan. Dylan tertawa lagi, merasa sangat senang mengetahui Aleeson baik-baik saja.
Mereka bersiap karena sudah lantai 30. Dylan mengambil pistolnya dari tangan Aleeson.
" Kau diam saja disini. Biar aku dan Ryan yang bereskan" Ryan mengangguk setuju dengan Dylan.
" Aku , bukannya kita harus bersembunyi ? siapa tahu mereka mengetahui elevator ini dan menembaki kita" Mereka setuju dengan apa yang dikatakan Aleeson dan bersembunyi di atas elevator. Saat sampai di lantai 37 mereka ditembaki membabi buta sampai pelurunya habis, tetapi liftnya kosong. Aleeson terjatuh dari atas tempat persembunyiannya ke dalam lift.
"BRUK" Ryan buru-buru jatuh juga cepat-cepat membangunkan Aleeson.
" Dasar bocah cebol" Kata pria yang gemuk langsung ingin menendang Aleeson.
" HEI KALIAN, CEPAT " kata Korbi yang sudah di helikopter pria gendut itu dan 2 temannya berlari menuju helikopter.
__ADS_1
Sayang sekali Aleeson berlari lebih cepat.