
Delapa bulan kemudian Aleeson sudah terbiasa beradaptasi dengan masyarakat Marcat. Presiden Cleo memerankan perannya sebagai Ayah Aleeson dengan baik. Dengan mudah Aleeson masuk ke perguruan bergengsi Universitas De Marcat karena selain kemampuan militer Aleeson selalu membaca buku per-akademian. Aleeson mengambil jurusan Arsitektur. Kuliah Aleeson pada malam hari, sedangkan bekerja dipagi hari di perusahaan SeymourCyber. Keterampilan Aleeson sangat mengesankan, tetapi tidak dalam kebiasaan dan cara bicaranya. Aleeson berasal dari Kobash, maka dari itu dia hanya mengerti beberapa dari bahasa makian negara Marcat akan tetapi sulit bagi Aleeson memahami bahasa gaul kaula muda di negara Marcat.
" Dad, maaf aku pulang terlambat. Mungkin jam 2 malam, aku ada test nanti. Jadi, ku harap kau bisa jaga diri" Aleeson merasa sangat menyesal meninggalkan orang yang harus dilindunginya itu. Tetapi karena memang keadaan yang aman di Marcat, jadi Presiden bisa jaga diri dan juga
" Kau mau membawa sarapan ? agar lebih aman Alley" kata Presiden Cleo, ternyata telah menyiapkan bekal makanan untuk anak asuhnya.
" Baiklah, kau benar. Akan lebih aman jika aku membawa dari rumah. "
Aleeson berangkat menuju kantornya. Aleeson bekerja di SeymourCyber di Seymour Centre, gedungnya memiliki 36 lantai. Bersandar menunggu elevator turun, sambil berkaca melihat penampilannya pagi ini. Merasa bersyukur akhirnya baju yang dia sangat inginkan akhirnya terbeli, sedikit berputar memandang cermin di tempatnya menunggu elevator, merasa cukup Aleeson berhenti berputar dan melihat sekeliling dan aman tak ada yang melihatnya bertingkah konyol. Pintu elevator terbuka dan Aleeson masuk kedalamnya.
Begitu sampai di lantai 12 Aleeson langsung diserbu pegawai yang lainnya.
" Al, aku ada rapat jam 9. Bisakah selesai lebih cepat ?" pegawai perempuan menggelayutinya memohon.
" Baiklah, kau letakan kartu merah diatas dokumenmu" Aleeson melihat segunung dokumen yang harus diduplikatnya.
" Kau baik sekali " Aleeson mendapat kecupan dari perempuan itu. Aleeson meletakan tasnya dan melihat ke arah jam di dinding. Waktu bekerja dimulai pada pukul 8, dan sekarang jam 7 pagi. Aleeson tidak segera mengerjakannya melainkan membuat kopi dulu dan duduk mendengarkan musik sebelum memulai. Wktu menunjukan jam 8 tepat, barulah Aleeson mulai bekerja. Mesin potocopy ada 2 di ruangannya, maka setiap menit yang ada tak pernah disia-siakannya. Pukul 9 kurang 10 menit, Aleeson menyelesaikannya dan pergi keruangan pegawai bernama Clara.
" Seperti yang kau inginkan " Aleeson meletakan tumpukan kertas itu di atas meja Clara bekerja.
" Kau hebat" Aleeson tidak menjawab dan keluar dari ruangan Clara.
Saat diruangannya Aleeson mengerjakan dokumen lain dan seorang pria menghampiri.
" Aleeson, bisakah kau menyusun dokumen ini mulai dari awal ?" pria itu setinggi 180cm, dan menyusun halaman adalah hal yang paling dibencinya.
" Hei Ryan, kau menyebalkan sekali " Aleeson blak-blakan kepada Ryan. Ryan mirip dengan Liam Hemsworth bermata sendu dan tampan.
" Kau harus makan siang denganku nanti " Ryan berjalan menjauhi Aleeson " antarlah dokumen itu sebelum jam 11 ke ruang direktur. Aku harus ikut rapat saham pagi ini. "
" Tidak, aku tidak mau. Kau antar dokumen ini sendiri " Aleeson tidak ingin berurusan dengan Direktur sekaligus CEO SeymourCyber tersebut. Bagi Aleeson makin tidak terkenal makin bagus untuk penyamarannya.
" Aku tidak tahu rapatku berapa lama, ok manis ?" Ryan merayu.
" TIDAK" suara Aleeson meninggi tegas atas penolakannya.
" Baiklah, kau cantik sekali. Sampai jumpa nanti siang " Ryan keluar ruangan Aleeson
" Hei, aku bilang tidak bukan iya " Aleeson berteriak sekuat mungkin, tetapi Ryan sudah tak ada.
