Teroris Kecil CEO

Teroris Kecil CEO
Keras Kepala


__ADS_3

Aleeson berusaha tetap tegar, yang dia pikirkan adalah kenapa tidak ada pemberitahuan pemecatan Aleeson. Seharusnya mereka menyadari betapa berbahayanya Aleeson lalu pecat dirinya. Ongkos Aleeson ke kantor tetaplah lumayan besar baginya, maka dari itu Aleeson bingung mengapa tak ada yang meneleponnya. Ataukah mereka ingin memberinya hadiah, langkah kaki Aleeson ringan memikirkan hal tersebut.


Walaupun Ryan selalu mengajaknya makan siang bersama dengan makanan yang enak-enak. Militer tidak pernah menyediakan makanan seenak di Marcat. Ryan sangat memanjakan Aleeson, tetapi dia tidak tahu untuk sekarang ini. Karena kejadian penyanderaan lalu Aleeson harus berhati-hati.  Aleeson mengetahui bahwa Ryan seorang militer baru-baru ini, hal itu menegaskan Ryan merupakan musuh Kobash secara langsung. Aleeson menaiki lift kantornya, berpikir sepertinya masalah dengan para penyandera telah usai. Memasuki ruangannya, karyawan yang lainpun tetap masuk seperti biasanya hanya saja jumlahnya berkurang. Yang lebih mengejutkan lagi, tidak ada tumpukan kertas untuk di salin olehnya. "Aha" Aleeson menangkap basah para Marcat adalah manusia paling pengecut dimuka bumi.


" Hi Aleeson" seorang karyawan bernama Clara masuk menyapanya. " Aku mau bertanya, boleh tidak ?" Clara bergerak aneh, Aleeson waspada terhadap keadaan sekitar.


" Silakan" Aleeson menyembunyikan kewaspadaannya di balik senyuman yang manis.


" Ketika kau dan Ryan menyelamatkan kami. Karatemu bagus sekali" Clara berbinar-binar sekarang


" Maukah kau mengajariku ?" Aleeson ingin sekali mengatakan tidak, karena kebanyakan perempuan hanya untuk merasa dirinya keren.


" Clara, sebenarnya aku mendadak sekali diajarkan oleh Ryan. Kau tahukan kami selalu bersama karena ia mengajariku teknik itu" Aleeson kehabisan akal untuk memberikan alasan. Karena biasanya menggunakan alasan "Ryan"  orang-orang di kantor akan sungkan sekali.


" Malam itu bukan benar-benar diriku" Aleeson merendah.


" Yeah, aku sebenarnya juga tidak terlalu percaya bahwa itu engkau Aleeson" Clara langsung merubah pandangannya kepada Aleeson secara drastis. Langsung merendahkan.


" Maafkan aku tidak bisa membantu" kecil sekali suara Aleeson berbicara, tetapi dia tak peduli Clara mendengarkannya atau tidak. Aleeson rasa tidak. Jadi diruangannya Aleeson duduk di depan komputernya mengerjakan tugas kuliahnya.


Diruangan Dylan agak sedikit keributan yang terjadi antara Ryan dengan Dylan.


" Dylan, kau pecat saja dia kalau macam-macam. Kau kan bosnya disini" Ryan mendesak Dylan mengambilh tindakan mengintrogasi Aleeson.


" Kau kan yang anggota militer, masa kau takut dengan dia. Payah sekali kau" Dylan agak kesal.


" Kalau dengannya kurasa aku akan mati, puas kau mendengarku ngomong seperti itu ?" Ryan telah mengukur kemampuannya dibandingkan dengan Aleeson. Ia tak akan selamat dari helikopter jatuh tersebut seperti Aleeson.


" Bajingan kau!!" Dylan memaki kali ini, tapi ia merasa Aleeson sangat sulit untuk ditebak. Penuh dengan banyak misteri. Dylan sudah mempelajari dokumen Aleeson saat pertama kali melamar masuk kantor SeymourCyber tak ada yang aneh sama sekali.


" Aku tahu, kau harus traktir dia steak. Dia paling menyukai daging" Ryan memberi tahu Dylan, berharap hal itu akan membantunya membuat Aleeson buka mulut. Dylan diam saja berusaha memikirkan sebuah rencana menghadapi Aleeson. Seumur hidupnya, baru kali ini ia yang harus menghadapi seorang perempuan. Ryan tersenyum menumpuk kertas di hadapan Dylan.


" Cih, menyebalkan sekali kau. Lain kali kau lakukan sendiri!" Dylan mengerti yang Ryan maksudkan. Ryan ingin Dylan membawa tumpukan kertas tersebut ke hadapan Aleeson lalu memulai pembicaraan makan siang bersama tersebut. Lalu Aleeson akan masuk perangkap menceritakan semuanya kepada Dylan dan melaporkannya kepada Ryan. Cara yang sangat bodoh, tapi karena belum terpikirkan jadi Dylan akan mengecek Aleeson ada di kantor atau tidak.


