
emandang Aleeson terlelap rasanya membuat ketegangan Dylan berkurang. Dylan berjalan menuju telepon genggamnya hendak menjelaskan kepada ayahnya Seymour bahwa ia tidak bisa hadir. Mencoba mengenyakan diri duduk di sofa.
Ada rasa trauma pada diri Dylan jika melihat luka pada tubuh seseorang. Waktu kecil, Dylan berlatih bela diri dengan seorang pelatih pilihan dari ayahnya yang bernama Takada. Saat itu usia Dylan baru 10 tahun, tiba-tiba rumah ayahnya diserang oleh rival perusahaan Seymour. Pelatih Dylan yang mati-matian melindunginya mendapat luka paling parah yaitu luka sayatan pedang di seluruh penjuru punggungnya, kehilangan satu mata, juga sayatan besar di wajah.
Singkatnya musuh berhasil di tekan mundur oleh penjaga di rumah Seymour. Takada yang mendapat luka paling parah di istirahatkan sementara oleh Seymour sendiri dengan tunjangan yang tetap akan Takada terima, akan tetapi Takada yang selama masa penyembuhan malah merasa dendam dengan keluarga Seymour. Dendam Takada beralasan bahwa akibat keluarga Seymour hidup Takada harus di lanjutkan dengan luka sayatan di wajah yang seperti monster sepanjang akhir hayatnya.
Datang ke Mansion Seymour dengan wajah baret membuat Dylan kaget sekaligus takut dengan tatapan Takada yang penuh dendam. Takada berhasil diringkus dan di masukan kepenjara oleh Seymour demi melindungi keluarganya akan tetapiDylan masih ingat dengan jelas wajah Takada saat hampir menerkam ibunya.
" Dad, maafkan aku tidak bisa hadir malam ini" Dylan langsung bicara saat tersambung dengan ayahnya.
" Sudahlah, kaku masih bisa ke kantormu besok. Ada apa ?" ayahnya Dylan juga ingin mengetahui kenapa anaknya tidak bisa datang.
" Aku menjadikan Aley sebagai asisten pribadiku lalu kubawa ke pesta Vai jam 7 tadi malam. Disana Vai sangat menyukai Aleeson hingga menciumnya. Aleeson yang tidak terima mematahkan tangan Vai, sekesal itu Aleeson hingga mabuk dan tenggelam di kolam." Dylan menerangkan kejadian sebenarnya ke pada Seymour.
" Sudah sepantasnya Aleeson mematahkan tangan Vai." Nada Seymour sedikit meninggi.
" Dad, luka ditubuh Aleeson ada banyak sekali. Sangat mengerikan " Dylan memotong ucapan Seymour.
" Kau yang membawanya setelah tenggelam ? nak, aku tahu kita berhutang nyawa kepada Aleeson. Tetapi, tidakah menurutmu Aleeson terlalu berbahaya?. Bukan saja hanya untukmu nak, tetapi negara ini" Bujuk Seymour yang mengetahui anaknya tertarik dengan Aleeson.
" Aku mengerti " Dylan langsung menutup pembicaraannya dengan Seymour.
Dylan pindah ke meja kerjanya lalu menyalakan laptop dan membuka data kapal selam yang akan dihibahkan pada negaranya. Memandang Aleeson yang tertidur cukup lama.
" Kenapa aku tertarik dengan bahaya ini atau malapetaka ?" untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Dylan merasa sangat lelah.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi harinya matahari bersinar cerah dengan udara sejuk yang menjelajahi isi apartment mewah Dylan. Sedikit sulit membujuk mata untuk membuka di tempat kasur yang lembut selembut marsmallow. Tidak dapat ada kesepakatan dengan mata yang masih ingin terpejam, Aleeson mencoba menggerakan jari tangannya. Sekuat tenaga meraih kening lalu mengusap kepala. Matapun terbuka, Aleeson mencoba mengingat kejadian terakhir hingga dia sampai di tempat mewah ini. Sekeras apapun Aleeson mencoba, sulit rasanya mendapatkan ingatannya.
__ADS_1
Aleeson berhasil duduk masih mengusap kepalanya, sangat berat dan pusing. Aleeson meringis mencoba menahan rasa sakit pada kepalanya dan mencoba berdiri. Dengan susah payah Aleeson berdiri dan berjalan sambil memperhatikan sekeliling ruangan. Mendapati sudut matanya melihat seseorang tertidur di sofa dekat jendela, Aleeson mengenalinya sebagai Bos Dylan.
" Dylan.. " Aleeson hendak memanggil bosnya yang masih tertidur, tetapi Dylan tertidur lelap. Aleeson lalu melewati Dylan menuju balkon apartment, rakus menikmati sinar pagi sendiri.
" Enaknya menjadi kaya dan hidup tenang seperti Dylan. Hidup mewah seperti Dylan, makan enak seperti Dylan, bergaya seperti Dylan.."
