Teroris Kecil CEO

Teroris Kecil CEO
Akhir Tahun SeymourCyber 2


__ADS_3

Aleeson menangis menangkat tangan Komandan Sam tak peduli keadaan apapun, Aleeson ingin datang kepada ibu dan ayahnya. Melihat orangtuanya berlumuran darah Aleeson histeris menjerit, memukul-mukul tanah. Komandan Sam meraih Aleeson, memeluk erat anak kecil pemberani yang menyelamatkannya dan tentara Kobash lain. Aleeson ingin meraih tubuh ayahnya lagi.


" Maafkan aku, maafkan aku ayah ibu" menjerit-jerit. Aleeson kehilangan orangtuanya di usia 14 tahun, sebatang kara.


"Aleeson, Aleeson" ada yang memanggil-manggilnya. Lalu wajah ayah dan ibunya yang berlumuran darah muncul kembali.


" Aleeson kau baik-baik saja?" Aleeson membuka matanya, keringat bercucuran sampai wajahnya dan membasahi rambutnya.


" Nak, kau baik-baik saja ?" Tuan Seymour sangat baik bagi Aleeson. Mengingatkannya pada ayahnya, pada ayah angkatnya, pada presiden Cleo.


Aleeson bangun, dan menangis, Tuan Seymour memeluknya


" maafkan Dylan, tolong maafkan Dylan. Aku minta maaf" Aleeson menangis tersengguk-sengguk membasahi pakaian Tuan Seymour.


" Aku ingin pulang" Aleeson menangis dan selalu menyebutkan "ingin pulang" mereka semua tidak mengerti yang Aleeson maksudkan adalah kembali ke Kobash, ke tempat keluarganya.


" Maafkan kami, nak" Tuan Seymour menyeka air mata Aleeson.


" Kau ingin pulang, biarkan supir pribadiku mengantarkan dirimu pulang".


" Kau tidak mengerti " Aleeson mulai bisa mengendalikan dirinya.


" Kau mau teh hangat ? Dylan, buatkan teh hangat" Aleeson kaget dengan suara bass Tuan Seymour. Belum sempat menjawab Tuan Seymour sudah membentak Dylan. Dylan berdecak lalu pergi ke pantri mematuhi ayahnya.


Aleeson melihat sekitarnya, rapat sepertinya sudah selesai.  Dia sama sekali tidak menggunakan kekuatannya untuk menahan tamparan Dylan. Baginya itu tidak berasa, tetapi Dylan melakukannya didepan banyak orang.


Dylan kembali masuk dengan Ryan yang berwajah pucat berlari menyenggol bahu Dylan.


" Paman, apa kabar ?" Ryan menyapa Tuan Seymour terlebih dahulu.


"Aleeson, kau tidak apa-apa ?" Ryan cemas bukan kepalang mendengar bahwa Dylan menampar wajah Aleeson.


" Aku baik, tenanglah Ryan. Kau membuatku panik lagi" kata Tuan Seymour.


" Aku, baik " Aleeson singkat saja.


Dylan memberikan gelas teh hangat kepada Aleeson " maafkan aku " Dylan sangat menyesal dan tulus.


Aleeson diam saja tidak menatap Dylan.


Tuan Seymour yang melihatnya agak cemas tak ingin Aleeson melaporkan tindakan Dylan tadi ke Polisi.


" Kau ingin pulang saja ?" kata Tuan Seymour lagi.


" Apa, pulang ? tidak boleh, kita kan ada pesta akhir tahun nanti malam. Banyak makanan kesukaanmu" Ryan tidak mau ke pesta tanpa Aleeson.


" Ryan benar, apa kau ingin membawa makanan itu pulang kerumah ?" Tuan Seymour jadi membujuk Aleeson untuk tidak pulang.


Disebelah Aleeson tempat dia dibaringkan di kamar dalam ruangan CEO nya. Aleeson mengambil telepon genggamnya dan melihat pesan masuk dari teman kampusnya bahwa kelas hari ini dibatalkan hingga esok hari.


" Kita pesta dulu ya, kan ada hadiahnya nanti " Ryan mengusap-usap kepala Aleeson.


Tuan Seymour duduk kasur sebelah Aleeson. Tetapi Aleeson melihat pakaiannya basah karena air matanya dan melirik pakaian Tuan Seymour juga basah hanya bagian dadanya saja. Aleeson masih tidak menjawab, Dylan berdiri dibelakang ayahnya.


