Terpaksa Menikahi Pria Cassanova

Terpaksa Menikahi Pria Cassanova
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Sore itu, Ervan pergi ke sebuah toko roti untuk membeli beberapa jenis roti kesukaan Monika. Dan semua roti roti itu memiliki rasa coklat dengan toping coklat pula.


Sejak mengandung, Monika jadi suka dengan roti. Selain enak, roti menjadi makanan praktis ketika tiba tiba perutnya merasakan lapar di tengah malam. Pusing dan mual telah berkurang, perlahan nafsu makan meningkat dari sebelumnya.


Saat hendak keluar toko, Ervan berpapasan dengan sosok wanita yang begitu dia kenal. Dia adalah Clarissa, mantan kekasihnya yang baru saja menjadi janda. Clarissa melempar senyum padanya, meski malas Ervan membalas senyuman itu.


"Bagaimana kabarmu?" Sapa Clarissa


"Aku baik baik saja. Kabarmu sendiri bagaimana?" Tanya Ervan balik.


"Aku juga baik,"


"Ya sudah kalau begitu, aku pamit dulu," Ervan segera melarikan diri dari Clarissa, dia malas terlalu lama mengobrol dengan wanita menyebalkan itu.


Jujur saja, rasa sakit dihatinya masih ada walaupun dia telah menikah dan hidup bahagia dengan orang lain. Luka hati memang sulit sekali sembuh, jangan sekali kali melukai hati orang lain.


Clarissa menatap kepergian Ervan dengan tatapan sendu, dia tau kalau pria itu menghindarinya. Clarissa sedih, tapi untuk apa dia sedih? Toh semua sudah menjadi pilihan hidupnya sejak itu.


Ervan masuk kedalam mobil, dia melaju menuju rumah tanpa memikirkan wanita itu lagi. Yang ada didalam pikirannya saat ini adalah ekspresi senang Monika saat melihat dia pulang membawa banyak makanan kesukaannya.


Tiba dirumah, Ervan hendak membuka pintu. Tiba tiba dia mendengar suara orang memanggil manggil. Ternyata orang itu adalah Clarissa, wanita itu diam diam membuntuti Ervan sampai rumah.


"Clarissa, sedang apa kamu di sini?"


"Jangan salah paham dulu, aku hanya ingin mengembalikan dompetmu yang terjatuh di depan pintu toko roti tadi,"


"Oh, terimakasih,"


"Ini rumah barumu?"


"Iya. Urusanmu sudah selesai kan? Pergilah, aku tidak mau Monika melihatmu ada disini dan salah paham,"


"Ah, baiklah, aku akan pergi,"

__ADS_1


Clarissa merasa kecil hati saat diusir oleh Ervan, pria itu sangat menjaga perasaan istrinya. Tapi dulu, Ervan tidak memperlakukan dia seperti itu.


Rasa kecil hati Clarissa bertambah saat melihat rumah baru milik Ervan, harusnya rumah itu menjadi miliknya, tapi kini malah menjadi milik wanita lain. Clarissa menyesali kebodohannya dulu.


Clarissa kembali masuk kedalam mobilnya, saat mobil Clarissa pergi Monika keluar untuk membuka pintu.


"Mas," sapa Monika. Dia memperhatikan sekitar dan tidak menemukan mobil lain selain mobil Ervan.


"Sepertinya tadi aku mendengar suara mobil lain,"


"Iya, itu mobil temanku,"


"Oh, begitu. Kenapa tidak di suruh mampir dulu,"


"Dia sedang sibuk, jadi buru buru pergi. Ayo kita masuk," ajak Ervan.


***


Di dalam rumahnya, Ervan dihantui rasa bersalah pada Clarisa karena telah mengusirnya dari rumah. Wajah kecewa Clarisa terbayang bayang di matanya. Itu adalah hal yang biasa di lakukan oleh seseorang, demi menjaga perasaan orang lain, terkadang kita harus melukai hati yang lainya.


Dari jauh, Monika memperhatikan suaminya. Dia terlihat murung dan sedih, seolah sedang memikirkan sesuatu. Apakah berhubungan dengan wanita cantik tadi? Apa dia menyesal telah bersikap buruk padanya?


Sore tadi, Monika mengintip dari celah gorden saat mendengar suara deru dua buah mobil. Dia terkejut karena melihat sosok wanita yang ada di dalam foto tempo hari muncul di depan rumah mereka.


Batin Monika tidak jadi terluka karena Ervan sangat menjaga sikapnya sebagai seorang suami dan calon Ayah, tapi melihat sikap aslinya malam ini, Monika jadi gelisah. Apa Ervan masih memiliki rasa pada wanita itu? Pertanyaan konyol mulai hinggap di kepala Monika.


Monika menghampiri Ervan sambil menyodorkan sebelas teh hangat, bukanya menerima gelasnya, Ervan malah menarik Monika dan membuatnya duduk di pangkuannya.


Ervan mengelus perut Monika yang sudah mulai membuncit, mencium pipi Monika mesra dan membelai rambutnya secara perlahan. Sikap manis Ervan benar benar Monika suka, dia sangat takut jika sikap manis itu juga akan Ervan berikan pada wanita lain.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Monika.


"Hanya masalah cafe saja," sahut Ervan berbohong.

__ADS_1


"Oh," Monika sedikit merasa lega.


"Kamu sudah makan belum?" Tanya Ervan lagi.


"Sudah,"


"Sudah berapa kali?"


"Empat kali,"


"Pantas saja berat badanmu bertambah ya," goda Ervan.


Keduanya tertawa bersama dan larut dalam kebahagiaan.


***


Sementara itu di tempat lain, Clarisa masih saja meratapi hidupnya yang malang. Menjadi janda beranak satu bahkan tanpa aset kekayaan. Pamor hilang, uang tunjangan dari suami tak seberapa. Clarissa merasa ingin terjun ke dunia model dan artis lagi.


Tapi Clarisa memikirkan putranya yang masih kecil, dia masih asi dan butuh perhatian ekstra. Sementara dua pekerjaan itu sangat menyita waktu dan pikirannya. Clarisa benar benar bingung, dia tidak tau harus bagaimana.


"Clarissa," panggil nenek Rossa.


"Iya, ada apa Nek?"


"Kenapa kamu melamun?"


"Aku sedang memikirkan apa yang aku lakukan saat ini, aku ingin berkarir lagi tapi aku kasihan pada putraku,"


" Kamu buka usaha saja,"


"Modalnya dari mana?"


"Nenek akan membantu, kamu tenang saja,"

__ADS_1


Sebuah senyum merekah dari wajah Clarissa, dia senang karena mendapatkan jalan keluar dengan cepat dan tak perlu merasa pusing berlama lama.


Bersambung...


__ADS_2