
Ervan menatap wajah polos istrinya tanpa make up,dia terlelap dengan tenang diatas lengan Ervan yang tanpa sengaja dia jadikan sebagai bantal.Lengan besar itu kelewat empuk hingga membuat tidur Monika pulas.
Sejak kapan aku mulai tertarik pada wanita biasa ini?Dia bahkan tidak memiliki kelebihan apapun untuk dibanggakan kecuali bakatnya memasak.
Ervan tersenyum simpul,dia ingin membelai lembut wajah istri kecilnya itu tapi tiba tiba kedua mata Monika terbuka lebar.Jantung Ervan hampir saja dibuat copot olehnya.
"Selamat pagi,"sapa Monika ramah.
"Pagi,"
"Apa Mas sudah bangun sejak tadi?"
"Ya,"
"Lalu kenapa tidak pergi mandi?Malah terus menerus menatap wajah cantikku ini?"oceh Monika penuh percaya diri.
Ervan ingin mengelak,tapi memang kenyataanya seperti itu,mau bagaimana lagi?
"Lihat kepalamu,"
Monika mengangkat kepalanya dan baru sadar kalau sejak semalam dia tidur diatas lengan besar milik suaminya.Dia tau pria itu pasti merasakan pegal,tapi tidak enak hati mau membangunkan dirinya.
"Maaf,"
"Cepat bangun,siapkan sarapan untukku.Jangan lupa bawakan aku bekal,aku mau pergi melihat restoran baruku yang mulai dibangun,"
"Oke,"
Monika membersihkan diri,setelah itu dia mengikat rambutnya seperti ekor kuda dan bergegas pergi ke dapur.
Di dapur,Monika bertemu dengan Elanor.Pria itu sedang membuat secangkir teh hangat secara mandiri.Tumben sekali dia tidak meminta bantuan pada asisten rumah tangga,apa dia sedang ketempelan penunggu dapur?
__ADS_1
"Pagi,"sapa Monika ramah.Elanor hanya membalas dengan senyuman kecil.
"Kenapa hanya membuat satu gelas?Ayah tidak sekalian dibuatkan?"Ledek Monika.
"Itu tugasmu sebagai menantu kesayangan dirumah ini,"Elanor melangkah pergi sambil menenteng gelas tehnya.
***
Sarapan pagi adalah hal yang paling menyenangkan bagi Erick,dia bisa melihat anak menantunya kumpul sambil bercerita tentang hari hari yang telah mereka lalui kemarin.
"Joshua sudah sehat,dia sudah mulai masuk TK,"
"Benarkah?Syukur kalau begitu,"
"Dia mengucapkan banyak terimakasih untukmu,"
"Sampaikan salam ku padanya,aku akan datang menjenguk jika pekerjaanku sudah selesai,"
Elanor mengamati percakapan yang terjadi antara Monika dengan kakaknya,dia mengambil sebuah kesimpulan kalau mereka berdua menikah atas dasar kesepakatan.Tapi apapun alasan awal mereka kini hubungan mereka berdua terlihat romantis.
Sepertinya Elanor harus segera membuka hati untuk orang baru,agar tidak iri dan panas saat melihat Monika dan Ervan bermesraan.Perasaan seorang jomblo memang tidak bisa dibohongi,naik turun seperti rolercoaster.Terlebih jika melihat teman sebayanya sudah menikah.
"Aku bahkan belum lulus kuliah,belum bisa mencari uang sendiri.Bisa bisanya memikirkan soal menikah,"Elanor mencaci dirinya sendiri didalam hati.
***
Monika membuka akun media sosialnya,dia melihat Ayu meng upload status bertuliskan"Pagar makan tanaman"yang sepertinya ditujukan untuk Monika.Andai Ayu tau alasan sebenarnya dia menikah dengan Ervan,mungkin dia tidak akan mencibir Monika seperti itu.
Tidak mau ambil pusing,Monika berkomentar di status Ayu."Hai,apa kabar?"Sepertinya wanita itu tidak akan sudi membacanya apa lagi membalasnya.Rasa benci wanita itu pada Monika sudah mendarah daging,Monika memaklumi karena sejatinya tidak ada wanita yang mau pujaan hatinya direbut oleh orang lain.
"Apa yang sedang kamu baca?Serius sekali?"Ervan mencoba mengintip layar ponsel istrinya.
__ADS_1
"Aku sedang membaca status Ayu,"
"Ayu temanmu itu?"
"Iya,dia sedang marah padaku,"
"Marah?Kenapa bisa marah?"
"Karena aku menikah dengan Mas,dia sudah lama menyukai Mas,"
"Oh,astaga.Ternyata aku memiliki banyak penggemar,bahkan dikalangan pegawai ku sendiri,"Ervan meringis.
Monika kesal melihat aksi suaminya yang terkesan kepedean,untung saja dia tampan,kalau tidak Monika pasti sudah menarik telinganya kuat kuat.
"Kenapa melihatku seperti itu?Aku memang memiliki modal untuk digemari kaum hawa,"
"Iya,terserah Mas saja.Yang penting Mas senang,"
Monika pergi ke meja riasnya,membersihkan wajah dengan kapas dan mulai memakai skincare rutinnya.Tanda tanda penuaan seperti kerut halus sudah mulai muncul,dia harus rutin menjaga kesehatan kulit wajahnya agar terlihat selalu muda dan cantik.
Jika Monika mau suaminya tidak berpaling pada wanita lain,dia harus bisa menjaga penampilannya.Dizaman modern seperti sekarang ini wanita cantik lebih berpengaruh dihadapan para pria daripada wanita pintar.Jadi,menjadi wanita pintar saja tidak cukup.
"Menurutmu aku bagaimana?"Tiba tiba Ervan meminta Monika untuk menilainya.
"Em...Mas orangnya baik,lumayan ramah,tapi genit dan kadang terlalu over percaya diri,"
"Bisa bisanya kamu menilai aku seperti itu!"
"Kenapa marah?Mas sendiri yang bertanya padaku,giliran aku menjawab dengan jujur Mas marah.Sebenarnya mau Mas apa?"
"Au...Ah,gelap!"Ervan memonyongkan bibirnya ke depan karena kesal mendapat jawaban yang tidak dia harapkan.
__ADS_1
Bersambung...