" Maafkan aku, menamparmu. Bagaimana kau punya kesimpulan seseorang ingin membunuh ayahku ?" Dylan bertanya penjelasan Aleeson lalu, Tuan Seymour juga terlihat penasaran dengan kesimpulan Aleeson tersebut.


" Kau masih belum mengerti juga ?" Aleeson menatap lekat Dylan.


" Secanggih apapun kapal selam akan hancur jika melewati batas 1600 meter kedalaman laut. Jika Tuan Seymour ikut dalam percobaan kapal selam tersebut maka jasadnya akan hancur ditekan oleh tekanan air."


Dylan menjambak rambutnya sekarang dengan helaan nafas yang dalam. Tuan Seymour dan Ryan sama-sama diam saja. Ryan berpikir betapa mengerikan analisa Aleeson. Menghancurkan jasad seseorang adalah kejahatan yang tidak dapat di ampuni, apalagi targetnya adalah seorang Seymour. Sunyi senyap ruangan Dylan, untungnya tidak ada Verona disana.


" Maaf, bisakah aku kembali keruangan saya ?" Aleeson memecah kesunyian.


" Dimana ruanganmu nak ?" Tuan Seymour ingin mengantar Aleeson.


" Sungguh tidak apa-apa Tuan, aku bisa kembali sedniri" Aleeson gugup sekali jika diantar oleh Tuan Seymour.


" Ini gedungku, aku memaksa" wajah Aleeson merah dan berjalan setelah Tuan Seymour dan Ryan.


" Kau tahu Aleeson, hanya bodyguard-ku yang berjalan sebelum aku "


" Ah, maaf Tuan"


" Kau berjalan disampingku" Aleeson menurut. Mereka bertiga memasuki elevator.


" Kau suka bekerja disini ?" Tuan Seymour bertanya kepada Aleeson. Dia hanya mengangguk tandanya suka. Begitu mereka sampai diruangan Aleeson, ternyata hanya ada 2 mesin fotocopy sebuah kursi dan meja.


" Pantas saja kau tahu tentang semua dokumen perusahaan disini." Tuan Seymour melihat Aleeson menggandakan dokumen. Aleeson hanya mengangguk. " Kau baik sekali memperingatkan diriku " Aleeson mengangguk lagi.

__ADS_1


Sementara diruangannya, Dylan duduk dikursinya. Berpikir kembali, kenapa dia sampai menampar anak kecil itu.


" Bodoh sekali aku, pasti dia akan ketakutan melihatku nantinya" Dylan menjambak rambutnya dengan tangan yang ia gunakan menampar Aleeson tadi. Dylan memikirkan bagaimana perasaan Aleeson yang ia tampar tadi.


Saat jam makan siang Aleeson makan dengan Tuan Seymour dan Ryan. Mereka menjadi sangat akrab dengan cerita-cerita saat Ryan dan Dylan kecil. Masa kecil mereka berdua terdengar konyol bagi Aleeson, sangat berbeda dengannya yang harus bertahan hidup. Jadi Aleeson hanya tertawa-tawa saja didepan Ryan dan Tuan Seymour. Bagi Aleeson, orang kaya seperti mereka tidak memiliki hati.


" Karena itu, Paman membiarkan kami di gunung beberapa jam hanya kami berdua." Selesai Ryan bercerita.


" Sebenarnya paman sudah lelah, Ryan" wajah tua Tuan Seymour sekarang terlihat jelas. Sangat berbeda saat pertama kali mereka bertemu.


" Oh, Tuan Seymour. Kau masih bisa melakukan banyak hal" Aleeson menghibur pria tua itu.


" Baiklah, aku ingin membeli pakaian untuk mengganti bajuku yang kumal ini" Aleeson berdiri bermaksud pergi, Tuan Seymour buru-buru mengeluarkan sejumlah uang.


" Belilah pakaian yang bagus-bagus" . Ryan sudah geleng-geleng bermaksud mengatakan Aleeson tak akan menerima uang Paman. Tetapi faktanya Aleeson tidak menolak sama sekali, mengambilnya dengan senang  hati lalu pergi. Ryan dan Tuan Seymour tercengang.


" Apa dia selalu kau traktir makan siang, Ryan ?"


