
Tubuh Monika sedikit lemas, kepalanya pusing dan perutnya mual. Mabuk adalah hal yang biasa dirasakan oleh Ibu hamil muda, khususnya saat pagi hari.Jangan ditanya apakah dia bisa makan sesuatu, karena sejak kemarin dia hanya minum beberapa teguk air putih saja.
Ervan sudah pergi ke cafe, Monika di titipkan pada Asri. Wanita berambut ekor kuda itu selalu menemani Monika, dia tidak pernah pergi kecuali untuk buang air ke toilet. Asri ART yang sangat patuh, dia tidak pernah membantah perintah majikannya sedikitpun terutama perintah Ervan.
Sebuah chat singkat masuk ke ponsel Monika, itu adalah pesan dari Ervan suaminya.
"Jangan lupa makan, walaupun itu hanya sedikit," tulis Ervan.
"Iya," balas Monika pelit.
"Bawahan ku akan datang ke rumah, namanya Angga. Tolong berikan dompetku padanya, tertinggal di laci meja," lanjut Ervan.
"Oke." balas Monika.
Monika turun dari ranjang, dia membuka laci meja di sisi ranjangnya dan mencari dompet milik Ervan. Sebuah dompet kulit berwarna hitam ada di sana, terlihat tebal dari luar. Monika penasaran, dia ingin melihat apa saja isi dari dompet itu.
Sebuah black card, beberapa kartu ATM, sejumlah uang tunai, kartu identitas dan sebuah SIM. Lalu, Monika membuka bagian tengah dari dompet itu, dia menemukan tiga lembar foto seorang wanita cantik di sana.
Wajahnya oval, rambutnya pirang, mata sipit bak mata kelinci. Sepertinya dia memiliki postur tubuh tinggi dan langsing, berkulit putih seperti susu baru diperah.
Inikah mantan kekasih Ervan? cantik sekali, aku bahkan tidak ada seujung kukunya.
Monika menatap foto itu dengan tatapan sedih, pantas saja dia selalu dibandingkan dengan wanita ini, karena memang dia kalah jauh dari segi fisik dan penampilan. Ibarat kata, mantan Ervan adalah sekuntum bunga, sementara Monika adalah pupuk kandangnya. Bedanya jauh, seperti bumi dan langit.
Apa Ervan tidak menyesal telah menikah denganku?
Pikiran buruk tiba tiba melintas di benak Monika, mengurangi kepercayaan diri dalam dirinya. Air mata Monika menetes membasahi pipi, dia segera menyekanya sebelum Asri keluar dari dalam kamar mandi.
"Nona," panggil Asri sambil menutup pintu kamar mandi.
"Iya, ada apa?" Tanya Monika.
"Saya buatkan makanan mau tidak?"
__ADS_1
"Boleh,"
"Mau dibuatkan apa? Bubur kacang hijau mau?"
"Mau,"
"Oke, tunggu sebentar ya!"
"Tunggu dulu!" Cegah Monika.
"Ada apa Nona?"
"Sebentar lagi anak buah Mas Ervan datang, namanya Angga, berikan dompet ini padanya," Monika memberikan dompet itu pada Asri.
"Oke," Asri menerima dompet dan bergegas keluar dari dalam kamar Monika.
***
Ervan sedang asyik menonton acara televisi, sementara Monika sedang serius bermain game di ponselnya. Keduanya sama sama sibuk, meski suami istri mereka terlihat seperti orang asing.
Saat iklan, fokus Ervan kembali pada Monika. Dia mengelus perut Monika pelan sambil tersenyum, tapi Monika langsung menyingkirkan tangan berotot itu.
"Kamu kenapa?" Ervan menatap Monika intens.
"Aku tidak kenapa kenapa,"
"Kamu marah padaku? Apa ada sikapku yang salah padamu?"
"Berhenti bicara! Kamu membuat mood ku semakin memburuk," oceh Monika.
"Jangan membuatku bingung Monika, terus terang saja padaku, kamu marah kenapa?" Desak Ervan. Dia merasa yakin Monika sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Untuk apa kamu masih menyimpan foto mantan pacarmu di dalam dompet itu huh?"
__ADS_1
"Oh, foto itu. Aku lupa belum membuangnya. Aku akan membuangnya sekarang,"
"Tidak perlu, simpan saja untuk kenang kenangan!" Sindir Monika pedas.
"Aku tau kamu cemburu, terimakasih sudah cemburu padaku." Ervan mengukir senyum lebar lalu beranjak pergi menuju kamar.
Tak lama, Ervan kembali. Dia membawa dompetnya dan mengeluarkan foto mantan kekasihnya itu dalam dompet. Dia membakar foto foto itu dan menaruhnya di atas sebuah asbak.
Monika menaruh ponselnya, dia mengalihkan wajahnya kearah samping sambil cemberut. Meski foto itu sudah tidak ada, entah mengapa hatinya masih merasa kesal pada Ervan.
Ervan memeluk Monika dari samping, dia mencium leher, pipi dan kening sang istri.
"Aku mencintaimu, hanya kamu. Berhentilah marah marah, nanti kamu cepat tua," ledek Ervan.
"Biarkan saja, pada akhirnya semua orang akan menua,"
Gemas karena Monika terus bersikap sinis dan angkuh padanya, Ervan menggendong wanita itu dan membawanya masuk kedalam kamar.
"Mas, lepaskan aku!" Teriak Monika. Ervan tak peduli, bahkan sekalipun Monika terus memukul dan mencubit dirinya.
"Mas, aku sedang hamil. Kalau aku jatuh, anakmu akan terluka,"
Ervan menaruh Monika di atas ranjang, dia mengunci pintu dan melepas segala yang dikenakannya. Itulah Ervan, saat sedang marah atau tidak suka dengan sikap Monika, dia akan langsung menghukum wanita itu dengan mengajaknya b*rcinta.
"Mau apa kamu mas?"
"Aku mau menghukum kamu karena sudah bersikap tidak sopan padaku,"
"Hey, kenapa jadi kamu yang marah? Harusnya aku yang marah padamu!"
Ervan merayap seperti cicak di atas tubuh istrinya, dia menatap Monika dengan tatapan tajam, seolah olah dia akan memakan Monika sampai habis tak bersisa.
Bersambung...
__ADS_1