Aleeson sedang mengetik laporan untuk kampusnya nanti malam.


Dylan masuk mengetuk pintu. "Tok tok tok" ia memejamkan mata menyesal sekali mengetuk pintu.


" Untuk apa aku mengetuk pintu, ini kan kantorku" dalam hatinya menggerutu salah tingkah. Aleeson melihat CEO nya itu dan langsung menghampirinya.


" Selamat pagi, Pak Dylan. " Aleeson mengambil tumpukan kertas yang dibawa oleh Direkturnya itu sambil tersenyum.


" Harus saya apakan dokumen ini?" nada bicara formal Aleeson sangat berbeda seperti mereka bertemu sebelumnya. Manis sekali melihat Aleeson yang penurut seperti ini, Dylan memperhatikan tinggi tubuh Aleeson lalu membandingkan dengan dirinya menjulang tinggi seperti tian listrik.


" Apa kau menderita gizi buruk ?" pertanyaan itu terlontar dengan sangat polosnya dari mulut Dylan


" Kenapa kau pendek sekali?"


" Iya aku miskin " wajah Aleeson berubah drastis menjadi sebal sekali.


" Kau jarang minum susu ya ?" Dylan malah melanjutkan pertanyaannya.


" Bukan jarang, tapi tidak pernah" Suara Aleeson berteriak akhirnya kepada Dylan.

__ADS_1


" Kau lucu sekali, mana ada yang seperti itu" Dylan tak percaya masa kecil jagoan dikantornya itu miskin dan mengenaskan.


" Aku sangat miskin, orang tuaku meninggal saat aku kecil. Jadi mana ada uang untuk beli susu. Kalau ada uang aku akan beli nasi bungkus saja atau berburu. Jadi makan 2 hari sekali sudah sangat bersyukur." Aleeson mengatakan dengan jujur keadaannya.


" Aku minta maaf, kau tetap ingin bekerja disini ?" Dylan bertanya sekarang melihat raut wakah Aleeson ia merasa sekaranglah saat yang tepat untuk bertanya.


" Aku butuh uang untuk makan dan sekolah" Aleeson berwajah merah sambil menunduk. Lucu sekali dan menggemaskan jika melihat kelakuan Aleeson saat melawan penjahat dan sekarang. Sepersekian detik Dylan akan merasa tak percaya bahwa gadis kecil didepannya itu jago bela diri. Wajah Dylan yang memerah sekarang, malah membayangkan ****** ***** Aleeson.


" Kita makan siang bersama dengan Ryan juga. Kau jangan kabur" Dylan langsung pergi keluar.


Aleeson tertegun mendengar undangan makan siang bersama itu, langsung keringat dingin . Dia menangkap pembicaraan Dylan akan banyak pertanyaan yang menghujaninya.


Dylan kembali keruangannya, Ryan menunggu apa yang akan Dylan katakan kepadanya.


" Aku sudah mengatakan akan makan siang dengannya "


" Bagus sekali, dia memakan umpannya" Ryan senang semaunya berjalan dengan sempurna. Dylan diam saja agak ragu dengan rencana konyol Ryan.


Seorang sekertaris cantik masuk kedalam ruangan Dylan " Pak, Nona Aleeson ingin bertemu"


Dylan dan Ryan saling menatap. " Kenapa Aleeson kesini?" Dylan mengeluarkan suara lebih dahulu.


" Suruh dia masuk" Ryan sama bingungnya dengan Dylan. Aleeson masuk dengan membawa tumpukan kertas.


" Pak, maaf tapi ini sudah pernah saya gandakan " Kata Aleeson tak kalah bingungnya dengan mereka. Wajah Dylan merah, strategi Ryan ketahuan " Bajingan tengik" Dylan mengumpat dalam hati, mengutuk-ngutuk Ryan.


" Siapa kau sebenarnya ?" Ryan harus menjaga harga dirinya di depan Dylan. Aleeson baru menyadari bahwa mereka berdua sangat tampan, sekarang lebih seperti malaikat pencabut nyawa, tetapi dia tidak takut.  Aleeson memasang wajah capek, dia tak ingin melawan dua orang tampan di hadapannya ini. Dylan diam saja melihat wajah melas Aleeson sambil berpikir " walaupun dia miskin dan pendek, wajahnya cantik juga" di dalam hatinya.


" Kau jangan menggunakan wajahmu seperti itu, aku tak akan luluh bajingan kecil" Ryan menggunakan kata-kata kasar untuk menyakiti Aleeson dan membuat dirinya lebih kuat melawan Aleeson apapun yang terjadi. Dylan sedikit kaget dengan kata-kata yang tak pantas di lontarkan ke Aleeson yang masih diam saja.


