
Keesokan harinya, Dono berkunjung ke restoran milik Ervan. Dia berniat mencari Monika di sana, tapi usahanya gagal. Karena Ervan dan Monika hari itu tidak datang ke restoran.
Dono duduk di kursi dekat pintu masuk, dia memasang wajah sedih dan putus asa. Seorang petugas keamanan datang menghampirinya kemudian mengajaknya berbasa-basi.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya satpam berperawakan tinggi kurus itu.
"Aku ada keperluan darurat dengan Pak Ervan dan Nona Monika, tapi mereka tidak ada di sini,"
"Kalau boleh tau, bapak siapa?" Tanya satpam itu.
"Aku ayah dari Ayu,"
"Oh, Ayu temannya istri Bos ya?"
"Iya,"
"Bapak datang saja langsung ke rumah baru mereka, di Perum Bugenvil, jalan mekar, nomor lima,"
"Terimakasih Pak, aku mau kesana sekarang juga,"
Dono memesan ojeg online, saat ojeg yang dia pesan datang, dia langsung melesat pergi menuju kediaman Ervan dan Monika.
Satu jam berlalu, Dono tiba di tempat yang dia tuju. Sebuah rumah berlantai dua yang nampak menawan dengan cat hitam putih. Rumah itu jauh lebih mewah dari tempat tinggal Dono dulu, jauh sebelum dia mengalami kebangkrutan.
Ting... Tong...
Bunyi bel menggema saat Dono menekan sebuah tombol yang menempel di dinding. Lama menunggu, akhirnya seseorang muncul dari balik pintu untuk menemui dirinya.
"Monika," sapa Dono.
"Pak Dono?"
"Apa boleh aku bicara sebentar denganmu?"
"Tentu saja boleh, mari masuk,"
Monika pernah beberapa kali bertemu dan berbincang dengan Pak Dono saat main ke rumah Ayu. Dia pria ramah, murah senyum dan humoris. Tapi hari ini wajahnya terlihat sedih, Monika tau pasti karena Ayu telah di masukan ke dalam penjara.
Monika masuk ke dalam rumah, dia menghampiri suaminya untuk menemui Dono yang sedang menunggu di ruang tamu.
"Hallo Pak Dono, apa kabar?" Sapa Ervan sambil mengulurkan tangan.
"Baik Den, Aden sendiri bagaimana?"
"Baik juga. Ada perlu apa pagi pagi begini Bapak datang ke rumah kami?"
__ADS_1
"Aku mau meminta pertolongan,"
"Soal apa?"
"Soal anakku Ayu, tolong maafkan dia. Tolong bebaskan dia dari penjara Den,"
"Dia sudah melakukan kesalahan besar, dia pantas untuk di hukum,"
"Aku benar benar minta maaf soal itu, biarkan aku sendiri yang mendidiknya di rumah. Tolong bebaskan dia dari penjara,"
Ervan melirik kearah Monika, matanya berkaca kaca melihat Pak Dono menghiba pada Ervan. Monika memberi kode pada Ervan agar mau mencabut tuntutannya, tapi pria berparas tampan itu merasa keberatan.
Pria mana yang bisa melepaskan pelaku kekerasan pada sang istri di dunia ini? Ervan rasa tidak ada. Apa lagi tanpa memberi pelajaran dan pembalasan sedikitpun.
"Maafkan aku Pak, aku tidak bisa melepaskan anak Bapak. Asal Bapak tau, memasukan dia ke dalam penjara juga ada hikmahnya, agar dia mau berpikir sebelum bertindak dan tidak mudah berprasangka buruk pada orang lain,"
Pak Dono menundukkan wajahnya, dia mencoba merenungi perkataan dari lawan bicaranya. Yang di katakan Ervan benar, mungkin sesekali Ayu harus diberi pelajaran agar tidak menjadi anak manja.
Ayu awalnya gadis yang patuh pada orang tua, setelah Ayahnya bangkrut dan jatuh miskin berangsur angsur sikapnya berubah. Sepertinya dia tertekan dengan keadaan hidup yang berbanding terbalik dari kehidupan sebelumnya.
Dulu, apapun yang dia mau selalu di turuti. Sekarang dia harus bekerja keras dulu jika menginginkan sesuatu, itu pun belum tentu terbeli.