" Benar Paman" Mereka berdua melihat kepergian Aleeson menuju sebuah butik sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Tuan Seymour memutuskan kembali ke kantor mengajak Ryan bekerja dikantor sehingga Aleeson leluasa memilih baju yang dia inginkan. Aleeson masuk ke butik yang memiliki banyak dress berwarna cerah. Pada dasarnya Aleeson sudah berwajah cantik dan badannya yang mungil berisi membuat hampir seluruh baju di butik itu bisa dipakai olehnya. Sehingga pramuniaga disana tidak perlu repot-repot mengecek ukuran tubuh Aleeson. Setelah banyak memilih, akhirnya Aleeson membeli 5 pakaian. Aleeson hampir pingsan saking bahagianya, dia kembali ke kantor dengan berdendang. Sama sekali lupa dengan insiden penamparan dengan Dylan.


Aleeson menuju lantai 12 dan masuk ke ruangannya. Langsung menggunakan dress biru terang atas lutut lagi, rasanya senang sekali. Aleeson berpikir harus berterima kasih kepada Tuan Seymour atas hadia-hadiah ini. Lalu dia mulai bekerja sambil bernyanyi bahkan sangat siap untuk acara nanti malam. Hanya tinggal menginformasikan kepada Presiden Cleo bahwa dia akan pulang terlambat. Kali ini Aleeson melihat Ryan masuk ke ruangan.


" Senang sekali melihat kau cantik menggunakan gaun yang seksi" Ryan seperti seekor serigala lapar yang siap menerkam saat melihat Aleeson yang hanya tersenyum mengarah kepadanya.


" Baiklah, pukul 7 malam ini aku menunggumu." Ryan pergi lagi.


Aleeson hanya berkerja dan tidak terlalu memikirkan yang lain hingga pukul 5 Aleeson berhenti bekerja, dia duduk beristirahat. Aleeson bersiap dan mengganti bajunya, saat melihat ke cermin Aleeson kaget dengan wajahnya. Ada memar dipipinya " kuat juga tamparannya " Aleeson hanya senyum miring. Karena memar ini Aleeson membuat topeng dari bunga imitasi dari ruangannya. Bagi Aleeson, pukulan ini bukan apa-apa. Aleeson membasuh wajahnya, dia pernah mendapatkan yang lebih parah.


Diruangan Dylan ada sedikit keributan.


" Lalu apa yang harus aku lakukan?" Dylan sedikit kesal dengan acara ini. Karena ia tak menyukai keramaian, apalagi harus menyapa para karyawan baginya merepotkan.


" Kau harus tersenyum saja dan jabat tangan mereka, itu kan mudah" Kata Tuan Seymour.


" Kau jangan jatuh cinta " Verona cemberut kepada kakaknya.


" Ayolah, kakakmu bukan tipe penyuka wanita." Verona melotot mendengar perkataan ayahnya,


"Lalu?"


" Binatang" Dylan mengatakan itu teringat dengan Aleeson,  tetapi Tuan Seymour tertawa menepuk-nepuk punggung Dyal. Verona makin cemberut, mendengar celetukan ayahnya itu.


Ryan tidak datang keruangan Aleeson, karena ia mengurus keperluan di aula gedung sampai Tuan Seymour datang. Aleeson tidak terlalu menyukai acara ramai begini, karena dia belum pernah ke pesta. Aleeson hanya tahu latihan dan bertahan hidup. Rasanya setelah membaca chat dari Ryan Aleeson ingin pulang saja.


" Yah, untuk apa aku disini. Lebih baik aku pulang" Aleeson mengambil tas dan baju yang kotor telah dia pakai tadi untuk dicuci dan di bawa pulang. Aleeson memakai mantelnya dan menuju elevator ke bawah.


Saat keluar elevator ternyata di bawah sangat ramai, SeymourCyber mengharuskan seluruh karyawan mengikuti acara akhir tahun yaitu pada bulan September ini, dimana para bos akan membagi keuntungan perusahaan kepada seluruh karyawan tidak terkecuali. Uang bonus akan masuk ke rekening saat absen kedatangan. Dari pada keramaian Aleeson lebih memilih pulang ke rumah, toh Tuan Seymour sudah memberikannya uang padanya tadi.


Aleeson menyusup ke pintu luar mengendap.


