Terpaksa Menikahi Pria Cassanova

Terpaksa Menikahi Pria Cassanova
Kabar Baik


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit, Nirina di sambut oleh keluarga besar. Erick dan Elanor telah ada di sana, bersama dengan seorang asisten rumah tangga dan penjaga keamanan baru.


Erick merasa khawatir saat tau menantunya diserang oleh fans fanatik Ervan. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi, apa lagi sekarang monika sedang hamil muda.


Seketika Monika menjadi kesayangan seluruh anggota keluarga, dia diperlakukan seperti seorang putri, dia juga tidak boleh mengerjakan apapun kecuali bernafas dan berkedip.


Monika mengambil ponsel di dalam tasnya, dia mencoba menghubungi Marisa untuk memberikan kabar baik tersebut.


Kring... Kring... Kring...


Suara telfon berdering. Tak lama seseorang mengangkat telfon itu.


"Hallo, apa kabar sayang?" Sapa Marisa ramah.


"Kabarku baik, kabar kakak bagaimana?" Sahut Monika dari balik telfon.


"Kabarku baik juga. Tumben telfon, ada apa?" Marisa penasaran.


"Aku mau mengabarkan sesuatu padamu,"


"Kabar apa?"


"Aku hamil,"


"Benarkah? Selamat untukmu, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu," Marisa ikut senang untuk adik semata wayangnya itu.


"Kak, aku belum siap untuk hamil dan melahirkan seorang anak. Bagaimana jika aku tidak bisa merawat dan mendidik anak ini dengan baik?"


"Wajar kamu merasa cemas seperti itu, aku dulu juga seperti itu. Terlebih, setelah suamiku pergi meninggalkan kami. Tapi percayalah pada kemampuan dirimu, semua akan baik baik saja,"


"Aku masih ragu,"

__ADS_1


"Hey,nak. Kamu wanita kuat, kamu pekerja keras dan sanggup menghidupi kami. Masa kamu tidak bisa mengurus anak sendiri? Terlebih, segala dukungan kamu miliki. Finansial bagus, tempat tinggal bagus, suami yang baik dan perhatian,"


"Hah, baiklah. Aku akan mencobanya,"


"Itu baru adikku, jangan kalah sebelum berperang ya!"


"Iya."


Klak,,,


Suara pintu kamar terbuka, Ervan, Erick dan Elanor masuk kedalam kamar sambil membawa banyak makanan. Ada paket nasi timbel, camilan kering, buah buahan, sampai jus buah.


Dia hanya sedang hamil, bukan sedang sakit. Kenapa mereka harus memaksa Monika makan makanan banyak yang sehat dan bergizi? Perutnya bahkan lebih ramping dari papan penggilesan, mana muat banyak?


"Makan ini, agar anakmu sehat dan kuat," ucap Erick.


"Kamu juga perlu ini," Elanor meletakan jus dan camilan diatas meja.


"Yang paling utama adalah nasi dan lauknya, ayo buka mulutmu, aku akan menyuapi kamu,"


Tak ingin membuat keluarganya kecewa, Monika mencicipi semua makanan itu walaupun hanya sedikit. Monika sangat beruntung, di tengah krisis kepercayaan dirinya, dia memiliki orang orang yang selalu ada dan siap untuk mendukungnya.


Sepertinya kelak, anak ini akan menjadi seorang tuan muda, atau seorang tuan putri yang pamornya melebihi anak presiden. Belum lahir saja sudah seheboh ini, apa lagi jika sudah lahir?


***


Sore hari, Monika menyibukkan diri dengan berjalan jalan di sekitar rumah. Dia melihat pemandangan indah seperti dedaunan hijau dan rumput kering yang baru saja dipangkas oleh petugas kebersihan.


Tak sengaja, telinganya yang caplang mendengar beberapa orang tetangga sedang menggunjing dirinya di teras rumah salah seorang warga.


"Itu istrinya Mas Ervan?" ucap salah seorang diantara mereka.

__ADS_1


"Iya, betul,"


"Putus dari peri kok dapatnya yang model itu sih? Tau begitu dia aku jodohkan dengan anakku saja,"


"Hust... Jangan keras keras bicaranya, nanti dia dengar."


Selain merasa nyeri, hati Monika juga jadi penasaran, seperti apa kira kira rupa mantan kekasih Ervan. Begitu banyak orang yang memuja wanita itu, bahkan menganggap Monika tidak ada seujung kukunya.


Rasa percaya diri Monika turun, apa lagi dia sedang hamil. Suatu saat badannya akan kendur, gemuk dan dipenuhi oleh bekas Stretch mark. Apa Ervan masih bisa setia padanya? Sementara di luar sana, banyak wanita cantik berkeliaran.


Monika menyudahi jalan jalan santainya, dia kembali kerumah sambil menekuk wajahnya. Melihat hal itu, Asri asisten rumah tangga Monika yang baru menegurnya.


"Nona kenapa? Kok bete sekali kelihatannya?"


"Bagaimana tidak bete? Mereka membandingkan aku dengan mantan kekasih Ervan," tutur monika jujur.


"Santai saja Nona, mereka hanya sirik saja. Sirik kan tandanya tidak mampu."


Monika mengabaikan ocehan asri, dia masuk ke dalam rumah dan meninggalkan ART nya yang kepo itu sendirian.


Di sebuah kamar kosong, Ervan sedang sibuk merancang dekorasi yang cocok untuk kamar seorang bayi. Padahal, dia belum tahu jenis kelaminnya. Tapi dia ingin kamar itu di cat warna pink dengan motif bunga bunga sakura.


Ervan sangat yakin, kalau anak pertamanya pasti perempuan. Apalagi feeling seorang Ayah jarang sekali meleset.


"Mas sedang apa di sini?" Tanya Monika.


"Merancang dekorasi kamar untuk calon anak kita," Ervan tersenyum lebar.


"Apa tidak terlalu dini? Usianya saja baru enam minggu," Protes Monika.


"Tidak apa apa, semakin cepat kan semakin baik,"

__ADS_1


"Ya sudah, terserah Mas saja!"


Bersambung...


__ADS_2