"Baiklah, aku terima keputusan Aden. Memang semua awalnya salah Ayu," Dono mendengus pasrah.
Percakapan serius pagi itu berakhir, Dono harus keluar dari rumah Ervan dan Monika sambil menelan kenyataan pahit. Ayu harus di penjara, meski tidak lama, tapi nama baik keluarganya akan tercoreng.
***
Petugas lapas membuka jeruji besi yang mengurung Ayu, Ayu mengangkat wajahnya dan tersenyum senang saat melihat sang Ayah datang. Ayu merangsak keluar dari dalam sel dan memeluk tubuh pria tua itu erat.
"Ayah, apa Ayah sudah menemui Monika dan Ervan? Dia mau membebaskan aku bukan?" Ayu menatap penuh harap.
"Maafkan Ayah Ayu, Ayah gagal membujuk dua orang itu untuk membebaskan kamu dari dalam penjara," sahut Dono.
Seketika tubuh ayu terasa lemas, dia terhuyung dan terduduk di lantai. Tatapan matanya kosong, pikirannya melayang jauh entah kemana.
Dono yang khawatir langsung memeluk putrinya itu sambil menangis.
"Kuatkan dirimu nak, hanya beberapa bulan saja. Ayah yakin kamu bisa melewati semua dengan baik," Dono mencoba menguatkan hati anaknya yang patah.
"Aku tidak mau tinggal di tempat ini Ayah,"
"Ayah tau nak, tapi ini semua akibat dari perbuatan mu sendiri. Jadi,terimalah dengan lapang dada sayang,"
***
__ADS_1
Di tempat lain, Monika terus menerus membujuk Ervan untuk melepaskan Ayu dari dalam penjara. Berbagai cara telah dia lakukan, tapi hasilnya nihil. Kepala pria itu terlalu keras untuk di taklukan begitu saja.
"Aku tidak akan mau mencabut tuntutan itu, jadi berhentilah merayuku,"
"Jika kamu tidak kasihan pada Ayu, kasihanilah Ayahnya yang sudah tua itu. Dia begitu tertekan karena anak semata wayangnya masuk kedalam penjara,"
"Sekali aku bilang tidak, berarti tidak!" Bentak Ervan.
Monika tercekat, dia syok saat pria itu membentaknya dengan kasar. Tiba tiba kepala Monika terasa pusing, berputar, dan perutnya terasa mual. Monika terhuyung, tapi Ervan dengan sigap menangkap tubuh wanita itu.
"Monika, kamu kenapa?"
"Aku tidak tau, kepalaku pusing sekali,"
"Kita pergi ke Dokter sekarang juga,"
Ervan menggendong istrinya dan memasukannya ke dalam mobil. Keduanya melesat menuju rumah sakit terdekat.
Tiba di rumah sakit, Dokter langsung memeriksa keadaan Monika dengan teliti dan hati hati agar tidak terjadi kekeliruan pada hasil pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istriku Dokter?" Tanya Ervan cemas.
"Dia baik baik saja, hanya saja..."
"Hanya saja apa Dokter?"
"Dia sedang hamil, jadi anda harus menjaganya dan merawatnya dengan baik,"
"Hamil?"
"Ya, dia sedang hamil. Selamat ya, sebentar lagi anda akan menjadi seorang Ayah,"
Air mata jatuh menetes di pipi Ervan, akhirnya apa yang dia tunggu datang juga. Seorang janin sedang bertumbuh di dalam rahim istrinya tercinta, hasil dari buah kasih mereka berdua.
Berbeda dengan Ervan yang sangat senang dengan kabar itu, raut wajah Monika berubah murung. Dia belum siap untuk menjadi seorang Ibu, tapi Tuhan sudah menitipkan anugrah indah itu padanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Monika merasa sedikit bingung.
"Ada apa?" Tanya Ervan.
"Aku belum siap untuk menjadi seorang Ibu,"
"Santai saja, aku akan membantu mu melewati semua prosesnya,"
"Tapi,,,"
"Sayang, aku merasa bahagia karena hal ini. Jadi jangan rusak kebahagiaanku dengan memasang wajah jelek itu!" Omel Ervan.
__ADS_1
Bersambung...