" Nona, kau tidak ingin uang bonus perusahaan ?" kata suara misterius dibelakangnya.


" Buat kau saja" Aleeson kira itu adalah satpam kantor tapi ternyata Dylan yang berdiri di pintu masuk gedung.


Aleeson memilih untuk menunggu di luar gedung dengan berdiri sangat nyaman , udaranya segar sekali di banding dengan dalam gedung. Sambil diam karena ketahuan oleh Dylan dia mengendap-endap pulang dari kantornya.


" Kau lebih menyukai diluar ? di dalam banyak makanan enak" Dylan berkata lagi.


Aleeson menengadah ke atas, ingin melihat siapa satpam yang mencampuri urusannya. Ternyata Dylan, Aleeson kaget dan mundur selangkah. Tetapi Dylan jauh lebih kaget lagi melihat wajah Aleeson karena ada memar di pelipis kirinya. Aleeson menyadari reaksi Dylan yang melihat wajahnya langsung menjatuhkan tas bawaannya dan memakai topeng bunga-bunga yang dibuatnya tadi. Karena tubuh Aleeson dan Dylan memiliki perbedaan tinggi, Aleeson menengadah lagi untuk memandang Dylan.


" Aku mau pulang" Aleeson menunduk, mengusap-usap rambutnya sendiri.


" Apakah itu karena tamparanku tadi ?" Dylan menarik Aleeson masuk lagi kedalam gedung dan duduk di tempat duduk dekat situ. Aleeson tetap memegangi topengnya dan menarik kearah berlawanan tanpa kekuatan hingga barang-barangnya berhamburan didepan pintu masuk gedung.


" Lepaskan aku, Pak" kata Aleeson.


" Apakah itu sakit ?" Dylan mengkhawatirkan Aleeson.


" Maukah kau buka topeng itu ?" nadanya memohon sekarang.


" Lebih baik jangan lihat, wajahku jelek. Nanti kau ketularan jelekku"


" Aleeson ku mohon" Aleeson tidak merespon permohonan Dylan hanya melepas pegangan tangannya ditopeng itu. Dylan pelan-pelan membuka topeng Aleeson hingga melihat dengan jelas wajah Aleeson.


" Oh Tuhan, ini buruk sekali" Dylan menghela nafas.


Aleeson memegang tangan Dylan dengan berani.

__ADS_1


" Kau.. tidak mungkin kau tak mengetahui akibat perbuatanmu ini" Aleeson mengambil topengnya dan memakainya kembali.


" Maaf, aku tidak pernah memukul perempuan sebelumnya. Maafkan aku "


" Pak Dylan, kalau aku masih memiliki ayah seperti dirimu saat ini aku akan melakukan hal yang sama denganmu bahkan lebih parah lagi " suara Aleeson mulai bergetar, rasanya dia ingin mematahkan leher Dylan saat itu juga. Aleeson tidak pernah bicara panjang lebar dengan targetnya dan duduk bersama seperti ini.


Ryan berlari menghampiri Aleeson yang dilihatnya duduk bersama Dylan.


" Ayo Aleeson, aku mendapatkan make up dari anak buahku. Kau bisa pakai, biar ku bantu" Ryan semangat sekali merias Aleeson.


" Hai Dylan"


" Hai Ryan, apa Aleeson tidak bisa melakukannya sendiri ?" kata Dylan.


" Tidak Dylan, Aleeson tak memakai riasan apapun di wajahnya"


Ternyata kecantikan Aleeson natural tanpa apapun. Dan Dylan merusaknya, sungguh menyesal rasanya.


" Makanya aku suka kepadanya" Ryan berhenti bicara dan membawa Aleeson pergi untuk berias.


320 Karyawan SeymourCyber berkumpul di aula yang telah disulap menjadi indah dan menakjubkan. Di langit-langitnya bertaburan bintang yang gemerlapan, disisi lain tempat makanan disediakan sangat luas. Seymours sangat berterima kasih dengan seluruh karyawannya yang telah bekerja hebat tahun ini. Lalu ada tempat khusus untuk berfoto dan masing-masing memegang nomor untuk di undi pada pukul 8 malam nanti.


