
Pernikahan akan terlihat indah bagi siapa saja yang belum pernah menjalaninya. Tanpa mereka tau, banyak hal yang harus dikorbankan untuk membangun hubungan pernikahan tersebut.
...****************...
Pagi itu, pesta pernikahan Monika dan Ervan berjalan dengan khidmat tanpa halangan suatu apapun. Beberapa orang terdekat Ervan menangis, khususnya Erick Ayah Ervan.
Wajah Monika terlihat datar tanpa ekspresi, berbeda dengan Ervan yang semenjak tadi selalu menyunggingkan senyum. Harusnya hari ini menjadi hari yang paling bahagia untuk Monika, andai dia menikah dengan pria yang dia cintai.
Sudahlah, untuk apa mengeluh? Mengeluh tidak akan mengubah apapun, hanya membuat jiwa dan raga semakin tertekan saja. Lebih baik terima segala sesuatu yang telah Tuhan garis kan. Karena semua jalan yang dipilih oleh Tuhan pasti yang terbaik untuk hidup hambanya.
"Apa kamu sedih karena Kakak dan keponakanmu tidak ada disini?" Ervan menatap wajah Ayu istrinya.
"Iya,"
"Apapun alasannya, kamu harus tetap menunjukan wajah ceria sambil tersenyum. Kamu tidak mau aku dicap telah memaksamu menikah secara sepihak bukan?"
Monika merasa tersindir dengan kalimat itu, seolah Ervan sedang protes atas kinerja dirinya yang kurang baik. Dia sudah dibayar mahal untuk ini, harusnya monika bisa berkerja sama sedikit.
Seorang pria melangkah mendekati Ervan dan Monika,tatapan matanya terlihat sendu, wajahnya kelabu seperti baru saja kehilangan sesuatu. Dia adalah Elanor adik kandung Ervan, pria yang pernah ditolak cintanya oleh Monika saat masih duduk di bangku SMA.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua," Elanor mengulurkan tangan kearah Monika dan gadis itu menyambutnya.
"Kamu, bagaimana bisa ada disini?" Monika terheran heran.
"Dia adikku. Kalian berdua sudah saling kenal?" Tanya Ervan penasaran.
"Iya,kami saling kenal. Kami teman satu kelas di SMA," sahut Elanor tanpa melepaskan tatapan matanya dari Monika.
Apa dia bilang? Adiknya? Kebetulan macam apa ini ya... Tuhan!
Ingatan Monika melambung jauh ke beberapa waktu lalu, saat seorang pria dari keluarga kaya mengutarakan cinta kepadanya di lapangan sekolah pada jam istirahat. Monika menolak pernyataan cinta pria itu karena merasa dirinya tidak pantas dicintai oleh pria tampan dan kaya, tapi kini pria itu malah menjadi adik iparnya sendiri.
Aroma cinta terendus nyata oleh hidung Ervan, dia menikahi gadis yang disukai oleh adiknya. Hubungan mereka sudah cukup rumit selama ini, dan sepertinya akan bertambah menjadi lebih rumit.Terlebih mereka bertiga akan tinggal satu atap.
"Elanor, tolong lepaskan tanganku!" Ucap Monika.
"Oh,maafkan aku." Elanor menyeka butiran air mata yang keluar dari ujung matanya.
__ADS_1
Dia pergi meninggalkan pelaminan dengan mata merah, hingga mengundang banyak tanya dari tamu undangan yang hadir.
Kenapa dunia terasa sempit bagi orang orang yang kurang beruntung seperti Monika? Baru saja dia keluar dari satu permasalahan hidup, dia sudah dipaksa masuk ke permasalahan baru.
*****
Selesai acara, Ervan mengajak Monika pergi ke GHI. Sebuah Hotel bintang lima yang terletak di pinggir kota. Mereka akan menginap di sana selama beberapa hari, melewatkan bulan madu bersama.