" Apa kau baik-baik saja ?" Dylan memotong ucapan Aleeson, membuatnya kaget.
" Tuan, kau membuatku kaget saja" Aleeson agak malu.
" Kau kadang panggil aku hanya dengan nama, jabatan, bos , bisakah kau berprinsip dalam memanggilku ?"
" Duh, kau benar. Harusnya ku panggil saja p3m6unu4 ya!" Aleeson menahan sakit kepalanya jadi bicara asal.
" Apa kau tidak m3m62nuh saat menjadi seorang prajurit elit ?" Dylan mengejek sinis.
" Kau tidak bisa berenang ya saat kau m4mbuk ? aneh sekali !" Dylan mulai penasaran.
" Aku tidak pernah minum-minuman 4lk0h01." Tutup Aleeson agar Dylan tidak berpikir hal ini dapat di manfaatkan sebagai kelemahan Aleeson.
" Anak baik rupanya" sindir Dylan.
Aleeson tidak membalas ucapan Dylan berjalan masuk ke dalam menuju sofa yang tadi di tiduri Dylan. Akan tetapi Dylan masih memiliki pertanyaan untuk di jawab Aleeson, jadi terus mengikuti.
" Kau harusnya sopan padaku, berapa sih usiamu ?" Dylan benar-benar penasaran dengan usia Aleeson sesungguhnya. Dylan lupa bahwa ia pernah mewawancarai Aleeson untuk masuk ke perusahaannya.
" Aku 21 tahun " Aleeson menjawab singkat, sambil duduk di sofa. Rasa sakit pada kepalanya pasca mabuk menguasai Aleeson.
" Kau punya penghilang sakit kepala ?" Aleeson meringis menekan kepalanya dengan jari-jari kecilnya berharap membantunya menghilangkan sakit kepala.
__ADS_1
" Ada " Dylan berdiri mengambil kotak obat di lemari kerjanya.
" Kukira kau baik-baik saja setelah mabuk kemarin malam" Dylan tertawa senang mengetahui Aleeson seorang manusia yang ada kelemahannya juga.
" Aku benar-benar tidak mengerti kalau orang-orang yang mendapat kebahagiaan dari minum minuman b3r4lk0h0L." Aleeson mengambil sebuah pill yang diberikan oleh Dylan lalu langsung meminumnya.
" Kau mau sarapan ? " Dylan membuka kulkasnya, mengeluarkan beberapa bahan lyang akan di masak olehnya.
" Boleh, memangnya kau bisa masak ? perlu ku bantu ?" Aleeson menawarkan diri , tetapi Dylan menggelengkan kepalanya. Tidak setuju jika Aleeson membantunya.
" Kau istirahat saja dulu"
Aleeson mengangguk setuju dengan ucapan bosnya. Istirahat, itulah yang paling dibutuhkannya sekarang. Dia meluruskan kakinya di sofa. Dia melihat luka panjang di belakang betis kanannya lalu diam sejenak. Aleeson merasa ada yang janggal pada dirinya.
" Dylan !! S1al4n kau!!. Kv6unu3 kau !!" Aleeson menyadari bahwa dia menggunakan pakaian yang berbeda dengan Dylan yang telah melucutinya. Menghampiri Dylan dengan cepat membuatnya kaget bukan main.
" Aleeson, aku bisa jelaskan.." Dylan menghindari cakaran Aleeson yang ingin melukainya.
" Hei, aku bisa jelaskan. Hentikan Aleeson" tanpa menghiraukan perkataan Dylan, Aleeson menyerang bertubi-tubi akan tetapi Dylan menghindariserangan Aleeson seperti ia mengetahui arah gerakan Aleeson selanjutnya.
" Apa kau mau tidur dengan pakaian yang basah ? " Dylan akhirnya bisa menangkap kedua tangan Aleeson. Aleeson menarik nafas panjang berusaha tenang dengan menutup kedua matanya, akan tetapi bayangan bosnya mengganti pakaiannya sangat memalukan bagi Aleeson.
" Harusnya kau jaga aku dari penjaga Vai, bukan aku yang malah selamatkan nyawamu !" Dylan menggoyangkan pegangan tangannya pada Aleeson.
" Kau benar-benar menggemaskan ketika tidur dan mengigau tanpa henti. Lalu aku memelukmu agar kau tenang hingga kembali tertidur" Dylan benar-benar tanpa takut memberitahu Aleeson hal tersebut.
Mendengar penjelasan bosnya, Aleeson benar-benar merasa sangat kacau saat m4buk. Wajahnya merah karena memalukan peristiwa semalam.
" Nah, kalau sudah ingat. Biarkan aku masak untuk sarapan kita. " Dylan sangat suka makanan sehat. Sejak kejadian di kantornya saat Korbi menembak karyawannya , ia memilih untuk lebih waspada dengan segala hal.
__ADS_1