" Ryan, aku sungguh tidak nyaman menggunakan riasan ini"


" Diam dulu, aku hanya memoleskan lapis foundation di wajahmu saja. Kalau ia bukan saudaraku, akan ku balas ia. Dengarkan aku, kau cantik. Ayo kita balas ia"


" Kau gila ya, aku tidak apa-apa"


" Kau bilang tadi jangan sampai Dylan jatuh cinta padamu. Ya, kita lanjutkan saja"


" Bodoh, aku tidak mau"


"Baiklah" Kata Ryan menutup pembicaraan.


Tetapi dibalik itu, dia punya rencana untuk mewujudkannya. Aleeson menghela nafas, sebenarnya sedikit kecewa. Karena Ryan baik padanya, sebentar lagi saja Ryan berusaha sedikit lagi. Aleeson akan jatuh cinta kepadanya. Tetapi, sekarang dengan mudahnya ia berubah demi permainan konyol begini.


" Ayo, Aleeson. Kita masuk" Ryan menggandeng tangan Aleeson, menguatkannya untuk masuk ke dalam pesta tersebut. Suara musiknya di matikan, Seymours berada di atas panggung ingin memberi sepatah dua patah kata. Semuanya diam mendengarkan.


Tuan Seymour melihat ke arah Aleeson mengatakan " kau sangat cantik" tanpa bersuara. Aleeson tersenyum dan berkata terima kasih.


" Da, kau centil sekali" Verona tidak suka ayahnya terlalu ramah dengan orang asing.


" Aku menyesal, aku minta maaf telah membuat wajahnya memar" Dylan sedikit berbisik dengan Ayahnya.


" Sudah sepantasnya kau menyesal, nak. Gadis itu pingsan".


Lalu Dylan memulai ramah tamahnya kepada seluruh karyawan Blu Cyber. Karyawan perempuan tentunya melihat dan mendengarkan dengan sangat antusias, melihat Dylan seperti manusia paling tampan dan keren.


" Apa mereka selalu seperti ini saat melihat Pak Bos?" tanya Aleeson kepada Ryan.


" Yeah, kau tidak pernah bergaul dengan perempuan" Ryan menyalahkan Aleeson.


" Itu tidak keren, Ryan"


" Kau, cantik sekali Aleeson" Ryan memujinya.


" Tapi, aku tidak bisa menikah denganmu". Kata Ryan lagi.


" Apa maksudmu ?" Aleeson mendapat penjelasan Ryan yang menyuruhnya menggoda Dylan.


" Aku, seorang prajurit. Aku pasukan rahasia, jadi aku tidak bisa menikah karena sumpahku ini. Sial" Ryan mulai frustasi sampai mengungkap identitasnya.


Aleeson mengerti sekarang, keren sekali seorang agen rahasia mengungkapkan identitasnya.


" kenapa kau mengatakannya padaku ?" Aleeson tertawa.


" Karena aku benar-benar sayang padamu, tahu" Ryan kebingungan lagi menjelaskannya kepada Aleeson.


" Akan sangat berbahaya jika aku memiliki seorang pasangan, karena diriku akan membahayakanmu"


Aleeson mengerti sekali yang Ryan katakan, itulah yang juga terjadi padanya.


" Aku mau ke kamar kecil dulu"


" Aku ikut Aleeson"


Mereka berdua berjalan menuju kamar kecil tetapi penuh, jadi mereka berdua menuju kamar kecil di lantai 3 menaiki tangga. Selesai mencuci tangan Aleeson membenahi dandanannya, dan membasahi lehernya karena merasa kepanasan. Saat Aleeson ingin keluar dari kamar mandi dia mendengar suara orang-orang menjerit dan suara tembakan " DORR DORR". Aleeson kaget sekali, rasanya sudah lama dia tidak mendengar suara tembakan seperti itu. Selain itu, biasanya Aleeson yang diburu.


" Aleeson, kau baik-baik saja ?" Ryan datang ke kamar kecil perempuan.Aleeson mengangguk di baik-baik saja.

__ADS_1


" Kau berjalan pelan-pelan ikuti aku." Ryan memipin.


Karena tidak ada yang mengetahui bahwa Aleesonlah militer yang paling berbahaya, selain tidak ada yang mengetahui karena dia seorang perempuan bertubuh mungil. Aleeson hanya mengikuti Ryan, karena merasa tidak ada hubungan pribadi dengan SeymourCyber jadi tak berniat menolong siapa-siapa.


__ADS_2