Sebenarnya Aleeson tidak mengetahui wajah direkturnya. Dia berpikir Direkturnya orang yang kolot dan berwajah kaku dengan kepala yang penuh dengan rambut yang putih semuanya. Jika Ryan mengatakan sebelum jam 11 harus sudah disana , maka Aleeson bergegas menyelesaikannya. Menyusun halaman butuh ketelitian extra. "Dasar b4jing4n bau kentut. Bocah tengik sialan" umpat Aleeson kepada Ryan. Ternyata lebih sulit dari yang diperkira oleh Aleeson. Dia harus baca satu persatu dari halaman dokumen tersebut. Banyak informasi yang di dapatkan oleh Aleeson, dokumen tersebut berisi tentang pembelian kapal selam militer untuk angkatan laut Marcat. Mata Aleeson berbinar, senang bukan kepalang. Sudah lama rasanya tidak ikut campur urusan militer, dan menyenangkan mempelajari kemampuan angkatan laut lawan. Aleeson tersadar saat melihat jam di dinding telah menunjukan pukul 11.05, dia langsung bangkit berlari tunggang langgang. Secepat kilat menuju lantai 13, Direkturnya berada satu lantai di atas Aleeson membuat semua pegawai sebenarnya lebih terkejut dengan kemampuan berlari Aleeson yang luar biasa tetapi beberapa geram karena Aleeson berlari.
__ADS_1
" Hai, bisakah aku masuk ? ada hal penting. " Aleeson berbicara dengan sekertaris direktur.
" Maaf, kau tak bisa sembarang masuk " kata sekertaris seksi itu.
" Katakan saja Ryan mau bertemu " Aleeson menggunakan nama Ryan dan berharap nama itu akan membantu, tetapi saat keadaan ribut seorang pria tinggi dengan wajah seperti seorang model majalah bagi Aleeson hingga beberapa dokumennya terjatuh. Saat Aleeson mengambilnya pria tersebut meletakan jari telunjuk ke mulutnya kepada sekertarisnya, bermaksud jangan mengatakan apapun.
Pria tinggi itu adalah Direktur SeymourCyber namanya adalah Dylan Seymour. Aleeson bekerja di SeymourCyber hanya sebagai photo copy dokumen dan divisi umum saja, jadi tidak pernah berhubungan langsung dengan Direktur dan CEO SeymourCyber.
" Ada apa nona kecil? " Kata Dylan.
" Hei, aku sudah 21 tahun tahu." kata Aleeson yang tidak suka dipanggil nona kecil.
" Aku sudah selesai menyusun dokumen ini " Aleeson memberikan dokumennya kepada Dylan.
" Terima kasih " Kata Dylan.
" Mm, dimana bosmu ? apakah ia ada di dalam ?" Aleeson clingak-clinguk mencari-cari keberadaan CEO SeymourCyber tersebut.
" Sedang bertemu dengan seseorang" kata Dylan sambil memberi gerakan tangan kepada sekertarisnya. Mengisyaratkan untuk kembali bekerja.
" Ada yang bisa ku bantu, Nona ?"
"Mmm tidak apa-apa " kata Aleeson ragu.
Dylan mengerti apa yang dikatakan Aleeson, dan tercengang dengan kata Aleeson barusan. Karena kedalaman kapal selamlah yang sedang di argumenkan.
" Merry, apa yang kau dengar ?" Dylan bertanya dengan tegas pada sekertarisnya.
" Tidak ada Tuan" Merry singkat menjawab pertanyaan Dylan, paham berarti dia tidak boleh ikut campur dan tak boleh mengatakan apapun.
Sementara Aleeson kembali ke ruangannya yang penuh dengan dokumen untuk di gandakan. Merasa bodoh, atas ucapannya. Aleeson lupa, dia tinggal di negara musuh. Dia terlena hingga menjadi lemah. Tidak seharusnya dia memberitahu soal kapal selam itu. Seharusnya biarkan saja mereka mati di bawah laut dan kehilangan kontak dengan daratan.
" Kau memikirkanku ?" Kata Ryan entah dari botol jin mana ia datang.
" Menjijikan sekali kau " kaget sekali ada Ryan di ruangannya, untung saja Aleeson tidak mengatakan apapun yang membuat orang lain curiga. Aleeson berpikir harus sangat berhati-hati mulai sekarang.
" Bodoh sekali kau, ayo kita makan " Ryan menarik rambut Aleeson. Aleeson mengusap-usap kepalanya harus bertindak seperti seorang perempuan. Aleeson mengikuti Ryan berjalan dari belakang, Ryan menoleh dan menarik Aleeson berjalan disampingnya.
" Kau apa-apaan sih, berjalan dibelakangku. Seperti anak buah kepala geng saja " Ryan mengejek Aleeson terbahak-bahak.