Ervan masih sangat penasaran dengan hubungan Monika dan adiknya, hingga saat tiba di Hotel hal itu yang menjadi topik pembicaraan pertama.
"Apa kalian berdua pernah berpacaran?" Tanya Ervan.
"Aku tidak pernah berpacaran dengannya," sahut Monika santai.
"Sepertinya Elanor sangat mencintaimu," lanjut Ervan.
"Iya, dia memang mencintai aku. Dia pernah menyatakan cinta padaku dan aku menolaknya," tutur Monika.
"Kenapa kamu menolaknya?"
"Karena aku tidak mencintainya,"
"Tapi dia bukan tipe pria idamanku,"
"Lalu seperti apa tipe pria idaman mu?"
"Seperti Bapak.Puas???" Monika marah. Dia lelah trus dihujani pertanyaan yang tidak masuk akal oleh pria yang baru beberapa menit menjadi suaminya itu.
Ervan menutup mulutnya rapat rapat, dia tidak percaya dengan kalimat yang baru saja gadis itu utarakan. Dia adalah tipe pria idamannya? Mana mungkin, Monika sudah pasti sedang menggodanya.
Monika masuk kedalam kamar mandi, dia mengguyur tubuh polosnya dengan air dingin dan menggosok dengan sabun hingga bersih. Mandi adalah cara menenangkan diri kedua yang biasa Monika ambil jika hari yang dia lalui sedang terasa berat.
Klak,,,,
Pintu kamar mandi terbuka, Monika melangkah keluar dari ruangan berukuran 3x3 meter itu dengan balutan baju mandi dan rambut yang terlilit handuk.
Aroma segar menyeruak hingga ke hidung Ervan, pria itu berdehem untuk menenangkan jiwanya yang mulai tergoda untuk mengambil inisiatif. Pria normal mana yang bisa tahan dengan godaan gadis cantik yang baru saja selesai mandi?
__ADS_1
"Aku harus memanggil Bapak dengan sebutan apa?"
Monika melepas lilitan handuknya dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan hairdryer.
"Panggil saja aku Mas, jangan panggil Bapak. Orang orang akan menatap aneh jika mendengar kamu memanggilku Bapak,"
"Baiklah kalau begitu. Ngomong ngomong, bisa tolong pesankan makanan untukku tidak? Perutku lapar,"
"Untuk pertama kalinya dalam hidup ada orang yang berani memerintah aku,"
"Memangnya kenapa? Mas kan suamiku."
Deg,,,,
Jantung Ervan berdetak kencang saat mendengar dirinya dipanggil Mas. Suara Monika memang seperti mengandung sihir, bisa membuat siapa saja yang mendengarnya merasa terhipnotis terutama Ervan.
"Tunggu disini, aku akan carikan makanan untukmu." Ervan bangkit dari sofa dan melangkah keluar dari kamar Hotel yang mewah itu.
*****
Di rumahnya, Elanor sibuk menenggak minuman keras untuk mengobati hatinya yang sakit karena gadis yang dia puja dipersunting oleh Kakaknya sendiri.
Prakk....
Elanor membanting botol kosong itu ke lantai hingga pecah dan berserakan dimana mana. Erick mendekati Elanor, dia mencoba untuk mendekati anak keduanya itu.
"Apa yang terjadi denganmu?"
"Kenapa Ayah mengizinkan Kakak menikah dengan gadis itu?"
"Memangnya kenapa dengan gadis itu?"
"Aku menyukai gadis itu Ayah, karena Kakak kesempatanku untuk memilikinya hilang!"
"Mana aku tau kamu menyukainya, kalau aku tau aku pasti sudah melarang Kakakmu menikahinya,"
Elanor menangis tersedu sedu, Erick memeluknya dan mengusap punggungnya lembut. Patah hati memang menyakitkan, bahkan untuk seorang pria sekalipun.
__ADS_1
BERSAMBUNG...