Ryan melempar rak buku mengenai lengan Aleeson, karena dia sedikit menghindar. Aleeson tidak menyangka bahwa Ryan akan menyerangnya jadi tidak menghindar. Dylan melotot melihat aksi sepupunya itu, sungguh tidak perlu memperlakukan Aleeson seperti itu. Dylan teringat bekas luka dipunggung Aleeson saat pertolongan pertama di ambulan malam itu.


Aleeson tetap tidak melakukan gerakan apapun untuk menghindari Ryan.


" Tak perlu ada yang harus terluka disini" Aleeson hanya bicara seperti itu.


Ryan tak bisa menyepelekan gadis yang jauh lebih pendek darinya itu, begitu juga Dylan. Kaget akhirnya Aleeson bicara dengan serius.


" Sebutan apa yang pantas untuk manusia sepertiku?" Aleeson menatap lirih wajah kedua atasannya dikantor itu.


, Aleeson merasa tersudut bingung harus mengatakan siapa dirinya kepada mereka berdua.


Ryan terpancing emosinya saat melihat wajah Aleeson. Ryan harus memastikan terlebih dahulu bahwa Aleeson tidak berbahaya dengan menakutinya, menakuti Aleeson. Di perusahaan ini ada penjaganya yaitu Ryan, Aleeson tidak bisa macam-macam disini. Ryan melayangkan tinjunya ke perut Aleeson, dia melihat tinju itu tidak sungguh-sungguh karena gerakan perut Ryan tidak kuat. Jadi Aleeson hanya menghindar, lalu dengan kaki panjangnya Ryan melayangkan tendangan lagi ke arah Aleeson, dia hanya menghindarinya. Sekali lagi gerakan seperti gerakan tinju jep, Aleeson menghindar. Yang di lakukan Aleeson hanya menghindar, tak ada satupun jurus Ryan yang mengenainya. Tetapi Aleeson merasa kalau Ryan atau Aleeson kena pukulan satu kali, maka Ryan akan berhenti membabi buta seperti ini.


Aleeson menyadari sesuatu dari seluruh gerakan Ryan, bahwa ia bukan seorang militer atau seorang yang telah berhenti menjadi seorang militer. Aleeson memilih melawan Ryan dengan Taekwondo, perbedaan tinggi mereka sangat berpengaruh pada masa pemulihan Aleeson. Dia menyesal menggunakan pakaian dress lagi untuk hari ini. Mempelajari setiap gerakan asal yang dilakukan Ryan dan menunggu kesempatannya memasukan satu tendangan.


" Lawan aku pengecut!" Ryan sangat terbawa emosi kali ini matanya sangat liar menatap Aleeson.


" Kalau kau melewati batas, aku sendiri yang akan menghajarmu, Ryan" Dylan bicara sungguh-sungguh.


Aleeson diam saja fokus pada bagian mana dia akan menendang Ryan. Aleeson melihat Ryan ingin menyerangnya kembali, Dylan ingin maju menghentikan Ryan akan tetapi ia melihat tangan Aleeson bergerkan mengisyaratkan " aku bisa menghadapi ini" . Dylan berusaha tenang melihat Aleeson yang kecil mungil akan terluka karena ulah Ryan. Pemandangan yang jauh berbeda justru sekali lagi dilihat oleh mata kepala Dylan sendiri. Aleeson memanfaat tinggi tubuh Ryan yang seperti tiang listrik itu, naik melalui pinggang Ryan lalu melakukan tendangan berputar. Dylan membuka matanya lebar-lebar dan menutup mulutnya seraya merasakan sakit yang diderita sepupunya itu. Tendangan telak Aleeson mengenai pipi Ryan, Aleeson berhenti menyerang. Ryan ingin menonjok Aleeson tetapi Dylan maju menahan Ryan.


" Sudah cukup" Dylan memegang lengan Ryan, ia tersadar bahwa dirinya terbawa emosi.

__ADS_1


" Maafkan aku" Ryan memandang Aleeson dengan sangat menyesal.


" Kau tidak apa-apa?" sekarang ia menatap Aleeson dengan pandangan khawatir.


" Pukulanmu tak ada yang mengenai Aleeson sama sekali" Dylan yang menjawab " Bawakan minuman segar keruanganku" Dylan menelepon sekertarisnya.


" Aku tidak mau, terima kasih" Aleeson bicara sekarang, sebenarnya takut minuman segar tersebut minuman beracun.