Mereka berdua berjalan keluar gedung. Aleeson diam saja agak kikuk di lihat banyak orang.
__ADS_1
" Aleeson, kenapa kita tidak pacaran saja? " Ryan blak-blakan bertanya kepadanya. Aleeson tidak percaya pria setampan Ryan belum punya pacar. Jadi Aleeson berkesimpulan Ryan adalah seorang hidung belang.
" Maksudmu selingkuhan " Aleeson benar-benar tidak sungkan atas Ryan. Aleeson memang tidak pernah memikirkan bahwa dirinya akan memiliki seorang pacar.
" Kau menggemaskan sekali" tangan Ryan merangkul pundak Aleeson sambil berjalan bersama.
"Kau tahu Ryan aku bahkan tidak tahu apa yang dilakukan sepasang kekasih selain berciuman," Aleeson menatap wajah Ryan. Sekarang mereka berhenti berjalan.
" Kita akan saling memahami, berbagi sedih dan rindu kita. Lalu, kau bisa menciumku kapan saja kau mau Aleeson. Selain itu, aku kaya jadi kau bisa makan mobil atau rumah jika kau mau" Ryan gerak cepat, melakukan gerakan wajahnya di dekatkan pada bibir Aleeson perlahan.
" Eergh! jangan macam-macam kau. Dasar cabul " Aleeson mendorong wajah Ryan. Dia benar-benar tidak mempercayai orang-orang Marcat. " ayo kita makan" Aleeson berusaha mengalihkan pembicaraannya.
" Tidak kali ini Aleeson, aku benar-benar ingin kau " Ryan protes mereka berdua masuk ke restauran yang agak formal yang rasanya itu rumah makan vegan.
" Dasar bodoh, dengar aku tidak mau jadi selingkuhanmu"
" Aku single, aku sendirian Aleeson. Aku tidak pernah menyukai orang seperti aku menyukaimu. Mari kita bicara dengan sepupuku jika kau tidak percaya" Ryan menekan nadanya. Aleeson asal tunjuk makanan yang dipesannya untuk makan siang begitu juga Ryan, lalu mereka berjalan ke meja yang kosong.
" Kau ini keras kepala sekali Ryan" Aleeson duduk, pelayan restoran mengantarkan minumannya. Ryan berdiri matanya terbelalak lebar melihat sekitar. Tidak lama ia tersenyum lebar dan pergi sebentar dan kembali membawa seseorang.
"Dylan! katakan padanya kalau aku single " Dylan adalah pria yang keluar dari ruangan CEO tadi. Dylan sedang makan siang dengan para kolega bisnisnya. Mendengar Ryan berteriak Dylan hanya diam saja lalu melanjutkan bicara pada kolega bisnisnya.
" Kenapa kau bodoh sekali Ryan " dalam batinnya, Dylan merasa kesal. Tak habis pikir dirinya dipanggil hanya untuk sebuah pembuktian. Aleeson tetap duduk di kursinya dan merasa mereka berdua berdiri dihadapannya sama seperti memandang pintu ruangannya.
Setelah selesai menobrol dengan kolega bisnisnya, Dylan menghampiri Ryan dan Aleeson.
"Halo, kapal selam" sapa Dylan wajah Aleeson memerah saat makan.
"Kenapa kau punya panggilan seperti itu kepada Aleeson ?" Ryan protes. Aleeson diam saja, Dylan memutuskan makan siang dengan mereka jadi ia duduk bersama mereka berdua.
" Nona kecil ini mengerti kapal selam " Kata Dylan memandang serius Aleeson.
Aleeson mengambil minum " mereka tampan-tampan sekali." dalam hatinya.
Dengan berhati-hati karena topik pembicaraan Dylan dan Aleeson mulai kehidupan sosial hingga peperangan. Aleeson tidak boleh terpancing emosi dari setiap perkataan Dylan, karena Dyan mahluk dari Marcat.
" Kau benar, pada dasarnya itu memang bukan daerah Marcat. Itu milik Kobash, dan kau benar lagi soal kapal selam itu. Tetapi dalam sudut pandang pebisnis, Kobash bagus di jadikan terminal pelabuhan dunia. "
" Apa pedulimu tentang bisnis ? " Nada Aleeson agak tinggi.
" Wow, Aleeson.. turunkan nada bicaramu pada CEO juga Direktur SeymourCyber. " Ryan menengahi. Wajah Dylan membeku, tak ada yang berani bicara menggunakan nada tinggi di depannya.
__ADS_1
" Pelaku perang sama dengan pembunuh." Aleeson mengatakannya dengan wajah siap kapanpun dia akan diserang. Aleeson pergi meninggalkan mereka berdua di restaurant.