
Monika dan Ervan terlihat sibuk menata perabotan rumah yang baru datang beberapa jam lalu. Untuk mengusir jenuh, keduanya saling menggoda dan bercanda satu sama lain. Hingga tiba tiba mereka mendengar suara seseorang mengetuk pintu.
Monika langsung keluar rumah untuk memeriksa siapa tamu yang datang berkunjung ke rumah baru mereka. Padahal, tidak ada yang tau alamat rumah baru mereka, bahkan Ayah Ervan sekalipun.
Dari balik pintu, Maria dan Josua melambaikan tangan dengan senyum lebar. Monika melompat senang, dia langsung memeluk kedua anggota keluarganya itu erat-erat.
Air mata menetes di pipi Josua, jelas sekali bocah laki laki itu menaruh rindu yang cukup dalam untuk sang Tante. Maklum, hubungan keduanya sangat dekat. Dan sudah beberapa minggu ini mereka tidak bertemu karena kesibukan Monika.
"Dari mana kalian bisa tau rumah baruku ini?" Tanya Monika. Dia sedikit terkejut dengan kedatangan keluarga dekatnya itu.
"Semalam, Ervan menelfon mengabari kami. Hari ini kami memutuskan untuk datang menjenguk kalian," sahut Maria.
"Pria itu memang penuh dengan kejutan," Monika tersenyum kecil.
Monika mempersilahkan dua tamunya masuk ke dalam rumah, mereka berjalan jalan mengelilingi ruangan yang ada di rumah itu. Dimulai dari ruang tamu, ruang tengah, dapur dan ruang makan. Lalu mereka naik ke lantai atas untuk melihat lihat kamar.
Maria memandang kagum, semua ruangan di rumah itu berukuran luas dan dipenuhi oleh perabotan mahal. Berbeda jauh sekali dengan yang ada di rumah lama warisan kedua orang tua mereka. Hidup Monika benar-benar beruntung, menikahi pria kaya dan strata sosialnya jadi ikut naik.
Tidak hanya Monika saja yang beruntung, Marisa dan putranya juga merasa beruntung. Hidup mereka kini ada yang menanggung dan jauh dari kata kekurangan lagi. Tidak ada hutang, tidak ada cemoohan dari tetangga, benar benar sejahtera dan damai.
Begitulah saudara, jika ada yang hidup maju dan berkecukupan, dia harus mau membantu saudaranya yang sedang kesusahan. Saudara itu ibarat satu tubuh, satu di cubit, seluruh anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit.
"Sudah puas belum jalan jalannya, kita ke dapur yuk. Aku akan buatkan kalian makanan enak dan minuman segar," ajak Monika.
Monika memasak makanan enak untuk keluarganya,mereka menyantap makanan itu dengan lahap dan khidmat. Seperti biasa, Josua menggeleng gelengkan kepalanya jika menyantap makanan bercita rasa enak. Pria kecil itu selalu rindu masakan sang Tante. Baginya,tidak ada yang bisa menandingi masakan Monika termasuk ibunya sekalipun.
__ADS_1
Selesai makan, Monika merogoh isi tasnya, dia menyodorkan sebuah gelang emas beserta suratnya kepada sang adik.
"Aku ingin membayar hutang padamu, beberapa bulan lalu aku meminjam gelang mu dan menjualnya untuk membeli obat Josua,"
"Kakak, kamu masih mengingatnya saja. Aku tidak pernah menuntut minta diganti, simpan saja gelangnya. Lagi pula kita itu saudara," tolak Monika secara halus.
"Saudara ya saudara,yang namanya hutang harus tetap dibayar." Marisa meletakan gelang seberat lima gram itu di hadapan Monika.
"Kamu tenang saja, aku sudah bekerja. Hidupku tidak akan susah hanya karena membayar hutangku padamu,"lanjut Marisa sambil tertawa.
***
Menjelang sore, Marisa dan Josua pamit pergi. Monika langsung melompat keatas sofa dan membaringkan tubuhnya yang lelah. Membereskan rumah adalah pekerjaan yang terlihat sepele, tapi sebenarnya cukup menguras tenaga dan waktu.
Ervan merasa kasihan pada istrinya, hatinya tergerak untuk membuatkan secangkir minuman hangat untuknya. Dalam hidup,Ervan tidak pernah melayani orang lain. Tapi hari ini dia begitu ingin melakukannya.
"Sayang, minum ini. Ini akan menghangatkan tubuhmu dan mengurangi rasa lelah di tubuhmu," ucap Ervan sambil menyodorkan cangkir teh kepada Monika.
Monika bangkit dari kursi, dia menerima teh pemberian Ervan dan langsung mencicipinya.
"Owh..." Keluh Monika.
"Ada apa? Apa rasanya terlalu manis?"
"Bukan manis, tapi asin. Kamu memasukan garam ke dalam air teh ini, bukan gula. Apa kamu tidak bisa membedakan antara gula dan garam?"
__ADS_1
"Maaf," Ervan menunduk sedih. Dia tersinggung karena Monika kurang menghargai usahanya.
Melihat ekspresi sedih Ervan, Monika langsung memeluk erat tubuh pria itu.
"Maaf, aku sudah kasar padamu. Dan terimakasih karena kamu sudah begitu perhatian padaku,"
cup...
Ervan mencium kening istrinya, Monika memejamkan kedua matanya untuk menikmati sensasi hangat dan lembut dari benda kenyal itu.
"Kamu tau,aku merasa rumah ini terlalu luas untuk di huni oleh kita berdua saja. Bagaimana kalau kita membuat beberapa anak?"
"Anak?"
"Ya,aku ingin beberapa anak darimu,"
"Tapi, aku tidak yakin aku bisa mengurus beberapa anak sekaligus,"
"Kamu tenang saja, aku akan membantumu."
Ervan membopong istrinya, dia melangkah penuh semangat menuju kamar pribadi mereka.
"Ervan, turunkan aku! Tubuhku masih lelah, apa kita tidak bisa melakukannya besok saja?" Monika berontak.
"Tidak bisa, karena aku paling tidak suka keinginanku tidak di turuti," Ervan tertawa lepas.
__ADS_1
Bersambung...