" Hei, kau tidak berpikir minuman yang kuberikan ini beracun kan Aleeson" Dylan tertawa mendengar penolakan Aleeson. Lalu membereskan mejanya yang berantakan lalu duduk. " Duduklah, aku bukan pengecut yang membunuh orang menggunakan racun. Lagi pula, aku belum pernah membunuh orang " Dylan nyengir.  Ryan duduk tetapi Aleeson tidak. " Kuhargai kau, Aleeson" kata Dylan lagi yang melihat Aleeson tak ingin duduk. "Dengar Aleeson, aku tahu kau orang baik. Bukan orang sembarangan, maksudku analisamu bebahaya"


" Kau menikah saja dengan Dylan" Ryan memotong Dylan berbicara, dan omongan Ryan mendapatkan pukulan instan di kepalanya dari Aleeson.


" Bagaimana jika aku seorang *******?" Aleeson tidak berpikir lagi bicara seperti itu.


" Sudah kuduga" Ryan bersemangat sekali mendengar hal itu menatap Aleeson balik, ia memberikan wajah mengejek menjulurkan lidahnya sedangkan Aleeson mengepal tangannya meninju keudara menakut-nakuti Ryan.


" Tapi kau bekerja siang hari dan belajar dimalam harinya itu berarti kau ******* yang di non-aktifkan." Dylan memikirkan posisi Aleeson matang-matang, karena salah bicara saja Aleeson bisa menjadi musuhnya. Dylan ingin merekrut Aleeson, menyadarkannya dari dunia hitam begitu pikirnya.


" Kalian akan menyesal"


" Tidak Aleeson, kami paham konsekuensinya" Dylan tak bisa fokus karena tadi melihat ****** ***** Aleeson saat menendang Ryan. Wajahnya merah padam sekarang.


" Kenapa kau ?" Ryan langsung bertanya melihat tingkah aneh sepupunya itu. Dylan diam saja tak mendengarkan Ryan. Kedua kalinya Dylan melihat dengan jelas ****** ***** Aleeson, pahanya putih mulus. Dylan ingin sekali memegang paha Aleeson di pangkuannya.


" Kau benar-benar terlatih Aleeson. Maaf saja, perempuan sepertimu bukan tipeku lagi" Dengan percaya dirinya Ryan mengatakan itu.


" Aku menolakmu ribuan kali" teriakan Aleeson menyadarkan Dylan dari lamunan ****** ********.


" Untuk makan saja aku susah, mengapa harus pacaran" Aleeson biasa lagi sekarang.


" Ku rasa gaji mu habis untuk pakaian saja" Dylan ikut nimbrung, lucu sekali menggoda Aleeson.


" Hei, aku kan perempuan. Wajar saja aku tertarik dengan pakaian-pakaian sialan ini."


" Dylan, kau promosikan saja dia " Ryan memberi ide dengan asal bicara saja.


" Kau benar, dari pada menjadi seorang istri. Promosikan saja aku. " Aleeson tidak ambil pusing dengan apa yang dilakukan Ryan tadi, toh Aleeson sudah membalasnya. Masih untung Ryan tidak dibunuhnya.


" Kalian hampir saling membunuh beberapa menit yang lalu sekarang kalian bersekutu kembali, sangat tak bisa di percaya" Dylan geleng-geleng kepala.


" Gunakan saja aku sebagai alat, aku tidak masalah dengan itu" Aleeson memberikan ide gila " Kalian terus mengatakan ikatan menjadi seorang yang penting dalam hidup kalian. Lingkunganku keras, tidak seperti kalian."


" Apakah kami tidak tampan ?" Dylan penasaran pendapat Aleeson. " Tak ada yang pernah menolak kami separah ini" Dylan tertawa.


" Ayolah, aku baru mulai pendidikanku. Aku tidak berasal dari kalangan kalian" Aleeson tetap berkelit tak ingin mengatakannya semudah itu.


" Aleeson kau keras kepala sekali, ditolak perempuan seseksi kau itu sangat menjengkelkan " Dylan mendekat ke arah Aleeson, membuatnya siaga." pola pikirmu, membuatku bernafsu" Dylan berbisik ditelinga jagoannya, hembusan nafas Dylan sampai terasa dipipi Aleeson. Bulu tangannya berdiri mundur selangkah dari Dylan.


" Dasar mesum" Aleeson berkata ketus sekali. Ryan tidak mendengar apa yang Dylan katakan jadi agak bingung kenapa Aleeson mengatakan mesum.


" Baiklah *******, kau tidak boleh macam-macam di kantor ini. Mengerti ?" Ryan mengakhiri ancamannya dan pergi keluar.


" Aku mau bekerja dulu" Aleeson bermaksud menyusul Ryan. Dylan malah menghadangnya di depan pintu.

__ADS_1


" Katakan aku tampan, berkarisma, dan keren" Aleeson kaget bukan kepalang mendengar bosnya begitu narsis. Padahal beberapa hari yang lalu ia menampar Aleeson. " Dasar banci" Aleeson menggerutu dalam hati tetapi harus tetap sabar menghadapi kaum bar-bar Marcat. Aleeson jalan keluar ruangan Dylan dengan kesal.


__ADS_2