Terpaksa Menikahi Pria Cassanova

Terpaksa Menikahi Pria Cassanova
Hadiah Dari Mertua


__ADS_3

Erick datang mengunjungi rumah anak menantunya dengan mengendarai sebuah mobil baru berwarna hitam. Mobil itu dia beli sebagai hadiah untuk Monika karena dia telah memberikan Erick seorang cucu. Rasa susah dan payahnya Monika selama mengandung patut diapresiasi. Salah satunya dengan memberikan dia sebuah hadiah mahal.


Erick memarkirkan mobil itu di halaman rumah Monika, dia keluar dari mobil dan berlari kecil mencari Monika di dalam rumah. Monika yang saat itu sedang menonton televisi langsung bangkit menyambut kedatangan Ayah mertuanya.


"Ayah, " panggil Monika.


"Ayo ikut aku," ajak Erick sambil menunjuk ke halaman rumah.


Monika mengikuti Erick keluar rumah, alangkah terkejutnya dia saat mendapati sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumahnya.


"Mobil siapa itu Ayah?"


"Itu mobilmu,"


"Mobilku? Maksudnya?"


"Aku yang membelinya untukmu, itu sebagai tanda terimakasih karena kamu sedang mengandung cucuku,"


"Astaga, Ayah. Apa hadiah itu tidak berlebihan?"


"Tentu saja tidak. Apa kamu ingin hadiah yang lain?"


"Tidak, aku tidak menginginkan apapun. Terimakasih atas perhatian Ayah padaku,"


Kata orang banyak anak banyak rejeki, mungkinkah ini rejeki yang Tuhan berikan karena Monika telah mau menerima kehadiran anak di dalam perutnya? Menyenangkan sekali bisa memiliki mertua baik dan perhatian, semoga wanita wanita lain di luar sana bisa seberuntung Monika. Amin.


Monika mengajak Ayah mertuanya masuk dan menawarinya untuk makan siang bersama, tiba tiba suara seorang wanita muncul mencegah mereka. Wanita itu adalah Micell, anak tiri Erick.

__ADS_1


"Mau apa dia datang ke sini?" Batin Monika.


"Micell, apa kamu membuntuti Ayah?"


"Tidak, aku hanya kebetulan lewat saja. Kenapa wajah kalian berubah jadi masam seperti itu? Apa kalian tidak suka kehadiranku?" Micell menatap Erick dan Monika secara bergantian.


"Bukan begitu, ayah hanya tidak mau kamu membuat keributan di sini," celetuk Erick.


Pria itu sama sekali tidak menginginkan Micell membuat masalah dengan Monika. Ucapannya yang pedas dan ketus sangat tidak cocok di dengar oleh seorang wanita hamil.


"Sudahlah Ayah, mari masuk. Kita makan bersama," ajak Monika sambil tersenyum.


Micell melangkahkan kaki memasuki kediaman Monika dan Ervan. Matanya terus mengamati setiap detil bangunan yang ada disana, dia takjub dengan kemewahan hunian itu, bahkan lebih mewah dari rumah Ayah tirinya.


Ada rasa iri di dalam hati Micell karena hidupnya tak seberuntung Monika, menikahi pria tampan, punya mertua royal. Andai waktu bisa di putar kembali, Micell tidak akan mengizinkan Ibunya untuk menikah dengan Erick karena dia menyukai Ervan.


"Makan yang banyak, agar kamu cepat besar," goda Monika pada Micell.


"Aku sudah besar, bahkan aku memiliki postur tubuh sedikit lebih besar darimu," Micell cemberut.


"Aku hanya bercanda saja, jangan marah!"


***


Selesai makan bersama, Monika mengajak tamunya untuk bersantai di ruang tengah. Dia membawakan minuman dingin dan potongan buah segar sebagai pencuci mulut sekaligus camilan.


"Ayah, apa mobil itu Ayah beli untuk Monika?"

__ADS_1


"Iya, kenapa memangnya?"


"Kenapa hanya dia saja yang Ayah belikan? Aku juga mau,"


"Loh, Ayah sudah memberimu mobil satu. Lebih bagus dan lebih mahal dari milik monika,"


"Aku tidak mau itu, aku mau yang seperti milik Monika,"


Penyakit hati Micell kambuh, dia merasa iri dan dengki pada Monika. Wajahnya menatap Monika dengan tatapan tidak suka dan raut wajah menyeramkan.


Ervan kembali, dia terkejut melihat Micell ada disana bersama Ayahnya. Micell berlari menghampiri Ervan, dia ingin memeluk tapi Ervan langsung mendorongnya menjauh. Micell kecewa, sementara Monika hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.


"Aku sudah pernah bilang padamu, jaga sikapmu!" Bentak Ervan.


"Iya, Maaf," Micell menundukkan wajahnya dan kembali duduk di sofa.


Monika menghampiri Ervan, mencium telapak tangannya dan mengusap pipinya. Ervan mencium kening Monika, memeluknya dan membawanya jalan menuju kamar mereka.


Micell mendengus kesal, dia cemburu melihat keharmonisan dan keromantisan pasangan itu.


"Aku sudah bilang padamu, jangan datang ke Ini. Kamu masih saja ngeyel!" celetuk Erick.


"Ayah, kamu mana tau perasaan anak muda seperti aku ini. Jadi, diam saja dan jangan banyak bicara. Oke?"


"Kamu ini tidak sopan sekali, aku ini Ayahmu, bukan teman main kamu!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2