
Tring...
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Monika, pesan itu berasal dari nomor baru. Monika meraih ponselnya, dia membuka pesan yang ternyata berisi foto Ervan dengan mantan dan anaknya di sebuah rumah sakit.
"Jadi, ini alasan pria itu pulang terlambat hari ini. Dia membohongi aku? Menyebalkan!" Ucap Monika kesal.
Merasa ada yang tidak beres dengan sang istri, Ervan menghampiri Monika dan mengintip pesan yang masuk ke dalam ponsel wanita itu. Ervan melotot saat mendapati fotonya bersama Clarisa dan putranya ada di sana.
"Sayang, aku bisa jelaskan soal itu," Ervan terlihat gugup dan sedikit takut.
"Sudahlah, jangan bahas soal apapun hari ini. Aku sedang malas ribut denganmu,"
Monika keluar kamar, dia pergi ke dapur dan membuka kulkas. Monika mulai meracik bumbu, dia ingin memasak sesuatu yang berkuah dan pedas. Makanan seperti itu sangat cocok untuk meredakan emosi yang sedang menumpuk di dalam jiwa.
Sebenarnya, Monika ingin sekali mengajak suaminya bertengkar. Tapi,dari pada itu dia lebih ingin mengetahui si pemilik nomor baru misterius itu. Sepertinya orang itu sengaja mengirimkan foto menyebalkan itu agar dia dan Ervan bertengkar. Ada yang sedang ingin merusak ketenangan dalam rumah tangganya, siapa orang itu? Mungkinkah Clarisa?
Mie Tek Tek ekstra pedas telah matang, Monika menuangnya ke dalam mangkuk dan mulai menyantapnya secara perlahan.
"Non makan mi? Kalau Bos besar tau saya bisa di marahi Non," keluh asisten rumah tangga berwajah polos itu.
"Kalau begitu jangan sampai Ayah mertuaku tau, tutup mulutmu rapat rapat. Mengerti?"
__ADS_1
"Iya Non,saya mengerti."
***
Selesai makan, Monika pergi ke perpustakaan. Dia membaca beberapa buku favoritnya untuk melupakan bayang bayang foto tadi. Tapi ternyata tidak bisa, sekuat apapun dia berusaha bersikap santai hasilnya selalu saja gagal.
Banyak pikiran bisa menganggu pertumbuhan janin, begitu juga dengan marah-marah. Apa yang harus Monika lakukan sekarang? Diam saja seperti orang bisu begitu?
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku harus meluapkan amarahku,"
Monika bangkit dari kursi bacanya, dia pergi menghampiri Ervan di dalam kamar.
Pintu kamar terbuka, Ervan menoleh dan menatap istrinya dengan tatapan bingung. Bingung mau berkata apa, bingung mau melakukan apa. Karena Monika tidak mengajaknya bicara sedikitpun, ternyata marahnya wanita itu sangat menyeramkan.
"Bagaimana bisa kamu dan dia bisa bersama?"
"Aku menemukannya sedang kebingungan di pinggir jalan. Mobilnya mogok, anaknya sakit jadi aku menolongnya,"
"Lalu, kenapa kamu berbohong padaku?" Monika menatap ragu.
"Karena aku tidak mau membuat kamu cemburu dan salah paham," jelas Ervan.
__ADS_1
"Tapi pada akhirnya aku tetap cemburu dan salah paham,"
"Maafkan aku, aku menyesal," Ervan memasang wajah penuh penyesalan.
"Jangan ulangi lagi ya!"
"Iya,aku tidak akan mengulanginya."
Keduanya berpelukan dan saling memaafkan satu sama lain. Memang begitu seharusnya suami istri, tidak boleh terlalu lama bertengkar. Harus saling terbuka dan percaya antara satu dan lainnya.
"Ngomong ngomong, siapa pemilik nomor baru yang mengirim foto itu padaku ya?" Monika sedikit gusar.
"Mungkin Elanor, aku bertemu dengannya disana," Ervan mencoba menerka.
"Tidak mungkin, dia bukan orang yang suka mengadu domba," bela Monika.
"Sudahlah, jangan di pusingkan lagi. Pokoknya kamu harus percaya padaku, selamanya hanya akan ada kamu di hatiku, tidak ada yang lain,"
"Iya, aku percaya padamu."
Bersambung...
__ADS_1